5 Orang yang Dilindungi dari Siksa Kubur, Siapa Saja?

11 Min Read
Foto: Freepik

SIKSA kubur merupakan salah satu perkara gaib yang patut ditakuti oleh setiap muslim. Kehidupan dunia yang kita jalani saat ini bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Setelah kematian, seseorang akan memasuki alam barzakh dan menunggu datangnya hari Kiamat. Di alam tersebut terdapat kenikmatan bagi orang-orang beriman dan terdapat pula fitnah serta siksa bagi orang-orang yang Allah kehendaki.

Karena itu, Rasulullah Muhammad mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari siksa dan fitnah kubur. Seorang muslim tidak seharusnya merasa aman hanya karena masih memiliki kesempatan hidup di dunia. Kematian dapat datang kapan saja, tanpa memandang usia, kedudukan, kesehatan, ataupun kekayaan seseorang.

Namun, di samping adanya peringatan tentang siksa kubur, terdapat pula kabar gembira dalam sejumlah hadis tentang beberapa golongan yang mendapatkan perlindungan dari fitnah atau siksa kubur. Di antaranya adalah orang yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, meninggal karena penyakit perut, meninggal syahid di jalan Allah, meninggal ketika menjaga perbatasan kaum muslimin, serta orang yang menjaga hubungannya dengan Surah Al-Mulk.

Semua keutamaan tersebut menunjukkan luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Namun, seorang muslim tetap tidak boleh bersandar pada satu keutamaan tertentu sambil mengabaikan kewajiban dan amal saleh. Keselamatan seorang hamba pada akhirnya merupakan karunia dan rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang beriman.

BACA JUGA:  Adzab Kubur bagi Seorang Muslim

1. Meninggal pada Hari Jumat

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa Rasulullah Muhammad bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis ini menunjukkan adanya keutamaan bagi seorang muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat. Allah memberikan kepadanya perlindungan dari fitnah kubur sebagai bentuk karunia dan rahmat-Nya.

Hari Jumat sendiri merupakan hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Pada hari tersebut terdapat berbagai keutamaan dan ibadah khusus yang tidak ditemukan pada hari-hari lainnya. Namun, meninggal pada hari Jumat bukanlah sesuatu yang dapat direncanakan atau diusahakan oleh manusia. Tidak seorang pun mengetahui kapan dan di mana ia akan meninggal.

Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh hanya berharap mendapatkan kematian pada waktu tertentu, tetapi lalai mempersiapkan bekal menuju kematian. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan diri agar meninggal dalam keadaan beriman dan mendapatkan husnul khatimah.

Setiap hari merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Setiap waktu adalah peluang untuk bertaubat. Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan masih hidup pada hari berikutnya. Karena itu, hendaknya seorang muslim memperbanyak amal saleh, menjaga shalat, meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan senantiasa memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan terbaik.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

2. Meninggal karena Penyakit Perut

Diriwayatkan dari Abu Ishaq as-Subai’i bahwa Salman bin Shurad berkata kepada Khalid al-Arthafi, “Apakah engkau tidak mendengar bahwa Rasulullah Muhammad bersabda, ‘Barangsiapa meninggal dunia karena penyakit perutnya, ia tidak akan disiksa di dalam kuburnya.’” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Penyakit merupakan salah satu bentuk ujian yang dapat menimpa seorang manusia. Tidak sedikit orang yang ketika sehat merasa kuat, tetapi ketika sakit baru menyadari betapa lemahnya dirinya di hadapan Allah. Karena itu, sakit dapat menjadi sarana bagi seorang mukmin untuk semakin dekat kepada Rabb-nya.

Musibah yang menimpa seorang muslim dapat menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa apabila ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Rasa sakit yang dialami seorang hamba tidaklah sia-sia di sisi Allah. Kesabaran, keridhaan, dan keteguhan iman ketika menghadapi penyakit dapat menjadi jalan datangnya pahala dan rahmat Allah.

Bagi orang yang sedang sakit, hendaknya ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Sakit bukan selalu tanda kemurkaan. Bisa jadi sakit justru menjadi cara Allah membersihkan dosa-dosa hamba-Nya, meninggikan derajatnya, dan mempersiapkannya untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan yang lebih baik.

Tentu saja, seorang muslim tetap diperintahkan untuk berobat dan berusaha mendapatkan kesembuhan. Namun, bersamaan dengan ikhtiar tersebut, ia juga harus memperkuat kesabaran, memperbanyak doa, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

3. Meninggal Syahid di Jalan Allah

Orang yang meninggal syahid di jalan Allah juga mendapatkan keutamaan berupa perlindungan dari fitnah kubur.

Diriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad, dari salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad, bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang mukmin diuji di dalam kubur, kecuali orang yang mati syahid?”

Rasulullah Muhammad menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian.” (HR. an-Nasa’i).

Orang yang menghadapi peperangan di jalan Allah telah menghadapi ujian yang sangat besar. Ia menghadapi rasa takut, bahaya, dan ancaman kematian. Oleh karena itu, terdapat keutamaan khusus yang Allah berikan kepada orang yang benar-benar meninggal dalam keadaan syahid di jalan-Nya.

Keutamaan ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah mengetahui beratnya perjuangan yang dihadapi oleh hamba-Nya. Tidak ada satu pun pengorbanan yang luput dari pengetahuan Allah. Namun, perlu dipahami bahwa perkara syahid bukanlah sesuatu yang boleh diklaim sembarangan. Allah lebih mengetahui keadaan hati, niat, dan hakikat seseorang.

Seorang muslim hendaknya senantiasa memperbaiki niatnya dalam setiap amal. Sebab, nilai sebuah perbuatan di sisi Allah tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari keikhlasan yang ada di dalam hati.

4. Meninggal Saat Menjaga Perbatasan

Diriwayatkan dari Fadhalah bin Ubaid r.a. bahwa Rasulullah Muhammad bersabda, “Setiap orang yang meninggal dunia akan ditutup amalnya, kecuali orang yang menjaga perbatasan di jalan Allah. Sesungguhnya amalnya akan terus dikembangkan baginya hingga hari Kiamat, dan ia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain, Salman al-Farisi r.a. berkata bahwa Rasulullah Muhammad bersabda, “Menjaga perbatasan selama sehari semalam lebih baik daripada berpuasa dan melaksanakan qiyamulail selama sebulan. Jika ia meninggal dunia, amal yang biasa ia lakukan tetap mengalir baginya, rezekinya terus diberikan kepadanya, dan ia aman dari fitnah.” (HR. Muslim).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menjaga perbatasan kaum muslimin di jalan Allah. Ia menjalankan tugas yang penuh risiko demi menjaga keamanan dan melindungi kaum muslimin.

Allah memberikan pahala yang besar kepada hamba yang menjalankan tugas tersebut dengan niat yang benar. Bahkan, dalam hadis disebutkan bahwa amalnya terus dikembangkan hingga hari Kiamat dan ia mendapatkan perlindungan dari fitnah kubur.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas di jalan Allah memiliki nilai yang sangat besar. Tidak ada amal yang benar-benar dilakukan karena Allah yang akan sia-sia.

Pertanyaan Alam Kubur, Sekutu Allah, Sahabat Anshar, Setan, Harapan, maksiat,Maut, Siksa Kubur
Foto: Freepik

5. Menjaga Hubungan dengan Surah Al-Mulk

Di antara amalan yang disebutkan dalam hadis sebagai sebab keselamatan dari siksa kubur adalah menjaga dan membaca Surah Al-Mulk.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa salah seorang sahabat Rasulullah Muhammad pernah mendirikan tendanya di atas sebuah kuburan tanpa mengetahui bahwa tempat tersebut adalah kuburan. Ternyata, ia mendengar seseorang di dalam kubur membaca Surah Al-Mulk hingga selesai. Kemudian sahabat tersebut mendatangi Rasulullah Muhammad dan menceritakan apa yang dilihatnya.

Rasulullah Muhammad bersabda, “Itulah Surah Al-Mulk, pelindung dan penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur.” (HR. at-Tirmidzi).

Surah Al-Mulk juga dikenal sebagai salah satu surah yang memberikan syafaat kepada orang yang menjaganya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Muhammad bersabda, “Sesungguhnya ada satu surah dari Al-Qur’an yang terdiri atas tiga puluh ayat. Surah itu memberikan syafaat kepada seseorang hingga ia diampuni. Surah itu adalah Tabarakalladzi biyadihil mulk.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Hadis-hadis tersebut menjadi dorongan bagi setiap muslim untuk membangun hubungan yang kuat dengan Surah Al-Mulk. Hubungan itu tidak hanya sebatas membacanya sesekali, tetapi membiasakan diri untuk membacanya, menghafalnya, memahami maknanya, serta berusaha mengamalkan kandungannya.

Surah Al-Mulk mengingatkan manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Surah ini mengajarkan bahwa kehidupan dan kematian adalah ujian. “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2).

Karena itu, menjaga Surah Al-Mulk seharusnya juga mendorong seorang muslim untuk memperbaiki amalnya. Membaca Al-Qur’an bukan hanya untuk mendapatkan pahala dari lantunan huruf-hurufnya, tetapi juga untuk menerima petunjuk dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.

BACA JUGA: Keutamaan Menghafal Surat Al-Mulk: Perlindungan dari Siksa Kubur

Persiapkan Diri Sebelum Kematian Datang

Pembahasan tentang orang-orang yang mendapatkan perlindungan dari siksa atau fitnah kubur seharusnya tidak membuat kita hanya terpaku pada keutamaan-keutamaan tertentu. Pesan terbesarnya adalah bahwa kehidupan setelah kematian benar-benar ada dan harus dipersiapkan.

Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua. Kematian juga tidak menunggu seseorang selesai memperbaiki dirinya. Karena itu, selama kesempatan masih diberikan, jangan menunda taubat. Jangan menunda shalat. Jangan menunda membaca Al-Qur’an. Jangan menunda memperbaiki hati dan hubungan dengan Allah.

Seorang muslim hendaknya senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dan siksa kubur. Pada saat yang sama, ia harus berusaha menjalani hidup dengan iman, ketakwaan, amal saleh, dan keikhlasan.

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah dan siksa kubur, mengampuni dosa-dosa kita, memberikan keistiqamahan dalam beriman, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Semoga ketika tiba saatnya meninggalkan dunia ini, kita kembali kepada Allah dalam keadaan Dia ridha kepada kita. Aamiin. []

SUMBER: HUMAYRO

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *