Apa Itu Maut?

6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SETIAP makhluk yang hidup pasti akan mengalami kematian. Tidak ada manusia, sekuat apa pun, sekaya apa pun, atau setinggi apa pun kedudukannya, yang mampu menghindari datangnya maut. Kematian adalah kepastian yang telah Allah tetapkan bagi seluruh makhluk-Nya.

Namun, dalam pandangan Islam, maut bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari perjalanan menuju alam yang kekal. Karena itu, memahami hakikat maut akan membuat seorang mukmin lebih siap menghadapi kehidupan setelah dunia.

Makna Maut dalam Bahasa Arab

Secara bahasa, kata maut adalah lawan dari hayah (kehidupan), sebagaimana gelap adalah lawan terang, dan dingin adalah lawan panas.

Dalam berbagai kamus bahasa Arab klasik dijelaskan bahwa kehidupan dan kematian merupakan dua keadaan yang saling bertolak belakang.

Makna dasar kata maut dalam bahasa Arab adalah diam, tenang, atau berhentinya gerak.

Orang Arab menggunakan kata maut untuk sesuatu yang padam, tidak bergerak, atau tidak lagi memiliki ruh.

BACA JUGA:  Mengapa Anda Harus Baca “Ensiklopedia Kiamat”?

Sebaliknya, kehidupan identik dengan gerakan, pertumbuhan, dan aktivitas.

Dalam Lisan al-‘Arab dijelaskan bahwa sesuatu disebut hidup apabila memiliki kemampuan bergerak sesuai tabiatnya. Tumbuhan dikatakan hidup karena tumbuh dan berkembang. Manusia disebut hidup karena ruh berada di dalam jasadnya sehingga ia mampu berpikir, berbicara, dan beraktivitas.

Kapan Kehidupan Dimulai?

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia yang sempurna dimulai ketika ruh ditiupkan ke dalam janin di dalam kandungan ibunya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sejak saat itulah manusia mulai menjalani kehidupannya sebagai makhluk yang bernyawa.

Ruh menjadi unsur yang menghidupkan jasad. Selama ruh masih berada di dalam tubuh, manusia dapat bergerak, berpikir, merasakan, dan beramal.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Apa Hakikat Maut?

Menurut syariat Islam, maut bukan berarti lenyapnya manusia.

Maut adalah berpisahnya ruh dari jasad.

Tubuh manusia tetap ada, tetapi tidak lagi memiliki kehidupan karena ruh telah dicabut oleh malaikat atas perintah Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah, Malaikat Maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa kematian adalah proses perpindahan yang berlangsung atas ketetapan Allah melalui Malaikat Maut.

Karena itu, manusia sebenarnya tidak musnah ketika mati. Yang terjadi hanyalah perpindahan dari kehidupan dunia menuju alam barzakh.

Maut Adalah Perpindahan, Bukan Kehancuran

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa kematian bukanlah kebinasaan.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menerangkan bahwa ruh tidak ikut hancur ketika seseorang meninggal. Ruh tetap hidup sesuai dengan kehidupan alam barzakh yang Allah kehendaki.

Demikian pula Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kematian adalah perpisahan ruh dengan badan, bukan hilangnya eksistensi manusia. Setelah itu manusia memasuki fase kehidupan baru hingga dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat.

Inilah yang membedakan akidah Islam dengan keyakinan sebagian kelompok yang menganggap kematian sebagai akhir dari segala sesuatu.

Setiap Jiwa Pasti Mengalaminya

Allah berulang kali mengingatkan manusia bahwa tidak seorang pun dapat lari dari kematian.

Allah berfirman,

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang sangat kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ajal telah ditentukan oleh Allah dan tidak dapat dipercepat ataupun ditunda walau sesaat.

Allah berfirman,

“Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Orang Cerdas Adalah yang Siap Menghadapi Maut

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kaum muslimin tidak melupakan kematian.

Beliau bersabda,

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengingat maut bukan bertujuan membuat seseorang putus asa. Sebaliknya, ia menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh gemerlap dunia.

Al-Hasan al-Bashri berkata,

“Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah berlalu, esok yang belum tentu engkau jumpai, dan hari ini, maka beramallah pada hari ini.”

Sementara Umar bin Abdul Aziz pernah menasihati,

“Perbanyaklah mengingat kematian. Jika engkau berada dalam kelapangan, ia akan membuatmu tidak tertipu. Jika engkau berada dalam kesempitan, ia akan membuatmu bersabar.”

Nasihat para ulama salaf ini menunjukkan bahwa mengingat maut justru menjadikan hati lebih hidup dan lebih dekat kepada Allah.

BACA JUGA:  Apa Itu Kiamat Kecil? Saat Kematian Menjadi Gerbang Menuju Akhirat

Maut Adalah Awal Kehidupan yang Sesungguhnya

Banyak orang menganggap kematian sebagai akhir perjalanan. Padahal, dalam Islam, maut hanyalah pintu menuju kehidupan yang lebih panjang dan abadi.

Sesudah maut, manusia akan memasuki alam barzakh. Setelah itu akan datang Hari Kebangkitan, hisab, mizan, shirath, lalu surga atau neraka sebagai tempat tinggal yang kekal.

Karena itu, seorang mukmin tidak memandang kematian sebagai kehancuran, tetapi sebagai saat bertemu dengan balasan atas seluruh amal yang telah dikerjakannya.

Selama napas masih berembus, pintu taubat masih terbuka. Kesempatan memperbaiki diri masih ada. Namun ketika maut datang, seluruh amal terputus dan lembaran kehidupan dunia ditutup untuk selamanya.

Maka, persiapkanlah bekal terbaik sebelum Malaikat Maut datang menjemput. Perbanyaklah amal saleh, jagalah shalat, perkuat tauhid, dan penuhi kehidupan dengan ketaatan. Sebab, setiap langkah yang kita lakukan hari ini akan menentukan bagaimana perjalanan kita setelah maut menghampiri. []

Referensi: Ensiklopedia Kiamat / Penulis: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar / Penerbit Serambi  / Cetakan 1, Mei 2002

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *