Benarkah Orang Tua Lebih Bangga ke Anak yang Kaya daripada Anak yang Miskin?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PERNAH melihat sebuah keluarga yang anak-anaknya sudah dewasa tetapi diperlakukan berbeda oleh orang tua?

Ketika anak yang sukses dan kaya datang ke rumah, orang tua menyambut dengan penuh kebahagiaan. Berbagai keperluannya diperhatikan. Ketika berbicara, pendapatnya lebih didengar. Bahkan terkadang kesalahannya pun lebih mudah dimaafkan.

Sementara ketika anak yang ekonominya pas-pasan datang, sambutannya biasa saja. Bahkan tidak jarang ia justru diminta membantu berbagai kebutuhan keluarga.

Fenomena seperti ini memang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah orang tua benar-benar lebih menyayangi anak yang kaya daripada anak yang miskin?

Jawabannya tidak selalu sesederhana itu.

BACA JUGA: Pengaruh Ambisi dan Masa Lalu Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kekayaan Kadang Membuat Seseorang Lebih Dihargai

Salah satu penyebabnya adalah manusia memang mudah terpengaruh oleh status sosial dan kondisi ekonomi.

Anak yang kaya dianggap lebih berhasil. Ketika datang membawa mobil bagus, pakaian mahal, atau memberikan uang kepada orang tua, muncul perasaan bangga.

Orang tua mungkin bercerita kepada tetangga:

“Anak saya sekarang sudah sukses.”

Tanpa disadari, keberhasilan ekonomi anak kemudian menjadi ukuran kebanggaan orang tua.

Sebaliknya, anak yang hidup sederhana terkadang dianggap belum berhasil. Padahal belum tentu ia malas atau tidak berusaha. Bisa saja penghasilannya kecil karena kondisi pekerjaan, kesempatan, pendidikan, atau berbagai keadaan yang berada di luar kendalinya.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Jangan sampai nilai seorang anak diukur berdasarkan isi rekeningnya.

Anak Kaya Lebih Sering Memberikan Bantuan

Ada alasan lain yang lebih praktis.

Anak yang memiliki banyak uang biasanya memang lebih mampu membantu orang tua.

Ketika orang tua membutuhkan biaya berobat, renovasi rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, atau menghadapi keadaan darurat, anak yang kaya mungkin dapat memberikan bantuan dalam jumlah besar.

Akibatnya, orang tua menjadi lebih sering berinteraksi dengannya.

Lama-kelamaan kedekatan tersebut bisa terlihat seperti kasih sayang yang lebih besar.

Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi adalah intensitas hubungan mereka lebih tinggi karena anak tersebut lebih banyak membantu.

Namun, tetap saja orang tua perlu berhati-hati.

Jangan sampai hubungan dengan anak berubah menjadi hubungan yang hanya didasarkan pada manfaat finansial.

Jangan Sampai Anak Miskin Merasa Tidak Berguna

Ini yang paling berbahaya.

Seorang anak yang hidup sederhana mungkin tidak mampu memberikan uang banyak kepada orang tuanya.

Tetapi ia mungkin selalu datang ketika orang tua sakit.

Ia mungkin membantu membersihkan rumah.

Ia mungkin mengantar orang tua ke rumah sakit.

Ia mungkin menjaga mereka ketika anak-anak yang lain sibuk.

Ia mungkin tidak memberikan uang jutaan rupiah, tetapi memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan doa.

Apakah semua itu tidak berharga?

Tentu sangat berharga.

Karena itu, orang tua perlu melihat pengorbanan anak secara lebih luas.

Tidak semua bentuk bakti dapat dihitung dengan uang.

Dalam Islam, Kekayaan Bukan Ukuran Kemuliaan

Islam tidak mengajarkan bahwa seseorang menjadi lebih mulia hanya karena memiliki lebih banyak harta.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Artinya, kekayaan bukan ukuran utama kemuliaan seseorang.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi buruk akhlaknya.

Sebaliknya, seseorang bisa hidup sederhana tetapi sangat bertakwa, jujur, dan berbakti kepada orang tua.

Karena itu, orang tua seharusnya tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran untuk menentukan siapa anak yang paling berharga.

Jangan Membandingkan Anak Satu dengan yang Lain

Kalimat sederhana seperti:

“Lihat kakakmu, sudah punya rumah.”

“Adikmu sudah punya mobil.”

“Kamu kapan bisa sukses seperti saudaramu?”

mungkin dianggap sebagai motivasi.

Namun, jika terus diucapkan, kalimat tersebut justru dapat melukai hati anak.

Setiap anak memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Ada yang cepat mendapatkan pekerjaan.

Ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ada yang sukses dalam bisnis.

Ada yang memilih hidup sederhana.

Ada yang memiliki penghasilan besar.

Ada yang penghasilannya pas-pasan tetapi hidupnya tenang.

Tugas orang tua bukan membuat anak-anak berlomba menjadi paling kaya.

Tugas orang tua adalah membantu anak-anak menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab.

Bisa Jadi Anak yang Kaya Justru Sedang Diuji

Orang tua juga perlu memahami bahwa kekayaan bukan selalu tanda keberhasilan seseorang di hadapan Allah.

Harta adalah nikmat sekaligus ujian.

Anak yang memiliki banyak uang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap hartanya.

Apakah hartanya diperoleh dengan cara halal?

Apakah ia mengeluarkan zakat?

Apakah ia membantu orang yang membutuhkan?

Apakah kekayaannya membuatnya sombong?

Apakah ia masih peduli kepada orang tua dan saudaranya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat berapa banyak hartanya.

https://s.shopee.co.id/5VPIZ41WVk

Anak Miskin Jangan Dipandang sebagai Beban

Ada orang tua yang secara tidak sadar menganggap anak yang miskin sebagai beban.

Setiap kali anak tersebut datang, yang dibicarakan adalah kekurangannya.

“Kerja apa sekarang?”

“Gajinya berapa?”

“Kenapa belum punya rumah?”

“Kenapa hidupmu masih begitu?”

Padahal mungkin anak tersebut sudah bekerja keras.

Kondisi ekonominya belum membaik bukan berarti ia tidak berusaha.

Orang tua seharusnya menjadi tempat anak mendapatkan semangat, bukan tempat ia merasa semakin rendah diri.

Kalau memang mampu, bantulah.

Kalau tidak mampu membantu secara materi, berikan doa dan dukungan.

Terkadang satu kalimat dari orang tua bisa menjadi tenaga bagi seorang anak untuk kembali bangkit.

Jangan Hanya Mendekati Anak Ketika Membutuhkan Uang

Ada satu hal yang juga perlu direnungkan.

Jika orang tua hanya mencari anak ketika membutuhkan uang, anak bisa merasa dirinya dihargai bukan karena dirinya, tetapi karena hartanya.

Hari ini anak memberikan uang, ia dipuji.

Ketika tidak punya uang, ia tidak dianggap.

Jika pola seperti ini berlangsung bertahun-tahun, hubungan keluarga dapat menjadi sangat rapuh.

Anak akhirnya berpikir:

“Kalau saya tidak punya uang, apakah saya tetap dianggap anak?”

Pertanyaan semacam itu sangat menyakitkan.

Kasih sayang orang tua seharusnya tidak bergantung pada kemampuan finansial anak.

Bagaimana Jika Orang Tua Memang Sudah Terlanjur Membeda-bedakan?

Orang tua masih bisa memperbaikinya.

Mulailah dengan menyadari bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jangan hanya memuji anak yang sukses secara finansial.

Hargai juga anak yang bekerja keras meskipun hasilnya belum besar.

Berikan perhatian kepada anak yang jarang datang karena kesibukannya.

Tanyakan kabar anak yang sedang mengalami kesulitan.

Dan yang paling penting, jangan menjadikan satu anak sebagai kebanggaan sementara anak lainnya dianggap sebagai kegagalan.

Orang tua mungkin tidak menyadari bahwa perlakuan kecil yang berbeda bisa meninggalkan luka yang sangat panjang dalam hati anak.

Anak Kaya Jangan Menjadi Sombong

Nasihat ini bukan hanya untuk orang tua.

Anak yang memiliki harta lebih banyak juga harus menjaga diri.

Jangan karena memiliki uang kemudian merasa paling berjasa kepada keluarga.

Jangan menghina saudara yang belum sukses.

Jangan mengatakan:

“Aku yang paling banyak membantu orang tua.”

Bisa jadi saudaramu tidak memiliki uang sebanyak kamu, tetapi ia memberikan sesuatu yang tidak bisa kamu berikan: waktu, tenaga, perhatian, atau pengorbanan.

Keluarga bukan tempat untuk menghitung siapa yang paling banyak menyumbang.

Pada Akhirnya, Anak Bukanlah Tabungan Hari Tua

Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua melihat anak sebagai jaminan masa depan.

Anak yang kaya dianggap akan menjamin kehidupan mereka.

Anak yang miskin dianggap tidak memiliki masa depan.

Padahal rezeki setiap manusia berada di tangan Allah.

Anak memang memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua, tetapi kasih sayang orang tua tidak seharusnya diberikan berdasarkan seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh dari anak tersebut.

Didiklah anak agar berbakti bukan agar menjadi mesin pemberi uang.

Dan cintailah anak karena ia adalah amanah dari Allah, bukan karena ia memiliki rekening yang besar.

Mengapa ada orang tua yang terlihat lebih menyayangi anak yang kaya daripada anak yang miskin?

Salah satu penyebabnya adalah manusia terkadang mudah menghubungkan kekayaan dengan keberhasilan, kebanggaan, dan kemampuan membantu keluarga.

Namun, kekayaan tidak seharusnya menjadi ukuran kasih sayang orang tua. Anak yang kaya tetaplah anak. Anak yang miskin juga tetaplah anak.

BACA JUGA: Setelah Menjadi Istri, Dahulukan Urusan Suami atau Orang Tua?

Yang satu mungkin mampu memberikan uang lebih banyak, sedangkan yang lain mungkin hanya mampu memberikan tenaga dan perhatian.

Keduanya tetap memiliki nilai di hadapan orang tua.

Bahkan di hadapan Allah, ukuran kemuliaan bukanlah mobil yang dikendarai, rumah yang dimiliki, atau saldo rekening, tetapi ketakwaan dan amal seseorang.

Karena itu, jangan sampai seorang anak merasa dirinya tidak dicintai hanya karena kehidupannya belum mapan.

Dan jangan sampai orang tua baru bangga kepada anak ketika anak tersebut sudah kaya.

Sebab, ketika kita tua nanti, yang paling kita butuhkan mungkin bukan anak yang paling banyak memberikan uang.

Tetapi anak yang masih mau datang, duduk di samping kita, menggenggam tangan kita, dan berkata: “Ayah, Ibu, bagaimana kabarnya hari ini?” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *