Kenapa Ada Orang yang Nggak Pikun padahal Sudah Berusia Lanjut?

6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

KITA mungkin pernah bertemu seseorang yang usianya sudah 70-an, 80-an, bahkan lebih, tetapi masih lancar berbicara, ingat nama orang, bisa berhitung, membaca, berdiskusi, dan mengikuti perkembangan zaman.

Sementara itu, ada orang yang usianya belum terlalu lanjut tetapi sudah sering lupa, sulit berkonsentrasi, atau kesulitan mengingat sesuatu.

Lalu, apa yang membuat kemampuan otak setiap orang berbeda ketika memasuki usia lanjut?

Salah satu jawabannya adalah sesuatu yang disebut cognitive reserve atau cadangan kognitif.

1. Otak Juga Perlu “Dilindungi” dengan Aktivitas

Cognitive reserve secara sederhana dapat dipahami sebagai bekal atau sumber daya mental yang terbentuk sepanjang kehidupan melalui pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan aktivitas yang merangsang otak.

Artinya, kemampuan otak tidak hanya dipengaruhi oleh usia.

Orang yang sepanjang hidupnya terbiasa belajar, membaca, berdiskusi, memecahkan masalah, bekerja dengan berbagai tantangan, dan melakukan aktivitas yang melibatkan pikiran, dapat memiliki cadangan kognitif yang lebih baik.

Penelitian dari International School for Advanced Studies (SISSA) di Italia menemukan bahwa orang lanjut usia dengan cognitive reserve yang lebih tinggi dapat menunjukkan kemampuan berbahasa yang sebanding dengan orang yang lebih muda dalam tugas tertentu.

BACA JUGA: Wah, Kicau Burung Ternyata Bisa Redakan Stres Hanya dalam 10 Menit!

Ini menarik.

Ternyata, usia bertambah tidak selalu berarti kemampuan berpikir langsung menurun drastis.

2. Jangan Berhenti Belajar Setelah Tua

Salah satu pesan penting dari penelitian tersebut adalah bahwa aktivitas intelektual sepanjang kehidupan berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih baik pada usia lanjut.

Karena itu, jangan berpikir bahwa belajar hanya untuk anak sekolah atau orang muda.

Orang yang sudah pensiun pun tetap bisa membaca buku, belajar bahasa, mempelajari Al-Qur’an, berdiskusi, menulis, menghafal, mengerjakan teka-teki, mempelajari keterampilan baru, atau sekadar mencoba memahami sesuatu yang belum pernah ia ketahui.

Otak senang digunakan.

Semakin sering diajak berpikir dan belajar, semakin banyak pengalaman mental yang dimiliki.

Namun, penting dicatat bahwa penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa aktivitas tertentu pasti mencegah pikun atau demensia.

https://s.shopee.co.id/1VvbPEdinu

3. Emosi Ternyata Juga Berperan

Penelitian lain dari tim yang sama mengamati kemampuan working memory, yaitu kemampuan untuk menyimpan dan menggunakan informasi dalam waktu singkat.

Menariknya, faktor emosi juga ikut diperhatikan.

Dalam penelitian tersebut, peserta diperlihatkan wajah dengan ekspresi bahagia, marah, dan netral. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi emosional tertentu dapat memengaruhi kecepatan dan ketepatan seseorang dalam menyelesaikan tugas.

Pada kondisi yang melibatkan penilaian ekspresi wajah, wajah bahagia berkaitan dengan respons yang lebih cepat dan akurat dibandingkan wajah marah.

Ini bukan berarti orang yang selalu bahagia pasti tidak akan pikun.

Tetapi penelitian tersebut menunjukkan bahwa emosi dan cara seseorang memproses informasi emosional juga berkaitan dengan kinerja kognitif.

4. Usia Bukan Satu-satunya Faktor

Inilah bagian yang sering kita lupakan.

Menua itu pasti. Tetapi cara kemampuan kognitif berubah tidak sama pada setiap orang.

Ada orang yang tetap tajam secara mental di usia lanjut.

Ada pula yang mengalami penurunan kemampuan berpikir lebih cepat.

Pendidikan, pengalaman hidup, aktivitas mental, kesehatan, lingkungan sosial, dan berbagai faktor lainnya dapat berhubungan dengan bagaimana seseorang menjalani proses penuaan.

Karena itu, usia 70 tahun tidak otomatis berarti seseorang akan pikun.

Begitu juga usia 40 atau 50 tahun bukan jaminan seseorang bebas dari gangguan kognitif.

5. Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kalau ingin menjaga kemampuan otak selama mungkin, jangan biarkan kehidupan hanya berisi rutinitas yang sama tanpa stimulasi mental.

Teruslah belajar.

Rajin membaca.

Berdiskusi dengan orang lain.

Pelajari hal baru.

Tetap aktif secara fisik dan sosial.

Kelola emosi dengan baik.

Dan tentu saja, jangan mengabaikan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Namun, semua itu bukanlah jaminan bahwa seseorang pasti tidak akan mengalami pikun atau demensia.

Sebab penelitian sendiri masih membutuhkan studi lebih lanjut untuk mengetahui apakah cognitive reserve benar-benar dapat mengubah perjalanan penurunan kognitif, atau hanya berkaitan dengannya.

Umar Tilmisani, Pikun
Olah Foto dari: risalah.id

Pikun atau Tidak, Tetap Kehendak Allah

Pada akhirnya, kita boleh berusaha menjaga kesehatan tubuh dan otak.

Kita boleh membaca, belajar, berolahraga, menjaga pola makan, memperbanyak aktivitas mental, dan menjaga hubungan sosial.

Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa manusia hanya bisa berikhtiar.

Sehat adalah karunia Allah.

BACA JUGA: Rahasia Ilmiah di Balik Umur Panjang hingga 100 Tahun Lebih

Kuat adalah karunia Allah.

Kemampuan mengingat adalah karunia Allah.

Dan ketika seseorang mulai mengalami penurunan daya ingat di usia lanjut, itu pun terjadi dalam ilmu dan kehendak Allah.

Allah berfirman:

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian semula. Maka apakah mereka tidak mengerti?” (QS. Yasin: 68)

Maka, jangan sombong ketika ingatan masih kuat, dan jangan berputus asa ketika mulai banyak lupa.

Kita berusaha menjaga amanah tubuh ini sebaik-baiknya.

Selebihnya, kita serahkan kepada Allah.

Pikun atau tidak, panjang atau pendek umur kita, kuat atau lemahnya ingatan kita—semuanya berada dalam kehendak Allah SWT.

Yang terpenting adalah, selama Allah masih memberikan kita kemampuan untuk berpikir, gunakanlah untuk mengenal-Nya, mengingat-Nya, belajar kebaikan, dan memperbanyak amal saleh. []

RUJUKAN: EARTH.COM

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *