KETIKA kemarau panjang terjadi, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memohon kepada Allah agar diberikan hujan. Salah satu bentuk ibadah yang dikenal dalam fikih adalah salat istisqa. Namun persoalannya, tidak semua orang selalu dapat menghadiri pelaksanaan salat istisqa bersama masyarakat. Ada yang sedang sakit, bekerja, memiliki keperluan tertentu, atau berada jauh dari lokasi pelaksanaan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah salat istisqa boleh dilakukan sendiri di rumah?
Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan antara salat istisqa sebagai ibadah yang dilakukan secara bersama-sama dan doa meminta hujan secara pribadi. Nabi Muhammad ﷺ pernah melaksanakan istisqa bersama masyarakat. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau keluar menuju tempat pelaksanaan istisqa, menghadap kiblat, berdoa kepada Allah, kemudian melaksanakan salat dua rakaat. Praktik tersebut menunjukkan adanya unsur kebersamaan dalam pelaksanaan istisqa yang dicontohkan Nabi ﷺ.
BACA JUGA: Membaca Biografi: Ritual Rahasia Para Pemenang
Lebih Utama Dilakukan Bersama
Dalam pembahasan fikih, pelaksanaan salat istisqa secara berjamaah memiliki dasar yang kuat dari sunnah. Masyarakat berkumpul, kemudian bersama-sama memohon kepada Allah agar hujan diturunkan. Karena itu, apabila suatu daerah mengadakan salat istisqa secara bersama-sama dan seseorang mampu mengikutinya, pelaksanaan secara berjamaah merupakan bentuk yang sesuai dengan praktik yang dicontohkan Nabi ﷺ.
Ada makna sosial yang cukup kuat di baliknya. Kekeringan bukan hanya persoalan individu. Ketika hujan tidak turun, petani mengalami kesulitan, sumber air berkurang, ternak terdampak, tanaman rusak, dan masyarakat secara keseluruhan merasakan akibatnya. Karena itu, berkumpul untuk berdoa menunjukkan bahwa persoalan tersebut dihadapi bersama.
Bagaimana Jika Tidak Bisa Hadir?
Tidak dapat mengikuti salat istisqa berjamaah bukan berarti seseorang tidak boleh berdoa meminta hujan. Doa kepada Allah tidak terbatas pada tempat atau acara tertentu. Seseorang yang berada di rumah tetap dapat mengangkat tangan dan memohon agar Allah menurunkan hujan yang bermanfaat.
Ia juga dapat memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, melakukan amal saleh, dan berdoa untuk keselamatan masyarakat. Bahkan ketika tidak ada acara istisqa resmi, doa meminta hujan tetap merupakan sesuatu yang dibolehkan.
Mengenai melakukan salat istisqa secara individual di rumah, terdapat rincian dalam pembahasan ulama. Sebagian ulama membahas kebolehannya bagi orang yang tidak sempat mengikuti pelaksanaan bersama. Syekh Ibnu Utsaimin, misalnya, menjelaskan bahwa seseorang yang tertinggal dari salat istisqa tidak mengapa melakukan salat dan berdoa, meskipun beliau juga menyebutkan bahwa tidak ada sunnah khusus dari Nabi ﷺ mengenai pengulangan atau qadha salat istisqa secara personal.
Jangan Sampai Persoalan Fikih Menghilangkan Doa
Perbedaan pendapat dalam persoalan teknis ibadah seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan semangat untuk berdoa. Jika tidak dapat menghadiri salat istisqa berjamaah, seseorang tetap memiliki banyak jalan untuk mendekat kepada Allah. Ia dapat memperbanyak istighfar, memohon ampun, bersedekah, dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Hal ini juga menunjukkan bahwa istisqa bukan sekadar sebuah acara. Inti dari istisqa adalah kebutuhan manusia kepada Allah. Salat berjamaah merupakan salah satu bentuk yang dicontohkan Nabi ﷺ, sedangkan doa kepada Allah dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.
BACA JUGA: Wudhu Pakai Air Hujan, Boleh Ga Sih?
Doa dan Ikhtiar Tetap Harus Berjalan
Memohon hujan dari rumah juga tidak berarti seseorang boleh mengabaikan usaha nyata. Ketika kekeringan terjadi, masyarakat tetap perlu menghemat air, menjaga sumber mata air, memperbaiki saluran irigasi, melakukan penghijauan, dan menggunakan teknologi pengelolaan air. Doa merupakan bentuk ketergantungan kepada Allah, sedangkan ikhtiar merupakan bentuk tanggung jawab manusia.
Jadi, jika ditanya apakah boleh melaksanakan salat istisqa di rumah masing-masing, persoalannya memiliki rincian fikih. Bentuk yang paling jelas dicontohkan Nabi ﷺ adalah melaksanakan istisqa secara bersama-sama. Namun orang yang tidak dapat mengikutinya tetap boleh berdoa meminta hujan kepada Allah dari rumah. Bahkan memperbanyak istighfar dan amal saleh tetap dianjurkan.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar di mana seseorang berdoa, tetapi kepada siapa ia meminta. Hujan bukan berada dalam kekuasaan manusia. Ia adalah nikmat Allah yang turun dengan kehendak-Nya. Manusia hanya diperintahkan untuk berdoa, berikhtiar, memperbaiki diri, dan bertawakal. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

