PERNAH dengar kalimat seperti ini?
“Kalau istri banyak belanja, rezeki suami malah makin lancar.”
Katanya, uang yang keluar akan kembali dengan jumlah yang lebih besar.
Karena rezeki suami bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Tapi, benarkah Islam mengajarkan seperti itu?
Jawabannya perlu diluruskan.
Islam memang mengajarkan untuk berinfak dan menafkahi keluarga.
Namun, tidak ada dasar yang menunjukkan bahwa perilaku boros seorang istri otomatis membuat rezeki suami semakin lancar.
BACA JUGA:Tiba-Tiba Punya Uang, Bayar Utang Dulu atau Umrah Dulu Biar Rezeki Nambah?
Rezeki Memang Datang dari Allah
Dalam Islam, rezeki pada dasarnya berasal dari Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(QS. Hud: 6)
Karena itu, rezeki tidak bisa dihitung hanya dari banyaknya uang yang dibelanjakan.
Rezeki juga bukan berarti semakin banyak pengeluaran, semakin besar pemasukan.
Ada banyak bentuk rezeki.
Kesehatan.
Ketenangan.
Keluarga yang harmonis.
Pekerjaan.
Ilmu.
Dan tentu saja harta.
Boros dan Dermawan Itu Berbeda
Ini bagian yang penting.
Boros tidak sama dengan dermawan.
Orang yang dermawan mengeluarkan hartanya untuk sesuatu yang baik.
Misalnya membantu orang yang membutuhkan.
Memberikan nafkah.
Bersedekah.
Atau memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara boros berarti menggunakan harta secara berlebihan dan tidak semestinya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan.”(QS. Al-Isra: 27)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa Islam tidak menganjurkan pemborosan.
Jadi, membeli sesuatu secara berlebihan bukanlah amalan yang otomatis mendatangkan keberkahan.
Nafkah untuk Keluarga Justru Bernilai Ibadah
Meski begitu, bukan berarti seorang suami harus pelit kepada keluarganya.
Justru Islam memberikan keutamaan besar terhadap nafkah keluarga.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pengeluaran seseorang untuk keluarganya, jika diniatkan karena Allah, dapat menjadi sedekah.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa harta yang dikeluarkan untuk keluarga termasuk pengeluaran yang memiliki keutamaan besar.
Artinya, membahagiakan keluarga dengan harta yang halal bukan sesuatu yang salah.
Tetapi tetap harus ada batasnya.
Bagaimana dengan Istri yang Suka Belanja?
Istri tentu memiliki kebutuhan.
Ada kebutuhan rumah.
Pakaian.
Makanan.
Perawatan diri.
Bahkan sesekali membeli sesuatu yang disukai.
Semua itu tidak otomatis disebut boros.
Masalah muncul ketika pengeluaran sudah tidak terkendali.
Misalnya membeli barang yang tidak dibutuhkan.
Berutang demi gaya hidup.
Menghabiskan uang belanja tanpa mempertimbangkan kebutuhan keluarga.
Atau menggunakan uang bersama tanpa komunikasi dengan pasangan.
Di sinilah pentingnya membedakan antara memenuhi kebutuhan dan mengikuti keinginan tanpa batas.
Rezeki Bisa Bertambah, Tapi Bukan Karena Pemborosan
Memang ada ajaran tentang keutamaan infak dan sedekah.
Seseorang dianjurkan mengeluarkan sebagian hartanya untuk kebaikan.
Namun, hal tersebut berbeda dengan menghamburkan uang.
Sedekah memiliki tujuan.
Ada penerima manfaat.
Ada keikhlasan.
Sedangkan boros hanya berarti mengeluarkan harta secara berlebihan.
Jadi, jangan menggunakan konsep “rezeki akan kembali” untuk membenarkan kebiasaan belanja yang tidak terkendali.
Rumah Tangga Butuh Kerja Sama
Keuangan rumah tangga sebaiknya dibicarakan bersama.
Suami dan istri dapat membuat anggaran.
Pisahkan kebutuhan pokok.
Tabungan.
Dana darurat.
Sedekah.
Dan kebutuhan pribadi.
Dengan begitu, uang tidak hanya habis untuk memenuhi keinginan sesaat.
Justru pengelolaan yang baik dapat membantu keluarga mencapai tujuan jangka panjang.
Misalnya membeli rumah.
Membiayai pendidikan anak.
Atau mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Boleh Menikmati Rezeki, Jangan Berlebihan
Islam tidak melarang seseorang menikmati rezekinya.
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)
Pesannya sederhana.
Menikmati rezeki boleh.
Membahagiakan keluarga boleh.
Membeli sesuatu yang disukai juga boleh.
Tetapi semuanya tetap perlu batas.
Karena keberkahan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang masuk.
Tetapi juga tentang bagaimana uang tersebut digunakan.
BACA JUGA: Kalau Rezeki Sudah Dijamin, Mengapa Masih Banyak Orang Kelaparan?
Kesimpulan
Jadi, benarkah istri boros bisa memperlancar rezeki suami?
Tidak ada dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa borosnya seorang istri secara otomatis membuat rezeki suami semakin lancar.
Islam justru mengajarkan keseimbangan.
Keluarga boleh menikmati harta.
Suami dianjurkan menafkahi keluarganya.
Istri boleh memenuhi kebutuhannya.
Keduanya juga dianjurkan bersedekah dan berbagi.
Tetapi pemborosan bukanlah jalan yang diajarkan Islam untuk mendapatkan keberkahan.
Bukan seberapa banyak uang yang dihabiskan, tetapi seberapa baik harta digunakan.
Karena rezeki yang berkah bukan sekadar banyak.
Tetapi cukup, halal, bermanfaat, dan membawa kebaikan bagi keluarga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

