DI Zaman ini, in this economy …
Kita sering menjaga tubuh.
Ketika demam, kita mencari obat.
Ketika sakit gigi, kita pergi ke dokter.
Ketika tekanan darah meningkat, kita mulai memperhatikan makanan.
Tetapi bagaimana dengan pikiran?
Bagaimana dengan hati yang terus gelisah?
Bagaimana dengan seseorang yang setiap malam sulit tidur karena terlalu banyak memikirkan masalah?
Sering kali, kesehatan mental justru menjadi bagian yang paling terlambat kita perhatikan.
Kita mudah mengatakan, “Itu hanya pikiran.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
“Kurang bersyukur.”
Padahal tidak semua persoalan selesai dengan kalimat sederhana.
BACA JUGA: Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?
Ada orang yang terlihat baik-baik saja.
Tetapi di dalam dirinya sedang berjuang.
Ia tetap bekerja.
Tetap tersenyum.
Tetap menjalankan aktivitas.
Namun pikirannya tidak pernah benar-benar beristirahat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan.
Artinya, sehat bukan hanya ketika tubuh bebas dari penyakit.
Kesehatan juga mencakup kondisi mental dan kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

Para ahli psikologi juga menjelaskan bahwa stres yang berlangsung lama dapat memengaruhi tidur, konsentrasi, suasana hati, dan kualitas hidup.
Karena itu, kesehatan mental bukan persoalan yang boleh dianggap sepele.
Tubuh dan pikiran saling berkaitan.
Ketika pikiran terus berada dalam tekanan, tubuh pun bisa ikut merasakan dampaknya.
Tidur terganggu.
Tubuh mudah lelah.
Konsentrasi menurun.
Nafsu makan berubah.
Jantung terasa berdebar.
Badan terasa tidak nyaman.
Bukan berarti setiap keluhan fisik pasti disebabkan oleh masalah psikologis.
Tetapi kita perlu memahami bahwa kondisi mental memang dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Lalu bagaimana Islam memandang persoalan ini?
Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan dirinya sendiri.
Tubuh adalah amanah.
Jiwa juga perlu dijaga.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini memberikan pengingat bahwa manusia bukan hanya membutuhkan kesehatan fisik.
Ada kebutuhan spiritual.
Ada kebutuhan untuk merasa dekat dengan Allah.
Ada kebutuhan untuk memiliki tempat bersandar ketika kehidupan terasa berat.
Namun ketenangan spiritual tidak berarti kita mengabaikan ikhtiar lain.
Ketika sakit, kita berobat.
Ketika pikiran terasa berat, kita dapat mencari bantuan.
Salah satunya melalui konseling.
Konseling memberikan ruang untuk bercerita.
Tanpa harus takut dihakimi.
Seseorang dapat membicarakan kecemasan, konflik keluarga, masalah pekerjaan, tekanan hidup, kehilangan, maupun persoalan pribadi lainnya.
Dengan pendampingan yang tepat, seseorang dapat belajar memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Mengenali pikiran yang tidak sehat.
Mengelola emosi.
Dan menemukan langkah yang lebih realistis untuk menghadapi masalah.
Mungkin kita tidak membutuhkan nasihat panjang.
Mungkin kita hanya membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.
Ruang untuk bercerita.
Ruang untuk didengarkan.
Ruang untuk memahami kembali apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.
Jika akhir-akhir ini pikiran terasa penuh, tidur mulai terganggu, atau ada persoalan yang terus berputar di kepala, tidak ada salahnya mencoba berbicara dengan konselor.
Tidak perlu menunggu sampai semuanya menjadi berat.
Tidak perlu menunggu sampai benar-benar jatuh.
Pelan-pelan saja.
Datang ketika sudah siap.
Ceritakan apa yang memang ingin diceritakan.
Karena terkadang, langkah pertama menuju keadaan yang lebih baik adalah berani mengatakan, “Saya ingin memahami diri saya lebih baik.”
Selain konseling, bagi seorang Muslim, ruqyah syar’iyyah juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual.
Ruqyah dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan doa yang sesuai tuntunan syariat.
Namun ruqyah sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan pemeriksaan medis atau bantuan profesional ketika memang dibutuhkan.
Keduanya dapat ditempatkan secara proporsional.
Ikhtiar lahir.
Ikhtiar batin.
Keduanya berjalan bersama.
Ada kalanya seseorang membutuhkan dokter.
Ada kalanya membutuhkan psikolog atau konselor.
Ada pula yang merasa terbantu dengan penguatan spiritual melalui doa dan ruqyah syar’iyyah.
Yang terpenting adalah tidak tergesa-gesa memberikan label.
Tidak semua kecemasan adalah gangguan jin.
Tidak semua kesedihan adalah kurang iman.

Dan tidak semua masalah psikologis cukup diselesaikan dengan nasihat.
Kita perlu memahami manusia secara utuh.
Tubuhnya.
Pikirannya.
Perasaannya.
Dan sisi spiritualnya.
Maka jangan menunggu sampai benar-benar jatuh untuk mulai menjaga kesehatan mental.
Belajar mengenali diri.
Beristirahat ketika lelah.
Berbicara ketika beban terasa berat.
Berdoa ketika hati membutuhkan ketenangan.
Dan mencari bantuan ketika masalah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Jika membutuhkan teman untuk bercerita dan ruang yang aman untuk memahami apa yang sedang dirasakan, konseling bisa menjadi salah satu bentuk ikhtiar.
Tidak harus terburu-buru.
Tidak harus merasa malu.
Cukup mulai dari satu percakapan.
Karena setiap perjalanan untuk menjadi lebih baik selalu dimulai dari satu langkah kecil.
Tubuh membutuhkan perawatan.
Pikiran membutuhkan perhatian.
Dan hati membutuhkan kedekatan dengan Allah.
Tubuh sehat, hati tenang.
Keduanya adalah nikmat.
Dan keduanya layak kita jaga. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


