Kortisol Tinggi, Apa yang Terjadi?

5 Min Read
Foto: Freepik

PERNAH merasa tubuh seperti sedang memberi kode?

Rahang sering mengatup tanpa sadar.
Malam-malam terbangun dan sulit tidur lagi.
Perut makin susah dirampingkan.
Wajah terlihat sembap.
Bahkan gairah seksual ikut menurun.

Lalu seseorang berkata, “Itu kortisol kamu tinggi!”

Benarkah?

Belum tentu.

Kortisol memang sering disebut sebagai hormon stres. Hormon ini dibuat oleh kelenjar adrenal dan punya banyak fungsi penting, termasuk membantu mengatur gula darah, tekanan darah, respons tubuh terhadap stres, serta siklus tidur dan bangun.

Masalahnya, jangan sampai semua keluhan tubuh langsung dituduhkan kepada satu hormon.

BACA JUGA:  Ciri Tubuh Lelaki yang Rentan Terkena Diabetes

Rahang Sering Mengatup

Ketika sedang stres, sebagian orang tanpa sadar mengatupkan atau menggesekkan gigi, termasuk saat tidur.

Kebiasaan ini disebut bruxism.

Stres dan kecemasan dapat menjadi pemicunya, meskipun bruxism juga dapat berkaitan dengan gangguan tidur, obat-obatan tertentu, dan faktor lainnya.

Jadi kalau bangun tidur rahang terasa pegal, kepala sakit, atau gigi terasa sensitif, jangan cuma berkata, “Wah, kortisol!”

Bisa jadi rahang Anda memang sedang bekerja lembur saat Anda tidur.

Terbangun Pukul 3 Pagi

Ini juga sering dikaitkan dengan kortisol.

Memang kortisol memiliki pola harian. Kadarnya biasanya lebih rendah pada malam hari dan meningkat menjelang pagi untuk membantu tubuh bersiap bangun.

Tetapi terbangun pukul 3 pagi bukan tanda khusus bahwa kortisol sedang tinggi.

Stres, kecemasan, kebiasaan tidur, konsumsi kafein, lingkungan tidur, hingga berbagai gangguan kesehatan bisa menyebabkan seseorang terbangun di tengah malam.

https://s.shopee.co.id/40aPuqbkTl

Jadi jangan setiap melihat angka 03.00 di layar ponsel langsung panik.

“Waduh, kortisol!”

Santai dulu.

Lemak Perut Susah Hilang

Kortisol memang berkaitan dengan metabolisme dan distribusi lemak. Pada kondisi medis tertentu dengan kelebihan kortisol kronis, seperti sindrom Cushing, berat badan dapat meningkat terutama di bagian tubuh dan wajah.

Tetapi perut yang susah mengecil juga bisa disebabkan banyak hal.

Asupan kalori berlebihan.
Kurang aktivitas fisik.
Kurang tidur.
Pola makan.
Usia.
Genetik.

Jadi jangan buru-buru membeli produk “penurun kortisol” hanya karena celana mulai terasa sempit.

Wajah Terlihat Sembap

Wajah yang tampak lebih bulat atau sembap juga bukan bukti tunggal kortisol tinggi.

Pada kelebihan kortisol kronis akibat sindrom Cushing, wajah memang dapat menjadi lebih bulat dan terjadi penumpukan lemak pada bagian tubuh tertentu. Namun kondisi tersebut merupakan penyakit medis dan biasanya disertai tanda lain.

Kalau wajah sembap sesekali setelah makan asin, kurang tidur, atau menangis semalaman, tentu ceritanya berbeda.

Libido Menurun

Stres berkepanjangan dapat memengaruhi kehidupan seksual. Cleveland Clinic mencatat stres dapat berkaitan dengan gangguan tidur, ketegangan otot, kesulitan seksual, dan penurunan gairah seksual.

Kelebihan kortisol yang berlangsung lama pada kondisi seperti sindrom Cushing juga dapat menyebabkan penurunan libido pada laki-laki, bahkan masalah ereksi.

Tetapi lagi-lagi, penyebab libido turun sangat banyak.

Jangan langsung menyalahkan satu hormon.

Lalu Harus Mulai dari Mana?

Kalau memang tubuh terasa terus-menerus berada dalam kondisi stres, langkah pertama tidak harus sesuatu yang mahal.

Mulai dari hal yang membosankan, tetapi justru penting.

Tidur yang cukup.

Usahakan jadwal tidur lebih teratur. Kurangi kafein, terutama menjelang malam. Bergerak secara rutin. Berolahraga. Makan dengan pola yang seimbang. Berikan tubuh waktu untuk beristirahat.

Dan yang tidak kalah penting: kelola sumber stresnya.

Karena percuma membeli segala macam suplemen kalau setiap malam masih membawa pekerjaan ke tempat tidur.

BACA JUGA:  Ciri-ciri Tubuh yang Tidak Sehat di Usia 40 Tahun

Kalau keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau muncul beberapa tanda khas seperti kenaikan berat badan yang cepat di bagian tubuh dan wajah, kelemahan otot, mudah memar, stretch mark berwarna merah keunguan, tekanan darah tinggi, atau gangguan seksual, sebaiknya periksa ke dokter. Gejala-gejala tersebut dapat memerlukan evaluasi medis untuk mengetahui apakah memang ada gangguan kadar kortisol atau kondisi lain.

Jadi, kortisol bukan musuh.

Kita membutuhkannya.

Yang menjadi masalah adalah ketika keseimbangan hormon terganggu atau tubuh terus berada dalam tekanan.

Dan sebelum menyalahkan hormon, mungkin ada pertanyaan yang lebih sederhana:

Sudah cukup tidur belum?

Sudah bergerak?

Sudah makan dengan baik?

Atau jangan-jangan tubuh sudah minta istirahat sejak lama, tetapi kita masih saja bilang, “Nanti dulu, masih banyak kerjaan.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *