DIABETES tipe 2 sering dianggap sebagai penyakit orang tua. Padahal, usia muda bukan berarti otomatis aman.
Kabar baiknya, banyak faktor risiko diabetes tipe 2 yang bisa dikendalikan. Jadi, daripada hanya menunggu gula darah naik, lebih baik mengenali kebiasaan dan kondisi tubuh yang berkaitan dengan risiko diabetes sejak sekarang.
Lalu, seperti apa ciri orang yang risikonya lebih rendah terkena diabetes sebelum usia 50 tahun?
Berat Badan Relatif Terjaga
Salah satu faktor penting adalah berat badan yang sehat.
Kelebihan berat badan dan obesitas meningkatkan risiko diabetes tipe 2 karena dapat berkaitan dengan resistensi insulin. Namun, angka timbangan bukan satu-satunya ukuran.
Lingkar pinggang juga penting karena lemak yang menumpuk di sekitar perut berkaitan dengan risiko gangguan metabolisme.
Artinya, tubuh yang beratnya relatif stabil dan tidak mengalami penumpukan lemak perut berlebihan merupakan salah satu tanda yang menguntungkan.
Tetapi perlu diingat, orang yang bertubuh kurus pun tetap bisa mengalami diabetes. Berat badan bukan jaminan mutlak.
BACA JUGA: Benarkah Muka Hitam Tanda-Tanda Penyakit Diabetes?
Aktif Bergerak Setiap Hari
Orang yang rutin bergerak memiliki keuntungan dalam menjaga kesehatan metabolik.
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin.
Tidak harus selalu olahraga berat.
Jalan kaki, bersepeda, naik-turun tangga, membersihkan rumah, berkebun, atau aktivitas fisik lainnya juga berkontribusi terhadap jumlah gerakan harian.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, ditambah latihan penguatan otot secara teratur.
Jadi, jangan menunggu punya waktu satu jam untuk berolahraga.
Mulai dari rutin bergerak.
Pola Makan Tidak Didominasi Gula dan Makanan Ultra-Proses
Kebiasaan makan juga memainkan peran penting.
Terlalu sering mengonsumsi minuman manis, makanan tinggi kalori, makanan ultra-proses, serta porsi makan yang berlebihan dapat membuat pengendalian berat badan dan gula darah menjadi lebih sulit.
Sebaliknya, pola makan yang banyak mengandung sayuran, buah utuh, sumber protein, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan makanan minim proses lebih mendukung kesehatan metabolik.
Bukan berarti seseorang harus haram menyentuh gorengan atau kue selamanya.
Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan.
Tidak Merokok
Merokok juga berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
CDC menyebut perokok memiliki risiko diabetes tipe 2 sekitar 30–40 persen lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok. Semakin banyak rokok yang dihisap, risikonya juga dapat meningkat.
Karena itu, tidak merokok merupakan salah satu kebiasaan yang mendukung kesehatan jangka panjang.
Tekanan Darah dan Kolesterol Terjaga
Diabetes tidak berdiri sendirian.
Tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak sehat, obesitas, dan gangguan metabolisme lainnya sering saling berkaitan.
Karena itu, orang yang secara rutin memantau tekanan darah, kadar kolesterol, dan kondisi metaboliknya memiliki kesempatan lebih besar untuk menemukan masalah lebih awal.
Bukan berarti hasil pemeriksaan yang normal hari ini menjamin bebas diabetes selamanya.
Tubuh tetap perlu dipantau.
Tidak Memiliki Faktor Risiko Keluarga yang Kuat
Riwayat keluarga juga berpengaruh.
Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga tersebut.
Namun, faktor keturunan bukan berarti seseorang pasti terkena diabetes.
Gaya hidup tetap memainkan peran penting.
Justru jika memiliki riwayat keluarga diabetes, menjaga berat badan, aktif bergerak, dan memperhatikan pola makan menjadi semakin penting.
Tidak Merasa “Sehat” Hanya karena Tidak Ada Gejala
Ini yang sering mengecoh.
Diabetes tipe 2 dapat berkembang perlahan dan pada awalnya tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Seseorang bisa merasa sehat, tetap bekerja, tetap berolahraga, dan tidak mengalami keluhan berarti, tetapi kadar gula darahnya sudah mulai bermasalah.
Karena itu, tidak adanya gejala bukan bukti bahwa seseorang pasti aman dari diabetes.
Pemeriksaan gula darah tetap penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
BACA JUGA: Apakah Jin Juga Sakit-sakitan (Seperti Diabetes, Stroke, dan Lainnya) Layaknya Manusia?
Jadi, Apa Ciri Orang yang Risikonya Rendah?
Secara sederhana, mereka biasanya memiliki kombinasi beberapa hal: berat badan dan lingkar pinggang terjaga, aktif bergerak, pola makan seimbang, tidak merokok, tekanan darah dan kolesterol terkontrol, serta tidak memiliki faktor risiko yang kuat.
Tetapi istilah “aman dari diabetes” sebenarnya terlalu mutlak.
Yang lebih tepat adalah memiliki risiko yang lebih rendah.
Sebab diabetes tipe 2 dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, genetik, riwayat keluarga, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, dan kondisi kesehatan lainnya.
Jadi, sebelum usia 50 tahun jangan hanya bertanya, “Apakah saya sudah terkena diabetes?”
Lebih baik bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan sekarang agar risiko saya tetap rendah?”
Karena mencegah sering kali jauh lebih sederhana daripada memperbaiki masalah yang sudah terlanjur terjadi. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


