DALAM rumah tangga, pelukan mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Namun, bagi suami dan istri, sentuhan lembut, pelukan, genggaman tangan, atau sekadar duduk berdekatan dapat menjadi bentuk kasih sayang yang membuat pasangan merasa dicintai dan dihargai. Karena itu, ketika seorang suami hanya memeluk istrinya saat menginginkan hubungan intim, sementara dalam keadaan lain hampir tidak pernah menunjukkan sentuhan kasih sayang, hal tersebut bisa menimbulkan persoalan emosional dalam hubungan.
Seorang istri tentu bisa saja bertanya dalam hati, “Apakah suamiku memelukku karena sayang, atau hanya karena sedang punya keinginan?” Pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung disampaikan, tetapi jika terus muncul, lama-kelamaan dapat membuat istri merasa dirinya hanya dibutuhkan ketika suami menginginkan sesuatu. Padahal, dalam pernikahan, pasangan bukan sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan teman hidup yang membutuhkan perhatian, penghargaan, dan kasih sayang.
BACA JUGA: Suami Suka “Jajan”, Apa yang Harus Dilakukan Istri?
Pelukan yang diberikan tanpa ada permintaan atau kepentingan tertentu sebenarnya memiliki makna yang besar. Ketika suami memeluk istrinya setelah pulang bekerja, sebelum tidur, ketika istrinya sedang sedih, atau sekadar saat sedang duduk bersama, pesan yang disampaikan bukan hanya melalui kata-kata. Pelukan tersebut dapat menjadi tanda bahwa istri tetap dicintai bahkan ketika tidak sedang memberikan sesuatu kepada suaminya.
Sebaliknya, jika pelukan hampir selalu muncul menjelang hubungan intim, istri bisa merasa bahwa perhatian suami memiliki “syarat”. Awalnya mungkin hanya merasa sedikit kecewa, tetapi jika terjadi terus-menerus, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi kesepian di dalam pernikahan. Secara fisik tinggal serumah, tetapi secara emosional merasa jauh dari orang yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
Masalah lain yang mungkin muncul adalah istri menjadi sulit membedakan antara kasih sayang dan keinginan seksual. Ketika setiap sentuhan suami selalu berakhir pada permintaan hubungan intim, istri bisa menjadi waspada setiap kali suami mendekat. Akibatnya, sentuhan yang seharusnya menjadi sumber kenyamanan justru dapat kehilangan makna kelembutannya.
Padahal, hubungan intim dalam pernikahan bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan biologis. Hubungan tersebut juga berkaitan dengan kedekatan emosional, rasa aman, kasih sayang, dan komunikasi antara suami dan istri. Karena itu, membangun kedekatan sebaiknya tidak dimulai ketika seseorang sudah menginginkan hubungan intim saja, tetapi dibangun sepanjang kehidupan rumah tangga.
Suami yang ingin memperbaiki keadaan sebenarnya tidak harus melakukan sesuatu yang rumit. Mulailah dengan memberikan pelukan tanpa maksud lain, menggenggam tangan istri ketika berjalan, mengusap kepalanya dengan lembut, atau duduk di sampingnya sambil menanyakan bagaimana harinya. Perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali jauh lebih bermakna daripada tindakan romantis besar yang hanya dilakukan sesekali.
Begitu juga dengan istri, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan bahwa suami sudah tidak mencintainya hanya karena suami jarang memeluk. Ada orang yang memang sejak kecil tidak terbiasa mengekspresikan kasih sayang melalui sentuhan. Ada pula suami yang merasa bahwa bekerja keras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau membantu pekerjaan rumah merupakan bentuk cintanya kepada keluarga.
Karena itu, komunikasi tetap menjadi jalan yang sangat penting. Istri dapat menyampaikan perasaannya dengan lembut tanpa langsung menuduh, misalnya menjelaskan bahwa dirinya senang ketika mendapatkan pelukan tanpa harus ada hubungan intim setelahnya. Dengan cara seperti ini, suami memiliki kesempatan untuk memahami kebutuhan emosional istrinya tanpa merasa sedang diserang.
Suami juga perlu memahami bahwa kebutuhan seorang istri bukan hanya nafkah dan hubungan intim. Banyak perempuan membutuhkan kepastian bahwa dirinya dicintai, dihargai, didengarkan, dan dianggap penting dalam kehidupan suaminya. Ketika kebutuhan emosional tersebut terus diabaikan, hubungan suami istri bisa mengalami jarak meskipun secara lahiriah rumah tangga masih terlihat baik-baik saja.
Dalam perspektif Islam, kehidupan rumah tangga dibangun dengan prinsip kasih sayang dan ketenteraman. Allah menyebutkan bahwa di antara tanda kebesaran-Nya adalah Dia menciptakan pasangan agar manusia mendapatkan ketenteraman, serta menjadikan di antara pasangan rasa kasih dan sayang. Karena itu, hubungan suami istri idealnya tidak hanya berisi tuntutan hak dan kewajiban, tetapi juga dipenuhi sikap lembut dan saling menyenangkan.
Rasulullah ﷺ juga dikenal sebagai sosok yang memperlakukan keluarganya dengan kelembutan. Ini menunjukkan bahwa menjadi suami bukan hanya tentang mencari nafkah dan menjalankan kewajiban, tetapi juga tentang menghadirkan akhlak yang baik di dalam rumah. Kelembutan kepada pasangan tidak mengurangi kewibawaan seorang laki-laki, justru dapat menjadi bagian dari akhlak mulia.
Jika suami hanya memberikan sentuhan ketika menginginkan hubungan intim, istri juga bisa merasa bahwa dirinya diperlakukan seperti “sarana” untuk memenuhi kebutuhan suami. Perasaan semacam ini tentu tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut. Pernikahan membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan emosional agar kedua pasangan merasa sama-sama dicintai.
Namun, persoalan ini juga tidak berarti bahwa setiap pelukan yang dilakukan sebelum hubungan intim merupakan sesuatu yang salah. Wajar jika suami menunjukkan kasih sayang ketika sedang menginginkan kedekatan fisik. Yang menjadi persoalan adalah jika hampir seluruh bentuk sentuhan, perhatian, dan kemesraan hanya muncul ketika suami memiliki kepentingan tertentu.
Karena itu, suami sebaiknya belajar memberikan kasih sayang tanpa selalu mengharapkan balasan. Peluklah istri ketika ia sedang lelah, ketika ia berhasil melakukan sesuatu, ketika ia sedang sedih, atau bahkan ketika tidak ada alasan khusus. Dengan begitu, istri dapat merasakan bahwa pelukan suaminya bukan sebuah kode bahwa “ada maunya”, tetapi benar-benar menjadi bahasa cinta dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Boleh Gak Sih Buka HP Suami tanpa Izin dari Suami?
Pada akhirnya, rumah tangga yang kuat bukan hanya dibangun dengan nafkah yang cukup atau hubungan intim yang baik. Rumah tangga juga membutuhkan perhatian kecil yang dilakukan berulang kali, termasuk pelukan, senyuman, ucapan terima kasih, percakapan yang hangat, dan kepedulian terhadap perasaan pasangan. Jangan sampai seorang istri merasa paling dekat dengan suaminya hanya ketika suaminya sedang membutuhkan sesuatu darinya.
Jika seorang suami selama ini jarang memeluk istrinya kecuali ketika menginginkan hubungan intim, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Mulailah dari hal sederhana: peluk istri tanpa meminta apa pun setelahnya, tanyakan kabarnya, dengarkan ceritanya, dan tunjukkan bahwa ia berharga bukan hanya karena perannya sebagai istri. Sebab dalam pernikahan, terkadang satu pelukan yang tulus tanpa “ada maunya” justru mampu mengatakan sesuatu yang tidak mampu disampaikan oleh seribu kata. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

