Ya Rasulullah, Alangkah Indahnya Hidup Ini …

Umar Faqih
3 Min Read
Foto: Freepik

ADA hari-hari ketika langit terasa lebih dekat. Ketika angin yang menyentuh kulit membawa bisik lembut yang tidak bisa dijelaskan. Pada saat-saat seperti itu, seseorang ingin berhenti sejenak dan membiarkan hati bertanya: bagaimana rasanya menatap wajah manusia paling mulia itu?

Konon, ketenangan memiliki warna. Ada yang mengatakan warnanya biru muda. Ada yang mengatakan warnanya putih susu. Tetapi siapa pun yang mencintai Rasulullah ﷺ tahu, ketenangan sejati punya cahaya yang lain—cahaya yang menembus dada dan memerahkannya dengan harapan.

Alangkah indahnya hidup ini… andai dapat kutatap wajahmu.
Begitu hati berbicara. Sebuah bisikan yang kadang datang di sela-sela doa, kadang di tengah malam yang sunyi. Sungguh, jika detik itu tiba, mungkin air mata tidak meminta izin untuk jatuh. Ia akan mengalir sendiri, seperti sungai yang menemukan kembali lautnya.

BACA JUGA:  Akhlak Rasulullah ﷺ kepada Umatnya

Andai tangan ini dapat menyentuh tangan beliau—tangan yang pernah mengangkat senjata demi membela kebenaran, tangan yang pernah mengusap kepala anak yatim, tangan yang pernah menggenggam tangan para sahabat dengan penuh kasih—bukankah hidup akan terasa lebih ringan? Bukankah keberkahan akan mencari jalan masuk tanpa diundang?

Di antara doa-doa panjang yang mengitari bumi, ada satu getaran yang tak pernah usang:
Ya Rasulallah, ya Habiballah… kami rindu padamu.

Rindu yang aneh. Rindu kepada seseorang yang tak pernah kita tatap, tetapi namanya lebih dekat daripada detak nadi. Rindu kepada seseorang yang tidak pernah berbicara langsung kepada kita, tetapi ajarannya membersihkan hati seperti hujan pertama setelah kemarau.

Kadang kita membayangkan, andaikata bisa mendekap beliau. Apa yang akan terjadi pada jiwa? Mungkin kata-kata akan hilang. Mungkin seluruh dunia akan mengecil hingga tinggal detik itu saja. Mungkin hanya Tuhan yang mengerti betapa berharganya perjumpaan itu.

Lalu kita kembali teringat satu kalimat yang membuat dada bergetar:
Umati… umati.
Begitulah cinta itu diucapkan oleh beliau. Bukan kepada keluarga. Bukan kepada kaum tertentu. Tapi kepada kita. Kepada setiap nama yang membacakan salawat. Kepada setiap hati yang terseok-seok menuju Allah.

BACA JUGA:  Kucing Rasulullah ﷺ

Maka kita kembali berbisik, dengan suara yang kadang pecah oleh harapan:
Syafa’atkan kami… terimalah kami sebagai umatmu…

Dan dunia pun menjadi sedikit lebih lembut ketika salawat dilantunkan berulang-ulang, seakan menjadi jembatan yang merentang dari bumi ke langit:
Allahumma shalli ‘ala Muhammad… Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa sallim…

Pada akhirnya, hidup ini memang indah—karena di dalamnya ada rindu kepada Rasulullah ﷺ. Rindu yang tidak menuntut jawaban apa pun, selain kedekatan di hari ketika segala rahasia dibuka dan segala penantian menemukan pangkuannya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *