5 Pembabakan Umat Islam Berdasarkan Hadist Nabi

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

SEJARAH umat Islam bukanlah garis lurus yang selalu menanjak. Ia berombak. Kadang jaya, kadang jatuh. Kadang bercahaya, kadang redup. Semua itu telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad ﷺ jauh sebelum zaman ini tiba. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ memetakan perjalanan umat Islam ke dalam lima pembabakan besar. Hadits ini bukan sekadar cerita masa depan, tetapi cermin agar umat ini bercermin dan bersiap.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kenabian akan ada di tengah kalian selama Allah menghendakinya. Kemudian Allah mengangkatnya jika Dia menghendaki. Lalu akan ada khilafah di atas manhaj kenabian… kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan ‘adhhan)… lalu kerajaan yang zalim (mulkan jabriyyan)… kemudian akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Hadits ini menjadi fondasi penting dalam pembahasan akhir zaman, karena ia menggambarkan alur besar sejarah umat Islam hingga menjelang kiamat.

1. Masa Kenabian: Cahaya Murni dari Langit

Pembabakan pertama adalah masa kenabian, dimulai dari diutusnya Rasulullah ﷺ hingga wafatnya beliau. Inilah masa paling jernih dalam sejarah Islam. Wahyu turun. Akhlak dibentuk langsung oleh Nabi. Hukum ditegakkan dengan keadilan dan kasih sayang.

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa masa ini adalah standar emas umat Islam. Semua kebaikan berpulang padanya. Aqidah lurus, ibadah hidup, dan ukhuwah kuat. Tidak ada sistem yang lebih sempurna daripada apa yang dibangun Nabi ﷺ di Madinah.

Namun masa ini singkat. Karena tugas kenabian telah sempurna.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

2. Khilafah ‘Ala Minhaj an-Nubuwwah: Warisan Para Sahabat

Setelah wafatnya Nabi ﷺ, dimulailah khilafah di atas manhaj kenabian, yaitu masa Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali رضي الله عنهم.

Para ulama salaf sepakat bahwa periode ini adalah kelanjutan langsung dari cahaya kenabian. Imam Ahmad رحمه الله menegaskan bahwa siapa yang mencela para khalifah ini, maka ia telah menyimpang dari Ahlus Sunnah.

Keadilan Umar, kelembutan Abu Bakar, kedermawanan Utsman, dan keteguhan Ali—semuanya menjadi bukti bahwa Islam mampu memimpin dunia dengan iman dan amanah. Namun, seiring meluasnya wilayah dan fitnah, masa ini pun berakhir.

3. Mulkan ‘Adhan: Kekuasaan yang Menggigit

Pembabakan ketiga adalah mulkan ‘adhhan, kerajaan yang “menggigit”. Para ulama menafsirkannya sebagai kekuasaan turun-temurun, di mana jabatan diwariskan, bukan dipilih berdasarkan ketakwaan.

Imam al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan bahwa pada fase ini Islam masih tegak, syariat masih dijalankan, namun keadilan mulai bercampur dengan kepentingan dunia. Kekuasaan dijaga dengan loyalitas keluarga dan kekuatan politik.

Ini mencakup masa Bani Umayyah dan sebagian Bani Abbasiyah. Banyak kebaikan tetap ada: ilmu berkembang, jihad meluas, masjid berdiri megah. Namun luka mulai terasa. Fitnah kekuasaan tak lagi asing.

4. Mulkan Jabriyyan: Kekuasaan yang Memaksa

Inilah fase yang paling gelap. Mulkan jabriyyan adalah kekuasaan yang memaksa, menindas, dan sering kali memusuhi dakwah yang lurus. Para ulama salaf menyebut masa ini sebagai masa kezaliman struktural.

Imam Ibn Taimiyyah رحمه الله menyatakan bahwa pada fase ini, banyak penguasa mengaku Islam, tetapi memerangi nilai-nilai Islam itu sendiri. Ulama dibungkam. Kebenaran dianggap ancaman. Dunia lebih dicintai daripada akhirat.

Banyak ulama memandang bahwa umat Islam masih hidup di fase ini, ditandai dengan perpecahan, lemahnya persatuan, dan dominasi kekuatan asing atas negeri-negeri kaum Muslimin.

5. Kembalinya Khilafah di Atas Manhaj Kenabian

Hadits ini tidak berakhir dengan keputusasaan. Justru ditutup dengan kabar gembira besar: “ثم تكون خلافة على منهاج النبوة” — kemudian akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian.

Para ulama salaf mengaitkan fase ini dengan akhir zaman, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Imam Ibn Katsir رحمه الله menegaskan bahwa ini adalah masa ketika keadilan ditegakkan kembali, bumi dipenuhi keberkahan, dan kezaliman dihancurkan.

Namun perlu dicatat: kemenangan ini tidak datang kepada umat yang rusak. Ia datang kepada umat yang kembali kepada tauhid, sunnah, dan kesabaran.

BACA JUGA:  Dari Mana Saja Sumber Uang Haram di Akhir Zaman Ini?

Penutup: Di Fase Mana Kita Berdiri?

Hadits ini bukan sekadar ramalan sejarah. Ia adalah cermin tanggung jawab. Jika hari ini kita hidup di fase mulkan jabriyyan, maka tugas kita bukan mencaci takdir, tetapi memperbaiki diri.

Para ulama salaf selalu mengingatkan: perubahan besar dimulai dari hati yang jujur kepada Allah. Akhir zaman bukan alasan untuk menyerah, tetapi alasan untuk lebih serius menata iman.

Karena siapa tahu, kita bukan hanya saksi sejarah.
Bisa jadi, kita adalah pembuka jalan bagi kembalinya cahaya itu. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *