Ketika Kebaikan Tidak Dibalas oleh Manusia

Umar Faqih
3 Min Read
Foto: Freepik

DALAM perjalanan hidup, banyak orang berangkat dengan niat baik dan hati yang lembut. Mereka mudah menolong, ringan membantu, dan berat menolak. Namun tidak semua kebaikan bertemu dengan balasan yang indah. Ada kalanya tangan yang kita genggam justru melepas dengan dingin, bahkan menyisakan luka. Dari sinilah muhasabah menjadi kebutuhan, agar hati tidak patah dan amal tidak berubah menjadi penyesalan.

Tidak semua orang yang kamu tolong memiliki rasa terima kasih. Sebagian justru menjadikan kebaikan sebagai pintu untuk memanfaatkan kelembutanmu. Di hadapanmu ia tampak manis, penuh senyum dan doa. Tetapi di belakang, ia menjelekkanmu, seakan-akan pertolonganmu tak pernah ada nilainya. Inilah kenyataan pahit yang sering menguji keikhlasan.

Pada titik ini, muhasabah perlu ditegakkan. Untuk siapa sebenarnya kebaikan itu dilakukan? Jika sejak awal kebaikan disandarkan pada pujian manusia, maka kecewa adalah upah yang hampir pasti. Tetapi jika niatnya lurus karena Allah, maka luka itu akan berubah menjadi pahala. Allah telah mengingatkan, “Sesungguhnya Kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insan: 9).

Ulama salaf memahami betul hakikat ini. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Ikhlas itu berat, karena jiwa selalu ingin mendapatkan bagian.” Jiwa ingin dihargai, ingin dikenang, ingin dipuji. Maka ketika pujian tidak datang, hati pun goyah. Padahal keikhlasan justru diuji saat kebaikan dibalas dengan keburukan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah juga menasihati, “Barang siapa beramal untuk selain Allah, maka Allah akan serahkan urusannya kepada selain-Nya.” Jika amal digantungkan pada manusia, maka manusia pula yang akan menentukan bahagia atau lukanya hati kita. Tetapi jika amal digantungkan pada Allah, maka ketenangan akan tetap tinggal meski manusia berpaling.

BACA JUGA:  Sembunyikan Kebaikanmu

Muhasabah mengajarkan satu hal penting: jangan berharap balasan dari manusia. Pujian mereka tidak menambah nilai di sisi Allah, dan celaan mereka tidak mengurangi pahala bagi hamba yang ikhlas. Tugas kita hanyalah berbuat baik dengan niat yang lurus dan cara yang benar.

Cukuplah Allah yang tahu ketulusanmu. Dialah yang melihat niat yang tersembunyi, air mata yang ditahan, dan kebaikan yang dilakukan tanpa saksi. Ketika hati lelah karena manusia, kembalilah bermuhasabah. Luruskan niat, perbaiki tujuan, dan tenangkan diri. Karena kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak pernah sia-sia, meski tidak dikenang oleh siapa pun di dunia. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *