Cara Quraisy Menghalangi Hijrah ke Habasyah

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

HIJRAH  ke Habasyah sering dikenang sebagai kisah pengungsian damai. Namun di balik narasi itu tersembunyi fakta penting: hijrah ini mengguncang elite Quraisy lebih dalam daripada yang sering disadari. Bukan karena jumlah kaum Muslimin yang pergi, tetapi karena makna politik dan moralnya.

Untuk pertama kalinya, kaum tertindas di Mekah menemukan perlindungan internasional. Dan Quraisy—penguasa Ka’bah, pusat dagang Arab, penjaga tradisi—kehilangan kendali atas narasi dan manusia.

Dari sinilah rangkaian upaya pencegahan, penghalangan, hingga diplomasi agresif Quraisy dimulai.

Mengapa Hijrah ke Habasyah Begitu Menakutkan bagi Quraisy?

Habasyah (Ethiopia sekarang) berada di luar jangkauan langsung Quraisy. Dipimpin oleh Raja Najasyi, seorang penguasa Kristen yang dikenal adil dan berdaulat. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai negeri yang “tidak ada seorang pun dizalimi di sana.”

Bagi Quraisy, ini ancaman berlapis:

Hilangnya tenaga kerja dan anggota kabilah
Runtuhnya sistem teror sosial
Tercorengnya reputasi Mekah di mata internasional
Lahirnya preseden bahwa Islam bisa hidup di luar Mekah

Hijrah ini mengirim pesan: Islam tidak mati meski ditekan.

BACA JUGA: Jejak Orang-Orang Asing di Luar Quraisy yang Memeluk Islam di Era Mekah

Tahap Pertama: Teror Sosial untuk Mencegah Hijrah

Sebelum kapal berlayar, Quraisy sudah bergerak. Tekanan terhadap kaum Muslimin dilipatgandakan:

Penyiksaan fisik terhadap budak seperti Bilal dan Ammar
Pemutusan hubungan keluarga
Intimidasi ekonomi
Ancaman sosial bagi perempuan dan anak-anak

Tujuannya jelas: mematahkan keberanian sebelum mereka pergi.

Namun justru tekanan ini mempercepat hijrah. Mereka yang pergi bukan petualang, tetapi orang-orang yang sudah kehilangan segalanya di Mekah.

Tahap Kedua: Pengawasan dan Penghalangan Diam-Diam

Quraisy tidak menutup pelabuhan secara terbuka. Mereka tahu tindakan kasar bisa memicu konflik antarkabilah. Maka digunakan cara yang lebih halus:

Pengawasan pergerakan keluarga Muslim
Tekanan pada kepala kabilah agar menahan anggotanya
Rayuan dan ancaman agar wali perempuan melarang hijrah

Beberapa Muslim tertahan. Namun sebagian besar berhasil lolos—diam-diam, berkelompok kecil, tanpa seremoni.

Hijrah ini bukan eksodus massal. Ia gerakan senyap, dan justru itu yang membuat Quraisy kelabakan.

Kepanikan Elite Quraisy: Islam Kini di Bawah Perlindungan Raja

Ketika kabar sampai bahwa kaum Muslimin diterima dan dilindungi Raja Najasyi, kepanikan berubah menjadi krisis. Quraisy menyadari tiga hal:

Mereka tak lagi bisa menyiksa para Muslim itu
Islam kini memiliki tempat aman
Jika dibiarkan, Habasyah bisa menjadi basis kekuatan baru

Di sinilah Quraisy beralih dari kekerasan lokal ke diplomasi internasional manipulatif.

Tahap Ketiga: Operasi Diplomasi untuk Memulangkan Paksa

Quraisy mengirim dua diplomat ulung: ‘Amr bin Al-‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi‘ah. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka memahami politik, psikologi raja, dan diplomasi hadiah.

Misi mereka jelas:
mengembalikan kaum Muslimin ke Mekah—tanpa perang, tanpa ribut, tanpa skandal.

Strategi mereka berlapis:
Membawa hadiah mewah untuk para pejabat istana
Mengatur lobi sebelum menghadap raja
Membingkai kaum Muslimin sebagai pembangkang sosial

Narasi yang mereka bangun licik:
“Mereka telah meninggalkan agama nenek moyang, tidak masuk agama kami, dan juga tidak masuk agama tuan.”

Ini framing berbahaya: kaum Muslimin digambarkan sebagai ancaman stabilitas, bukan korban penindasan.

Sidang Sejarah di Istana Najasyi

Najasyi tidak langsung menyerahkan kaum Muslimin. Ia memilih mendengar langsung dari mereka. Maka tampil Ja‘far bin Abi Thalib.

Pidato Ja‘far adalah pemaparan iman:

Ia menggambarkan kebobrokan jahiliah
Menjelaskan misi kenabian Muhammad ﷺ
Membacakan ayat-ayat tentang Maryam dan Isa

Istana terdiam. Najasyi dan para pendeta menangis.

Keputusan raja tegas: menolak tuntutan Quraisy. Namun Quraisy belum menyerah.

Tahap Keempat: Isu Sensitif untuk Memecah Simpati

Keesokan harinya, ‘Amr bin Al-‘Ash memainkan kartu terakhir: Isa al-Masih.
Ia tahu isu ini sensitif bagi penguasa Kristen. Ia berkata,

“Mereka mengatakan sesuatu yang buruk tentang Isa.”

Najasyi kembali memanggil kaum Muslimin. Ja‘far menjawab tanpa diplomasi:

“Kami mengatakan Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya, kalimat-Nya, dan ruh dari-Nya.”

Jawaban ini berisiko, tapi jujur.
Najasyi memukul tanah dengan tongkat dan berkata:

“Apa yang kalian katakan tidak lebih dari apa yang kami yakini.”

Quraisy kalah telak.

Kegagalan Total: Quraisy Pulang dengan Tangan Hampa

Hadiah dikembalikan. Delegasi dipermalukan secara halus. Kaum Muslimin tetap berada di Habasyah—aman, merdeka, dan bermartabat.

Bagi Quraisy, ini kekalahan strategis:

Teror gagal
Tekanan sosial gagal
Diplomasi internasional gagal
Lebih dari itu, narasi Quraisy runtuh.

Dunia luar tahu: yang bermasalah bukan Islam, tapi Mekah.

Makna Historis Hijrah Habasyah

Hijrah ini membuktikan:
Islam sejak awal berpikir global
Penindasan selalu takut pada perlindungan hukum
Kekuasaan zalim alergi terhadap pengawasan internasional
Kebenaran yang jujur lebih kuat dari diplomasi licik
Habasyah bukan tujuan akhir. Ia laboratorium ketahanan iman.

Penutup: Ketika Hijrah Menjadi Tuduhan

Quraisy menuduh kaum Muslimin sebagai pembangkang. Padahal mereka hanya ingin hidup dan beriman.
Sepanjang sejarah, penguasa zalim selalu membenci hijrah—karena hijrah membuktikan bahwa kekuasaan mereka tidak absolut.

Dan dari Habasyah, Islam belajar satu pelajaran besar:
Jika kebenaran tidak aman di satu negeri, carilah negeri lain. Tapi jangan pernah menyerahkan iman kembali kepada penindas. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *