Tahajjud: Ibadah Berat yang Mengubah Hidup, Dimulai dari Shalat Tepat Waktu

Yudi
By Yudi
3 Min Read
Foto: Olah dari Freepik oleh Umar Faqih | Islampos

DI antara seluruh shalat sunnah, tahajjud dikenal sebagai ibadah yang paling berat. Ia dikerjakan di akhir sepertiga malam, saat mata terpejam, tubuh ingin beristirahat, dan dunia berada dalam keheningan. Tidak banyak orang yang sanggup bangun pada waktu ini. Karena itu, para ulama salaf menyebut tahajjud sebagai ibadahnya orang-orang khusus, hamba pilihan yang benar-benar ingin dekat dengan Allah Ta‘ala.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan kedudukan tahajjud yang sangat tinggi. Bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi shalat sunnah terbaik yang menjadi jalan khusus mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia dan berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, tahajjud bukan ibadah yang berdiri sendiri. Ia tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba tanpa persiapan. Ulama salaf menegaskan bahwa tahajjud adalah buah dari ibadah di siang hari. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka yang bisa shalat malam adalah orang-orang yang menjaga ibadahnya di siang hari.” Artinya, siapa yang meremehkan ibadah wajib dan sunnah di siang hari, jangan heran jika malamnya terasa berat untuk bangun.

Akar dari semua ini adalah shalat tepat waktu. Orang yang tidak menjaga shalat wajib di awal waktu, akan sulit menjaga konsistensi ibadah lainnya. Shalat yang ditunda-tunda melemahkan hati dan melunturkan disiplin ruhani. Rasulullah ﷺ sangat menekankan shalat pada waktunya. Ketika ditanya tentang amalan paling dicintai Allah, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

https://shopee.co.id/product/1343674864/26985381870?d_id=a86d2&gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOTdVVlFhT280cmNvdzh2QnpMZEx5c1l1M3ZXMDdmSGFJd0MxVXJWZGtBUWtUWVVyT25TOFQ4VlZSMkxleDlWb3M5V2NVQnJNdUhBSXBtRWlIOStjZCtaNGJHSUV0MjhPZmFHai9ObXorMUJ3PQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jqe8lc01l6&utm_campaign=id_ApUFzIw6QD&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8midw7ewvoy

Dari shalat tepat waktu, seorang laki-laki akan lebih mudah menjaga shalat berjamaah di masjid. Jika shalat berjamaah saja terasa berat, maka shalat sunnah rawatib pun akan semakin sulit. Padahal rawatib adalah penjaga shalat wajib. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa shalat sunnah ibarat pagar, sementara shalat wajib adalah istana. Jika pagar rusak, istana akan mudah diserang.

BACA JUGA: Cara Ulama Salaf Memaknai Tahajjud

Ketika seseorang mulai meremehkan rawatib, shalat Dhuha pun terasa asing. Padahal Dhuha adalah shalat yang menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dicukupinya kebutuhan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Pada setiap pagi, setiap persendian kalian wajib disedekahi, dan semua itu bisa dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.” (HR. Muslim). Jika Dhuha saja sulit, maka tahajjud akan terasa semakin jauh.

Di sinilah kita memahami bahwa tahajjud bukan dimulai dari malam, tetapi dari siang. Ia dimulai dari shalat tepat waktu, berjamaah di masjid, menjaga rawatib, membiasakan Dhuha, lalu Allah akan mudahkan langkah menuju tahajjud. Sebab pertolongan Allah sangat dekat melalui shalat malam. Dan siapa yang ingin hidupnya diperbaiki oleh Allah, maka perbaikilah terlebih dahulu hubunganmu dengan shalat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *