SEORANG lelaki dari Khurasan datang ke Makkah. Ia duduk bersama Fudhail bin ‘Iyad di Masjidil Haram, berbincang sejenak dengannya, lalu beranjak untuk melakukan thawaf.
Di tengah thawaf itu, musibah kecil menimpanya. Sekitar enam puluh hingga tujuh puluh dinar yang ia bawa dicuri seseorang.
Ia pun keluar dari Masjidil Haram dengan langkah gontai,
air mata mengalir di wajahnya.
Melihat keadaan itu, Fudhail bin ‘Iyad bertanya dengan lembut,
“Apakah yang membuatmu menangis?”
Orang Khurasan itu menjawab,
“Dinar-dinarku telah dicuri.”
Fudhail kembali bertanya,
“Hanya karena itu engkau menangis?”
Ia menggeleng pelan, lalu berkata dengan suara yang tertahan,
“Bukan karena dinar itu.”
“Terbayang olehku,” lanjutnya,
“suatu hari aku dan pencuri itu berdiri di hadapan Allah.
Aku datang membawa alasan,
sementara ia datang tanpa hujjah sedikit pun.”
“Aku takut,” katanya lagi,
“aku menjadi sebab Allah mematahkan alasannya dan menambah bebannya.”
“Maka aku menangis—
bukan karena kehilangan harta,
melainkan karena kasihan kepadanya.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

