Perjanjian Hudaibiyah dan Teguran Allah kepada Quraisy dengan Kisah Nabi Ibrahim

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PERJANJIAN Hudaibiyah bukan sekadar episode diplomasi antara Nabi Muhammad ﷺ dan Quraisy. Ia adalah titik benturan klaim moral: siapa yang berhak atas Ka‘bah, siapa yang berwenang menentukan siapa boleh masuk, dan siapa yang sebenarnya mewarisi agama Ibrahim.

Dalam konteks itulah Allah menurunkan teguran keras—bukan dengan menyebut nama Quraisy secara langsung, tetapi dengan mengungkit sejarah yang lebih tua, lebih murni, dan lebih sah: sejarah Nabi Ibrahim dan Ka‘bah.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (seraya berfirman), ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, yang menetap, serta yang rukuk dan sujud.’”
(QS. Al-Ḥajj: 26)

Ayat ini turun sebagai teguran ideologis kepada Quraisy Mekah yang merasa paling berhak atas Ka‘bah, tetapi justru menghalangi manusia dari ibadah dan menodainya dengan syirik.

BACA JUGA: 14 Keutamaan Kota Mekkah

Ka‘bah: Dibangun Ibrahim, Bukan Quraisy

Melalui ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengingatkan kaum musyrik Mekah:
Ka‘bah bukanlah warisan kabilah Quraisy, melainkan amanah tauhid Nabi Ibrahim.

Sebagian riwayat menyebut bahwa Ibrahim a.s bukan membangun Ka‘bah dari nol, tetapi membangunnya kembali bersama Ismail a.s di atas fondasi lama yang telah runtuh dan tertimbun pasir. Allah sendiri menunjukkan lokasi Baitullah itu dengan membersihkannya melalui hembusan angin.

Di titik ini, pesan Al-Qur’an menjadi tajam:
Ka‘bah didirikan bukan untuk kebanggaan etnis, bukan untuk kekuasaan politik, dan bukan untuk legitimasi ekonomi, tetapi untuk tauhid murni—“janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.”

Karena itu Allah memerintahkan Ibrahim untuk:

  • membersihkan Ka‘bah dari segala bentuk syirik,
  • menjadikannya pusat ibadah,
  • dan membukanya bagi semua hamba Allah yang tawaf, rukuk, dan sujud.

Penyebutan rukuk dan sujud secara eksplisit dipahami para ulama sebagai isyarat bahwa Ka‘bah sejatinya dipersiapkan bagi umat Islam, jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus.

Teguran Halus tapi Mengguncang

Dengan mengangkat kisah Ibrahim, Allah seakan berkata kepada Quraisy:
“Jika kalian mengaku pewaris Ibrahim, mengapa kalian justru menentang ajarannya?”

Islam bukan agama baru yang mengganggu tradisi, melainkan kembalinya agama Ibrahim. Maka menghalangi kaum Muslimin masuk Masjidil Haram sama saja dengan mengkhianati warisan leluhur mereka sendiri.

Seruan Haji: Dari Ibrahim ke Seluruh Dunia

Teguran itu dilanjutkan dengan ayat berikutnya:

“Dan serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Ḥajj: 27)

Mayoritas mufasir sepakat bahwa perintah ini pertama kali ditujukan kepada Nabi Ibrahim a.s, setelah beliau menyelesaikan pembangunan Ka‘bah. Allah memerintahkannya menyeru seluruh manusia—lintas zaman, lintas bangsa—untuk datang ke Baitullah.

Menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, Ibrahim sempat bertanya, “Bagaimana suaraku akan sampai kepada mereka?”
Allah menjawab, “Serulah, Aku yang akan menyampaikannya.”

Ibrahim pun naik ke Bukit Abi Qubais dan menyeru manusia. Seruan itu, menurut riwayat, dijawab oleh ruh-ruh manusia dengan talbiyah:
“Labbaika Allahumma labbaika.”

Di sinilah haji tampil bukan sebagai ritual lokal, tetapi perjanjian global antara manusia dan Allah.

Sebagian ulama, seperti Al-Hasan, berpendapat bahwa ayat ini juga ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun dua pendapat ini tidak saling menafikan. Perintah itu bermula pada Ibrahim, lalu disempurnakan dan diwajibkan kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya, hingga menjadi rukun Islam kelima.

Haji: Perjalanan Iman, Bukan Sekadar Fisik

Allah menjanjikan bahwa manusia akan datang memenuhi panggilan itu, meski harus menempuh perjalanan berat. Pesannya jelas: yang diuji bukan jarak, tetapi ketaatan.

Para ulama sepakat bahwa haji boleh dilakukan dengan cara apa pun yang halal—berjalan kaki, berkendaraan, laut, atau udara. Perbedaan pendapat tentang mana yang lebih utama hanyalah soal teknis. Islam tidak menghendaki kesukaran, tetapi keikhlasan.

Yang dinilai Allah bukan alat transportasi, melainkan niat dan kepatuhan.

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54johp4400l6&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8k5u62pusnw

Tujuan Haji: Manfaat yang Tak Terhitung

Allah kemudian menjelaskan tujuan haji:

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka…”
(QS. Al-Ḥajj: 28)

Manfaat itu disebut secara umum, menandakan keluasannya yang tak terhingga. Para ulama hanya mampu mengungkap sebagian kecilnya:

1. Latihan totalitas tauhid
Haji melatih pengendalian diri, ketaatan mutlak, dan kekhusyukan dalam hari-hari yang telah ditentukan.

2. Penghapusan sekat sosial
Ihram menghapus simbol status. Kaya–miskin, penguasa–rakyat, semuanya setara di hadapan Allah.

3. Simulasi hari kebangkitan
Wukuf di Arafah adalah gambaran Padang Mahsyar, tempat manusia berdiri tanpa pembela kecuali amal.

4. Pendidikan kesabaran kolektif
Persinggungan fisik, perbedaan budaya, dan keterbatasan fasilitas melatih kelapangan dada.

BACA JUGA: Utusan Kafir Quraisy Datang untuk “Menasihati” Rasulullah ﷺ

5. Rekonstruksi sejarah iman
Haji menghidupkan kembali perjuangan Ibrahim, Hajar, Ismail, dan Rasulullah ﷺ beserta para sahabat.

6. Muktamar umat Islam global
Haji adalah pertemuan dunia Islam paling besar yang—jika dikelola dengan visi—dapat menjadi pusat pemecahan masalah umat.

Penutup: Siapa Pewaris Ibrahim?

Melalui rangkaian ayat ini, Allah menjawab klaim Quraisy tanpa polemik langsung.
Ia hanya mengajukan satu pertanyaan besar melalui sejarah:

Siapa yang paling setia kepada Ibrahim—yang memurnikan tauhid, atau yang menjadikan Ka‘bah alat kuasa?

Jawaban itu bukan milik masa lalu.
Ia terus hidup—setiap musim haji, setiap talbiyah, dan setiap manusia yang datang memenuhi panggilan Allah dari penjuru dunia. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *