THALIQ bin Qais pernah berkisah tentang pertemuannya dengan sahabat Nabi, Abu Dharr al-Ghifari. Dalam pertemuan itu, Abu Dzar berpesan singkat namun mendalam:
“Jika engkau berpuasa, maka jagalah dirimu semampumu.”
Pesan tersebut tidak panjang, tetapi sarat makna. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga diri—dari lisan, pandangan, amarah, dan perbuatan yang sia-sia.
Sejak menerima nasihat itu, Thaliq bin Qais menjadikannya pedoman setiap kali Ramadhan tiba. Bila tidak ada kewajiban jihad, tidak sedang mengajar atau belajar, dan tidak pula dalam urusan mencari nafkah, ia memilih untuk lebih banyak berdiam diri di rumah.
Ia tidak keluar kecuali untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid.
Baginya, menjaga diri berarti meminimalkan peluang tergelincir dalam dosa. Ia memahami bahwa interaksi yang tidak perlu dapat membuka pintu bagi perkataan yang sia-sia, perdebatan yang tak bermanfaat, atau hal-hal yang mengurangi nilai puasa.
Sikap ini menunjukkan bagaimana generasi salaf memaknai puasa sebagai latihan total pengendalian diri. Mereka tidak hanya menjaga perut, tetapi juga menjaga waktu, langkah, dan perhatian.
Ramadhan, dalam pandangan mereka, adalah musim perlindungan diri—mengurangi gerak yang tidak perlu dan memperbanyak penjagaan hati. []
Sumber: Yusuf Al-Qardhawi, Fiqh Puasa, Era Intermedia, 2010
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

