RAMADHAN sering dipahami sebagai bulan ibadah personal—ruang sunyi untuk menata jiwa. Namun dalam lintasan sejarah politik dunia Islam, bulan ini juga berulang kali menjadi saksi lahirnya negara-negara merdeka. Di tengah lapar dan dahaga, keputusan-keputusan besar diambil. Kolonialisme digugat. Struktur lama runtuh.
Indonesia adalah salah satu contohnya. Pada 9 Ramadhan 1364 Hijriah, bertepatan dengan 17 Agustus 1945, teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Jakarta oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Proklamasi itu lahir di tengah kekosongan kekuasaan pasca-kekalahan Jepang dan ancaman kembalinya Belanda. Dalam suasana Ramadhan, bangsa ini mengambil risiko sejarah: menyatakan diri merdeka sebelum mendapat restu kekuatan global mana pun.
Fenomena serupa terjadi di Afrika Utara satu dekade kemudian. Tunisia meraih kemerdekaan dari Prancis pada 20 Maret 1956, yang bertepatan dengan Ramadhan 1375 Hijriah. Peristiwa itu kini dikenal sebagai Independence of Tunisia. Gerakan nasionalis yang dipimpin Habib Bourguiba berhasil memaksa Prancis mengakhiri protektorat yang telah berlangsung sejak 1881. Bulan puasa kala itu menjadi latar simbolik bagi lahirnya republik baru di kawasan Maghrib.
Maroko juga mencatat momen pentingnya dalam suasana Ramadhan. Setelah tekanan diplomatik dan gelombang perlawanan rakyat, Prancis mengakui kemerdekaan negara tersebut pada 1956, yang dikenal sebagai Independence of Morocco. Sultan Mohammed V kembali dari pengasingan dan menjadi simbol persatuan nasional. Ramadhan tahun itu menandai berakhirnya protektorat kolonial yang telah berlangsung lebih dari empat dekade.
Di Afrika Barat, Mauritania memproklamasikan kemerdekaannya pada 28 November 1960, bertepatan dengan Ramadhan 1380 Hijriah, melalui peristiwa Independence of Mauritania. Negara yang sebelumnya berada di bawah administrasi Prancis itu memilih jalur transisi politik formal, namun tetap menghadapi tantangan konsolidasi internal setelah merdeka.
Jika ditelusuri lebih jauh, kemerdekaan yang bertepatan dengan Ramadhan bukanlah pola yang sepenuhnya kebetulan, tetapi juga bukan desain tunggal sejarah. Banyak negara Muslim memang merdeka pada bulan lain. Namun beberapa momentum penting justru terjadi saat umat Islam sedang menjalani puasa—fase yang secara spiritual menekankan disiplin, kesabaran, dan keteguhan.
BACA JUGA: Di Negara Mana Puasa Paling Sebentar di Tahun 2026 Ini?
Secara investigatif, menarik dicatat bahwa sebagian besar kemerdekaan tersebut terjadi pada dekade 1940–1960, periode dekolonisasi global pasca-Perang Dunia II. Ramadhan dalam konteks ini menjadi latar waktu yang mempertemukan dinamika geopolitik internasional dengan kesadaran kolektif masyarakat Muslim.
Kemerdekaan bukanlah hasil euforia sesaat. Ia lahir dari negosiasi keras, perlawanan panjang, dan kalkulasi politik yang presisi. Namun ketika momentum itu tiba di bulan Ramadhan, ia memperoleh dimensi simbolik tambahan: pembebasan dari penjajahan berjalan seiring dengan disiplin spiritual.
Ramadhan, dalam beberapa bab sejarah modern dunia Islam, bukan sekadar bulan ibadah. Ia menjadi saksi ketika bangsa-bangsa Muslim memutus rantai kolonialisme dan menegaskan haknya untuk berdiri sebagai negara berdaulat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

