ADA anak bernama Afrizal.
Afrizal anak kelas 2 SD.
Pagi itu hangat.
Matahari belum tinggi.
Udara masih lembut.
Di dekat pos ronda,
asap tipis naik dari gerobak kecil.
Itu milik Nenek Uti.
Ia berjualan ketoprak.
Afrizal tinggal bersamanya.
Ia anak yatim piatu.
Hidupnya sederhana.
Tapi kebiasaannya… tidak baik.
Afrizal suka meminta uang.
Pada siapa saja.
Terutama pada orang dewasa.
Yang sedang sibuk.
Yang sedang berbicara.
Suatu pagi,
Pak Oman sedang duduk di pos ronda.
Ia berbincang dengan Pak Hansip.
Tentang jadwal ronda malam.
Afrizal datang.
Pelan.
Lalu berdiri di dekat mereka.
“Pak… minta uang dong…”
Pak Oman berhenti bicara.
Ia merogoh saku.
Memberi Afrizal uang lima ribu rupiah.
Afrizal tersenyum.
Lalu pergi.
Tak lama,
ia kembali lagi.
Kini ke arah Pak Hansip.
Yang sedang berbicara dengan Mang Udin.
Mang Udin tukang tambal ban.
Tangannya hitam oleh oli.
“Pak… minta uang…” kata Afrizal lagi.
Pak Hansip menghela napas.
Tapi tetap memberi.
Mang Udin juga ikut memberi.
Afrizal senang.
Uangnya bertambah.
Hari berikutnya,
ia melihat Teh Sari.
Teh Sari akan berangkat kerja.
Tasnya rapi.
Langkahnya cepat.
Afrizal menghadang.
“Teh… minta uang…”
Teh Sari tersenyum tipis.
Memberi sedikit uang.
Afrizal kembali tersenyum.
Ia merasa mudah.
Sangat mudah.
Lain waktu,
ia datang ke sekolah.
Pak Kepala Sekolah sedang menerima tamu.
Berpakaian rapi.
Duduk di ruang kantor.
Afrizal mengetuk pintu.
Masuk tanpa ragu.
“Pak… minta uang…”
Tamu itu terkejut.
Pak Kepala Sekolah terdiam.
Namun tetap memberi.
Afrizal keluar.
Seperti biasa.
Tanpa rasa bersalah.
Saat bermain di rumah Daffa,
ia juga melakukan hal yang sama.
Orang tua Daffa sedang di ruang tamu.
Afrizal mendekat.
“Om… Tante… minta uang…”
Mereka saling pandang.
Lalu memberi juga.
Afrizal semakin terbiasa.
Ia tidak merasa itu salah.
Sampai suatu hari…
Ia bertemu Pak Haji.
Pak Haji berdiri di depan tokonya.
Menjual kerupuk kulit.
Banyak orang mengenalnya.
Ia ramah.
Tapi tegas.
Afrizal datang.
“Pak Haji… minta uang…”
Pak Haji tidak langsung memberi.
Ia jongkok.
Menatap Afrizal.
Mengusap kepalanya pelan.
“Afrizal,” katanya lembut,
“Pak Haji akan beri kamu uang.”
Afrizal langsung tersenyum lebar.
“Dua puluh ribu,” lanjut Pak Haji.
“Tapi kamu harus bantu dulu.”
Afrizal terdiam.
“Membantu apa?”
“Masukkan kerupuk ke plastik. Sampai sore.”
Afrizal mengernyit.
Ia tidak suka.
Itu pasti capek.
Ia ingin yang mudah.
Seperti biasa.
Tapi sebelum ia menolak,
Pak Haji sudah menggandeng tangannya.
Mengajak ke gudang.
Di dalam gudang,
tercium aroma kerupuk.
Di sana ada Mak Edah.
Ada Mak Atih.
Dan beberapa ibu lainnya.
Mereka tersenyum melihat Afrizal.
Afrizal mengenal mereka.
Ia sering meminta uang pada mereka juga.
Kini…
ia harus bekerja di depan mereka.
Afrizal duduk.
Mengambil kerupuk.
Memasukkannya ke plastik.
Satu.
Dua.
Tiga.
Awalnya lambat.
Ia mengeluh dalam hati.
Panas.
Lengket.
Membosankan.
Tangannya mulai pegal.
Tapi pekerjaan terus berjalan.
Mak Edah menyemangati.
Mak Atih tersenyum.
“Ayo, sedikit lagi,” kata mereka.
Afrizal diam.
Tapi terus bekerja.
Waktu berjalan.
Tanpa terasa…
matahari mulai turun.
Sore datang perlahan.
Afrizal berhenti.
Menghela napas panjang.
Badannya berkeringat.
Tangannya lelah.
Tapi di depannya…
ada banyak plastik kerupuk.
Seratus bungkus.
Afrizal terkejut.
“Aku… yang buat ini?”
Pak Haji datang.
Melihat hasilnya.
Ia tersenyum lebar.
“Bagus sekali!”
Afrizal hanya diam.
Masih kelelahan.
Pak Haji merogoh saku.
Memberi uang.
Afrizal melihat.
Matanya membesar.
“Lima puluh ribu? Bukannya dua puluh ribu?”
Pak Haji tertawa kecil. “Pak Haji senang,” katanya.
“Kamu bekerja dengan baik.”
Afrizal menatap uang itu.
Tangannya gemetar sedikit.
“Ini hasil kerja kamu,” lanjut Pak Haji.
“Kamu berusaha. Kamu capek.”
Ia berhenti sejenak.
“Ini lebih mulia daripada meminta-minta.”
Afrizal terdiam.
Kata-kata itu terasa berbeda.
Masuk ke hatinya.
Perlahan.
Ia teringat semua yang ia lakukan.
Meminta uang.
Tanpa usaha.
Ia menunduk.
“Besok datang lagi ya,” kata Pak Haji.
Afrizal mengangguk pelan. “Iya…”
Ia pulang.
Langkahnya tidak seperti biasa.
Lebih pelan.
Lebih tenang.
Di tangannya ada uang.
Hasil jerih payahnya sendiri.
Ia melewati tukang bakso.
Aroma kuah hangat menyapa.
Afrizal berhenti.
“Nenek suka bakso…” bisiknya.
Ia tersenyum kecil.
Membeli satu mangkuk.
Lalu berjalan pulang.
Di depan gerobak,
Nenek Uti masih berjualan.
Afrizal mendekat. “Nek…”
Nenek menoleh.
Tersenyum.
Afrizal memberikan bakso itu. “Untuk Nenek.”
Nenek terkejut. “Dari mana?”
Afrizal tersenyum. “Aku kerja hari ini…”
Afrizal bercerita tentang Pak Haji.
Nenek Uti terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
Ia memeluk Afrizal.
Hangat.
Saat itu,
Afrizal merasa sesuatu.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan.
Bangga.
Bukan karena diberi.
Tapi karena berhasil memberi.
Sejak hari itu,
Afrizal mulai berubah.
Ia tidak lagi meminta-minta.
Ia belajar bekerja.
Sedikit demi sedikit.
Karena ia sudah tahu…
Uang yang didapat dengan usaha
terasa lebih berharga.
Dan memberi dengan hasil sendiri…
terasa jauh lebih bahagia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE



