ABDULLAH bin Abu Zakariya, seorang yang dikenal gemar berjihad di jalan Allah dan menetap di Damaskus, pernah mengisahkan bagaimana ia mendidik dirinya dengan penuh kesungguhan.
Ia berkata:
“Aku melatih lisanku selama dua puluh tahun, hingga akhirnya ia menjadi lurus bagiku.”
Dalam kesempatan lain, ia juga mengungkapkan perjuangannya dalam melatih diri untuk diam:
“Aku melatih diriku untuk diam dari apa yang tidak aku perlukan selama dua puluh tahun, hingga aku mampu melakukannya sesuai dengan kehendakku.”
Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa pengendalian diri tidak lahir seketika, melainkan melalui latihan yang terus-menerus dan penuh kesabaran. Setelah dua puluh tahun mendidik dirinya, barulah ia menerapkan hasil didikannya dalam majelis ilmunya.
Salah seorang muridnya bersaksi:
“Ia tidak membiarkan seorang pun menggunjing orang lain di majelisnya. Ia berkata, ‘Jika kalian berdzikir kepada Allah, kami akan bersama kalian. Namun, jika kalian menyebut-nyebut manusia, maka kami akan meninggalkan kalian.’”
BACA JUGA: Kewara’an Ibrahim bin Adham dalam Menyewa Kendaraan
Orang-orang yang menghadiri majelisnya juga menuturkan bahwa setiap pembicaraan selain dzikir kepada Allah dianggap sebagai bentuk kelalaian. Sebaliknya, jika yang dibicarakan adalah dzikir, maka itulah keadaan terbaik bagi orang-orang yang hadir untuk mendengarkan.
Dengan demikian, dua puluh tahun pendidikan diri itu melahirkan pribadi yang tidak hanya mampu menjaga lisannya, tetapi juga membentuk lingkungan yang bersih dari kelalaian dan dipenuhi dengan ingatan kepada Allah. []
Sumber: Ibnul Jauzy, Shifatush Shafwah, Pustaka Azzam, 2015
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

