ISLAM meletakkan kasih sayang sebagai fondasi pendidikan anak. Namun, kasih sayang bukan berarti memanjakan tanpa batas. Dalam banyak ajaran, kelembutan selalu berjalan berdampingan dengan ketegasan. Di titik inilah orang tua diuji: mampu mencintai tanpa melemahkan karakter.
Sejumlah hadis menunjukkan pentingnya keseimbangan tersebut. Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Muadz bin Jabal, Rasulullah ﷺ berpesan agar orang tua tidak mengabaikan pendidikan disiplin dalam rumah tangga. Ada pula riwayat dari Ibnu Abbas tentang menggantungkan cambuk di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah—yang oleh banyak ulama dipahami sebagai simbol kewibawaan dan kontrol, bukan ajakan pada kekerasan.
Pesan moralnya jelas: anak perlu memahami batas.
Ketegasan Bukan Kekerasan
Dalam tradisi pendidikan klasik Islam, ketegasan dipahami sebagai bagian dari pembentukan akhlak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan agar anak tidak dibiasakan hidup berlebihan, tenggelam dalam kemewahan, atau selalu dituruti keinginannya.
Lingkungan pergaulan pun harus diperhatikan, karena kebiasaan hidup mewah dan manja dapat membentuk karakter lemah serta kecintaan berlebihan pada dunia.
Namun, bagaimana perspektif ilmu pendidikan modern memandang hal ini?
Perspektif Psikologi Pendidikan
Psikolog perkembangan anak seperti Diana Baumrind membagi pola asuh menjadi beberapa tipe: otoriter, permisif, dan otoritatif. Pola asuh permisif—yang terlalu menuruti keinginan anak—terbukti berkorelasi dengan rendahnya kontrol diri dan lemahnya disiplin. Sebaliknya, pola asuh otoritatif—yang hangat tetapi tegas—justru melahirkan anak yang lebih mandiri, stabil emosinya, dan bertanggung jawab.
Senada dengan itu, psikolog klinis John Gottman menekankan pentingnya emotion coaching: orang tua tetap empatik, tetapi menetapkan batas perilaku yang jelas. Anak boleh merasa marah, tetapi tidak boleh merusak atau menyakiti.
Dalam konteks ini, “menggantung tongkat” dapat dipahami sebagai simbol kehadiran aturan yang konsisten. Bukan ancaman fisik, melainkan pesan bahwa rumah memiliki norma.
Bahaya Memanjakan Secara Berlebihan
Laporan berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa anak yang selalu dituruti cenderung:
- Sulit menerima penolakan
- Minim daya tahan terhadap frustrasi
- Kurang tanggung jawab
- Rentan pada perilaku menyimpang saat tidak ada kontrol
Fenomena ini dalam literatur populer sering disebut sebagai “spoiled child syndrome”, meskipun bukan diagnosis klinis resmi. Intinya sama: terlalu banyak kemudahan melemahkan karakter.
Ironisnya, niat orang tua sering kali baik—ingin anak bahagia, tidak kekurangan, tidak merasakan kesulitan seperti yang pernah mereka alami. Namun tanpa disadari, kenyamanan yang tak berbatas dapat menjadi jebakan.
BACA JUGA: Anak-Anak yang Tidur dan Shalat Malam bersama Rasulullah ﷺ
Disiplin sebagai Bentuk Cinta
Allah Yang Maha Pengasih pun menetapkan hukum dan batasan bagi manusia. Cinta Ilahi tidak menghapus aturan. Demikian pula cinta orang tua: ia harus berpadu dengan pendidikan nilai, pembiasaan tanggung jawab, dan konsekuensi atas pelanggaran.
Ketegasan tidak identik dengan kekerasan. Kekerasan melukai martabat anak. Ketegasan justru menjaga masa depannya.
Di sinilah relevansi nasihat para ulama klasik bertemu dengan temuan psikologi modern:
anak membutuhkan kasih sayang yang hangat sekaligus pagar yang kokoh.
Maka, tidak memanjakan dan tidak menuruti semua keinginan anak bukanlah bentuk kekurangan cinta. Justru itulah cinta yang visioner—cinta yang memikirkan siapa anak itu kelak, bukan sekadar apa yang ia inginkan hari ini. []
Sumber: Jamaal Abdurrahman, Tahapan Mendidik Anak, IBS, 2005
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

