AL-QUR’AN merekam jejak panjang perselisihan manusia—bukan sekadar konflik sosial, tetapi benturan antara kebenaran dan kesombongan. Akar pertama perselisihan itu muncul sejak awal penciptaan manusia, dalam kisah Nabi Adam dan Iblis.
Allah berfirman:
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud ketika Aku memerintahkanmu?’ Ia (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” QS Al-A‘rāf: 12
Kesombongan menjadi pangkal konflik pertama. Ia lalu menjalar dalam sejarah manusia, termasuk pada kisah Qabil dan Habil—dua putra Adam—yang menunjukkan bagaimana iri hati melahirkan kekerasan.
لَىِٕنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَىَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِيۡ مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ يَّدِىَ اِلَيۡكَ لِاَقۡتُلَكَ ۚ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الۡعٰلَمِيۡنَ
“Jika engkau menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” QS Al-Māidah: 28
Memasuki era Nabi Nuh, perselisihan berkembang menjadi konflik akidah yang lebih luas.
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ…
“Manusia itu (dahulu) satu umat, kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan…” QS Al-Baqarah: 213
Namun, perselisihan terus berulang, bahkan dalam Bani Israel yang kerap menentang perintah nabi mereka.
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَاْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً…
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina…’” QS Al-Baqarah: 67
قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا…
“Mereka berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak akan memasukinya selama mereka masih di dalamnya…’” QS Al-Māidah: 24
BACA JUGA: Sejarah Shalat: Yahudi dan Nasrani pun Rukuk, Sujud, dan Bertasbih
Puncaknya, perselisihan juga terjadi saat Nabi Isa datang membawa kebenaran.
ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ …
“Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka perselisihkan tentangnya… Maka celakalah orang-orang kafir ketika menyaksikan hari yang besar.” QS Maryam: 34–37
Dari rangkaian ini, Al-Qur’an menunjukkan pola yang konsisten: perselisihan bukan karena kurangnya kebenaran, tetapi karena penolakan manusia terhadapnya. Sejarah ini menjadi cermin—bahwa konflik terbesar dalam kehidupan bukanlah antar manusia semata, tetapi antara kebenaran yang datang dari Allah dan kesombongan yang bersemayam dalam hati manusia. []
Sumber: Saad bin Sayid Qutb, Adab Ikhtilaf para Sahabat, Pustaka Al-Kautsar, 2021
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

