MUHAMMAD Hatta bin Muhammad Jamil bin Abdurrahman dikenal sebagai salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia. Namun, bagaimana masa kecilnya hingga membentuk pribadi yang demikian kokoh?
Sejak awal kehidupannya, Hatta telah menghadapi kehilangan. Ketika usianya baru delapan bulan, ayahnya, Muhammad Jamil, wafat. Karena itu, Hatta tidak pernah mengenal wajah ayahnya. Ia kemudian tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat dalam tradisi keagamaan.
Kakeknya, Syeikh Abdurrahman, adalah seorang ulama yang mendirikan surau atau tempat pendidikan agama di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sang kakek, sekaligus pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah. Di lingkungan inilah Hatta kecil dibesarkan, dalam suasana pendidikan Tarekat Naqsyabandiyah yang menekankan kedalaman spiritual.
Sejak kecil, Hatta menyaksikan bagaimana ajaran tarekat membentuk jiwa: memperhalus perasaan agama, melatih kebersihan hati, serta membiasakan dzikir dan ingatan kepada Allah. Nilai-nilai inilah yang secara perlahan tertanam dalam dirinya.
Setelah wafatnya Syeikh Abdurrahman, kepemimpinan tarekat dilanjutkan oleh putra tertuanya, Muhammad Arsyad, yang merupakan paman Hatta. Hatta sendiri mengakui kedekatannya dengan sang paman, “Aku selalu ditempatkan di lingkungan Ayah Gaekku Arsyad. Beliau sangat sayang kepadaku.”
Menariknya, nama Hatta bukan nama sebenarnya. Ayahnya memberikan nama Muhammad al-Aththar, yang diambil dari nama seorang sufi besar Persia, Fariduddin al-Aththar. Tokoh ini dikenal melalui ajaran tasawuf yang mendalam, termasuk kisah simbolik tentang burung Simurgh—sebuah perjalanan spiritual sekawanan burung yang pada akhirnya menemukan bahwa hakikat yang mereka cari adalah diri mereka sendiri.
BACA JUGA: Seberapa Jenius Bung Hatta?
Menurut M. Zein Jambek, nama “Hatta” merupakan penyesuaian dari “al-Aththar”, karena lidah masyarakat Minangkabau pada masa itu kesulitan melafalkan istilah Arab tersebut.
Dengan latar belakang seperti ini, dapat dipahami bahwa pembentukan karakter Hatta tidak hanya berasal dari pendidikan formal, tetapi juga dari lingkungan spiritual yang kuat sejak masa kecilnya—lingkungan yang menanamkan kedalaman berpikir, ketenangan jiwa, dan keteguhan prinsip. []
Sumber: Hamka, Orang-orang yang Saya Kenang, GIP, 2024
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

