DALAM memoarnya, Muhammad Hatta mengakui bahwa pembentukan dirinya tidak lepas dari pengaruh para ulama dan tokoh sufi Minangkabau. Di antara mereka adalah pamannya, Syekh Muhammad Arsyad—pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah yang mendidiknya sejak kecil—serta dua ulama besar lainnya, Syekh Abdullah Ahmad dan Syekh Muhammad Jamil Jambek.
Nilai-nilai yang ditanamkan para ulama ini meresap kuat dalam jiwanya. Bahkan ketika Hatta melanjutkan pendidikan ke Belanda dan berinteraksi dengan pemikiran modern, fondasi spiritual dan intelektual yang telah dibentuk sejak awal tetap melekat dan tidak mudah tergoyahkan oleh lingkungan baru.
Syekh Abdullah Ahmad, yang akrab disapa Tuan Dullah, adalah seorang ulama reformis kelahiran Padang Panjang (1878–1933). Ia dikenal sebagai tokoh penting dalam pembaruan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Abdullah Ahmad mendirikan Adabiah School pada tahun 1909 sebagai respons terhadap keterbatasan akses pendidikan formal bagi anak-anak pribumi, khususnya dari kalangan pedagang.
Selain itu, ia juga berperan dalam pendirian Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Normal Islam School di Padang. Dalam bidang jurnalistik, Abdullah Ahmad aktif menulis dan pernah menjadi ketua persatuan wartawan di Padang. Ia juga mendirikan majalah Al-Munir (1911–1916), yang menjadi salah satu media penting dalam menyebarkan gagasan pembaruan Islam. Kiprahnya meluas hingga ke organisasi pemuda seperti Jong Sumatranen Bond serta jaringan intelektual di berbagai kota.
Sementara itu, Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860/1862–1947), yang dikenal sebagai Inyiak Djambek, merupakan ulama besar dan pelopor gerakan pembaruan Islam di Minangkabau. Bersama tokoh-tokoh seperti Haji Rasul dan Syekh Abdullah Ahmad, ia termasuk dalam kelompok “Kaum Muda” yang mendorong pemurnian ajaran Islam.
BACA JUGA: Sisi Lain Muhammad Hatta: Masa Kecil dalam Didikan Tarekat Naqsyabandiyah
Ia dikenal sebagai ahli ilmu falak (astronomi Islam) terkemuka, yang berjasa dalam penentuan arah kiblat dan penyusunan jadwal imsakiyah. Pendidikan dasarnya ia tempuh di Minangkabau sebelum melanjutkan studi ke Mekkah. Di sana, ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan mendalami berbagai ilmu agama, termasuk tarekat. Ia bahkan memperoleh ijazah dalam Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah.
Dengan latar pendidikan dan pengaruh dari ketiga ulama ini, Hatta tidak hanya tumbuh sebagai seorang intelektual modern, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kedalaman spiritual, keteguhan prinsip, dan integritas yang kuat. []
Sumber: Hamka, Orang-orang yang Saya Kenang, GIP, 2024
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

