Di Akhir Zaman, Tak Ada yang Sanggup Menjadi Imam Shalat

5 Min Read
Foto: Freepik

SALAH satu tanda dekatnya hari kiamat adalah menyebarnya kebodohan di tengah-tengah manusia. Fenomena ini bukan sekadar berkurangnya ilmu, tetapi hilangnya orang-orang yang benar-benar memahami agama dan mampu mengajarkannya. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tetap beribadah secara lahiriah, namun kehilangan ruh ilmu yang menjadi penopangnya.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang kondisi ini dalam banyak hadits. Di antaranya, dari Salamah binti Al-Hurr RA, beliau bersabda, “Sesungguhnya, salah satu tanda hari kiamat adalah nanti orang-orang akan saling mendorong untuk menjadi imam di masjid, namun mereka tidak mendapatkan seorang pun yang bisa menjadi imam,” (HR. Abu Dawud). Hadits ini menggambarkan betapa langkanya orang yang layak menjadi imam, bukan karena tidak ada manusia, tetapi karena tidak ada yang memiliki ilmu dan keberanian untuk memikul amanah tersebut.

Hal ini diperkuat dengan riwayat dari Abdullah bin ‘Amr RA yang mengatakan, “Akan tiba satu zaman yang ketika itu orang-orang berkumpul dan melaksanakan shalat di masjid, namun tak ada seorang mukmin pun di antara mereka.” Ungkapan ini bukan berarti mereka bukan muslim secara identitas, tetapi menunjukkan lemahnya iman dan hilangnya kualitas keimanan yang sejati.

Berfatwa tanpa Ilmu

Fenomena menyebarnya kebodohan juga dijelaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali cabut dari dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Hadits ini memberi penjelasan mendalam: kebodohan bukan datang tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang—yakni wafatnya para ulama tanpa adanya generasi penerus yang setara. Ketika ulama hilang, yang tampil adalah orang-orang yang berbicara agama tanpa dasar ilmu. Inilah awal dari kerusakan yang lebih luas.

Dalam konteks imam shalat, posisi ini bukan sekadar berdiri di depan jamaah. Imam adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qurannya dan paling memahami hukum-hukum shalat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Al-Qurannya…” (HR. Muslim). Namun jika semua orang tidak memenuhi kriteria ini, maka akan terjadi kebingungan dan saling lempar tanggung jawab.

Lebih jauh lagi, kondisi ini juga menunjukkan lunturnya rasa tanggung jawab terhadap agama. Orang-orang enggan menjadi imam bukan karena tawadhu’, tetapi karena memang tidak mampu. Ini berbeda dengan sikap para salaf dahulu yang merasa berat menjadi imam karena takut tidak amanah, padahal mereka memiliki ilmu yang memadai.

Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa kondisi seperti ini belum sepenuhnya terjadi di zaman sekarang. Kita masih menyaksikan banyak majelis ilmu, para penghafal Al-Qur’an, serta ulama yang membimbing umat. Di berbagai tempat, masjid masih hidup dengan kajian dan aktivitas keilmuan. Ini adalah nikmat besar yang patut disyukuri.

BACA JUGA: Tanda Akhir Zaman: Jazirah Arab Menghijau

Jangan Dibiarkan

Namun, tanda-tanda ke arah sana mulai terlihat. Di sebagian tempat, semakin sedikit orang yang benar-benar serius mempelajari agama. Banyak yang merasa cukup dengan pengetahuan dangkal, atau bahkan belajar agama hanya dari sumber yang tidak jelas. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin gambaran dalam hadits tersebut akan menjadi kenyataan.

Karena itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjaga ilmu agama, minimal untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Belajar membaca Al-Qur’an dengan benar, memahami dasar-dasar ibadah, serta menghadiri majelis ilmu adalah langkah penting untuk mencegah meluasnya kebodohan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Al-Areifi dalam bukunya, tanda-tanda kiamat sering kali bukan sesuatu yang tiba-tiba, tetapi proses yang perlahan. Jika umat lengah, maka kebodohan akan semakin merajalela.

Akhirnya, penting bagi kita untuk tidak sekadar membaca tanda-tanda kiamat, tetapi mengambil pelajaran darinya. Sebab, tujuan diberitakannya hal tersebut adalah agar manusia bersiap, memperbaiki diri, dan kembali kepada ilmu serta iman sebelum datang masa yang penuh kegelapan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *