DALAM kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri (jima’) bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari ibadah dan bentuk kasih sayang yang dianjurkan dalam Islam. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan: bagaimana jika seorang istri sering menolak ajakan suami untuk berhubungan? Apakah suami boleh menceraikannya karena hal tersebut?
Kedudukan Jima’ dalam Pernikahan
Islam memandang hubungan suami istri sebagai hak dan kewajiban bersama. Suami memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan dari istri, termasuk dalam hal jima’, selama dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti.
BACA JUGA: Kenapa Istri Masih Suka Malu-malu Minta Jima sama Suami?
Dalam banyak hadis disebutkan bahwa istri dianjurkan untuk memenuhi ajakan suami selama tidak ada uzur syar’i (alasan yang dibenarkan), seperti sakit, kelelahan berat, atau kondisi haid.
Ketika Istri Menolak Tanpa Alasan
Jika seorang istri menolak ajakan suami tanpa alasan yang jelas dan dilakukan terus-menerus, maka hal ini bisa termasuk bentuk nusyuz (pembangkangan dalam rumah tangga). Dalam kondisi seperti ini, Islam tidak langsung menganjurkan perceraian.
Ada tahapan yang dianjurkan:
- Menasihati dengan baik – Suami harus berbicara dengan lembut dan penuh hikmah.
- Pisah ranjang sementara – Memberi waktu agar istri merenung.
- Pendekatan yang lebih tegas namun tetap tanpa kekerasan – Sebagaimana dijelaskan dalam batas syariat.
Bolehkah Sampai Cerai?
Perceraian (talak) dalam Islam adalah sesuatu yang halal, tetapi sangat dibenci jika dilakukan tanpa alasan yang kuat. Jika penolakan istri terhadap jima’:
- Terjadi terus-menerus
- Tanpa alasan yang dibenarkan
- Tidak berubah meski sudah dinasihati dan ditempuh berbagai cara
Maka suami boleh mempertimbangkan perceraian sebagai jalan terakhir.
Namun, penting dipahami bahwa:
- Perceraian bukan solusi pertama
- Harus didahului dengan usaha memperbaiki hubungan
- Perlu introspeksi dari kedua belah pihak
Kemungkinan Penyebab yang Perlu Dipahami
Sering kali penolakan istri bukan semata-mata karena membangkang. Bisa jadi ada faktor lain seperti:
- Kelelahan fisik atau stres
- Masalah emosional dalam hubungan
- Kurangnya perhatian atau komunikasi dari suami
- Gangguan kesehatan
Jika hal-hal ini tidak dipahami, perceraian bisa menjadi keputusan yang tergesa-gesa.
Pendekatan yang Lebih Bijak
Sebelum sampai pada perceraian, ada beberapa langkah bijak yang bisa ditempuh:
- Perbaiki komunikasi antara suami dan istri
- Bangun kembali kedekatan emosional
- Bersikap lembut dan penuh kasih
- Jika perlu, konsultasi dengan ahli atau tokoh agama
BACA JUGA: Ini Tidak Boleh Dilakukan Suami Istri Muslim ketika Jima
Menceraikan istri karena menolak jima’ memang diperbolehkan dalam kondisi tertentu, tetapi bukan pilihan utama. Islam sangat menganjurkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan menyelesaikan masalah dengan cara yang bijak dan penuh kesabaran.
Perceraian seharusnya menjadi jalan terakhir setelah semua upaya perbaikan dilakukan. Sebab, pernikahan bukan hanya soal hak, tetapi juga tentang pengertian, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

