SYAIKH Ahmed Yassin lahir di Al-Jura, wilayah Mandat Palestina, sekitar tahun 1930-an. Masa kecilnya diwarnai tragedi: ayahnya meninggal saat ia masih kecil, dan keluarganya terusir ke Gaza akibat perang 1948. Ia tumbuh sebagai pengungsi di tengah keterbatasan.
Pada usia 12 tahun, sebuah kecelakaan saat berolahraga menyebabkan cedera tulang belakang serius yang membuatnya lumpuh hampir total dan bergantung pada kursi roda seumur hidup. Kondisi ini tidak hanya membatasi fisiknya, tetapi juga menghambat pendidikannya, hingga ia harus melanjutkan belajar secara mandiri di rumah.
Meski demikian, Yassin dikenal sebagai sosok yang tekun membaca dan mendalami berbagai disiplin, terutama agama, filsafat, dan politik. Ia kemudian menjadi guru bahasa Arab di Gaza dan mulai aktif berdakwah. Ceramah-ceramahnya menarik perhatian luas, menjadikannya figur berpengaruh di tengah masyarakat.

Pada 1987, ia mendirikan Hamas dan menjadi pemimpin spiritualnya. Bagi pendukungnya, ia adalah simbol perlawanan; sementara bagi pihak lain, ia dianggap tokoh kontroversial dalam konflik Palestina-Israel.
Pada 2004, Yassin tewas dalam serangan militer Israel setelah keluar dari salat Subuh di Gaza. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk memengaruhi sejarah dan menggerakkan perubahan besar. []
Sumber;
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

