IBNU Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa tauhid adalah tempat kembali dan mengadunya seluruh makhluk, baik para wali Allah maupun musuh-musuh-Nya.
Dalam kondisi tertentu, bahkan orang-orang kafir pun kembali kepada tauhid—bukan karena keyakinan yang kokoh, tetapi karena keadaan yang memaksa mereka menyadari kelemahan diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Apabila mereka naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya. Namun ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan-Nya.”
(QS. Al-Ankabut: 65)
Ayat ini menggambarkan satu kenyataan mendalam tentang manusia:
bahwa dalam kondisi genting, fitrah tauhid muncul secara spontan. Ketika ombak mengguncang dan harapan kepada makhluk terputus, mereka kembali hanya kepada Allah—memohon dengan penuh keikhlasan.
Dalam kondisi seperti itu, Allah tetap mengabulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kesulitan dunia.
Namun, ketika keselamatan telah diberikan, sebagian dari mereka kembali kepada kesyirikan, seakan-akan lupa kepada siapa mereka pernah bersujud dalam keadaan terdesak.
Berbeda dengan orang-orang kafir, para wali Allah menjadikan tauhid bukan hanya sebagai tempat kembali saat terdesak, tetapi sebagai jalan hidup yang terus dijaga dalam setiap keadaan.
Tauhid bagi mereka tidak hanya menyelamatkan dari kesulitan dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan di akhirat.
Orang kafir kembali kepada Allah saat tidak punya pilihan,
sedangkan wali Allah kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan. []
Sumber
Said bin Ali Wahf Al-Qhatani, Rahasia Doa yang Terkabul, Pustaka Iltizam, 2008
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

