Komparasi Sistem Pemeliharaan Taurat dan Al-Qur’an

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

DI dalam Al-Qur’an terdapat dua ayat yang menarik untuk dibandingkan.

Tentang Taurat, Allah berfirman:

«”…para rabi dan ulama mereka (memberi putusan) sebab mereka diperintahkan untuk menjaga Kitab Allah…” (Al-Mā’idah: 44)»

Sedangkan tentang Al-Qur’an, Allah berfirman:

«”Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)»

Perbedaan redaksi ini sangat mencolok.

Pada Taurat, Allah menyebut bahwa para ulama dan pemuka agama diperintahkan untuk menjaganya (bimā ustuhfiẓū min kitābillāh). Penjagaan wahyu dibebankan kepada manusia.

Sedangkan pada Al-Qur’an, Allah tidak mengatakan bahwa manusia yang menjaganya. Allah sendiri yang mengambil tanggung jawab tersebut:

«”Sesungguhnya Kami yang memeliharanya.”»

Seolah-olah Al-Qur’an sedang memperlihatkan dua model penjagaan wahyu yang berbeda, beserta hasil yang berbeda pula.

BACA JUGA: Mengapa Kisah Bani Israil dan Sikap Yahudi Diapit oleh Kisah Nabi Adam dan Ibrahim?

Ketika Penjagaan Diserahkan kepada Manusia

Al-Mā’idah ayat 44 menjelaskan bahwa Taurat diturunkan sebagai petunjuk dan cahaya. Para nabi Bani Israil berhukum dengannya. Setelah masa para nabi berlalu, tugas menjaga dan menegakkan Taurat dilanjutkan oleh para rabi dan ulama mereka.

Mereka bukan hanya diminta mengajarkan Taurat, tetapi juga menjadi saksi atas kemurniannya.

Namun amanah itu tidak seluruhnya dijaga.

Allah kemudian menjelaskan akibatnya:

«”Mereka mengubah firman-firman dari tempat-tempatnya dan melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.” (Al-Mā’idah: 13)»

Masalah utama yang disebut Al-Qur’an bukan sekadar hilangnya sebagian teks, melainkan hilangnya integritas para penjaganya.

Mereka mengubah makna, menyembunyikan hukum yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka, dan menukar ayat-ayat Allah dengan keuntungan dunia yang sedikit.

Karena itu Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa kerusakan tidak bermula dari kitab yang diturunkan, tetapi dari manusia yang diberi amanah untuk menjaganya.

https://s.shopee.co.id/qfwerv4Qa

Contoh Penyelewengan Hukum Taurat

Salah satu contoh yang disebut dalam tafsir adalah hukum rajam bagi pezina yang telah menikah.

Sebagian pemuka Yahudi mengetahui hukum tersebut terdapat dalam Taurat, namun mereka menggantinya dengan hukuman yang lebih ringan demi melindungi kalangan tertentu.

Akibatnya, hukum Allah tidak lagi menjadi standar tertinggi. Kepentingan manusia mulai mengambil alih posisi wahyu.

Karena itu Allah menegaskan:

«”Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Al-Mā’idah: 44)»

Ayat ini turun dalam konteks mereka yang mengetahui hukum Allah tetapi sengaja menggantinya demi kepentingan tertentu.

Hilangnya Taurat Asli

Para ahli sejarah Yahudi dan Nasrani mencatat bahwa naskah Taurat asli tidak lagi berada di tangan Bani Israil setelah berbagai peristiwa besar yang menimpa mereka.

Di antara peristiwa yang sering disebut adalah penaklukan Babilonia yang menghancurkan Baitul Maqdis dan menyebabkan tercerainya komunitas Yahudi.

Sebagian isi Taurat tetap diwariskan, tetapi naskah asli yang pertama kali diterima Nabi Musa tidak lagi dapat dilacak secara utuh.

Al-Qur’an mengisyaratkan keadaan ini ketika menyatakan bahwa mereka:

«”melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.”»

Ketika penjagaan wahyu bergantung sepenuhnya pada manusia, kelemahan manusia ikut menentukan nasib kitab tersebut.

Al-Qur’an dan Jaminan Penjagaan Langsung dari Allah

Berbeda dengan Taurat, Al-Qur’an datang dengan sebuah janji yang belum pernah dinyatakan secara eksplisit terhadap kitab-kitab sebelumnya:

«”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)»

Jaminan ini bukan berarti manusia tidak memiliki peran.

Justru Allah menjaga Al-Qur’an melalui sebab-sebab yang diciptakan-Nya.

Sejak masa Rasulullah ﷺ, setiap ayat yang turun langsung:

– dihafalkan para sahabat,
– dituliskan oleh para penulis wahyu,
– dibaca dalam salat setiap hari,
– diajarkan kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, Al-Qur’an terpelihara melalui dua jalur sekaligus: hafalan dan tulisan.

Sistem Penjagaan yang Berlapis

Ada beberapa lapisan penjagaan yang membuat Al-Qur’an unik dalam sejarah kitab suci.

1. Pengawasan Langsung Rasulullah ﷺ

Setiap kali wahyu turun, Rasulullah menunjukkan letak ayat dalam surah dan memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya.

Beliau juga memeriksa hafalan para sahabat dan membetulkan bacaan mereka.

2. Murajaah Bersama Jibril

Setiap tahun Malaikat Jibril meninjau kembali seluruh wahyu yang telah turun bersama Rasulullah.

Pada tahun wafat beliau, peninjauan itu dilakukan dua kali.

3. Ribuan Penghafal

Al-Qur’an tidak bergantung pada satu manuskrip.

Ia hidup dalam dada ribuan sahabat yang menghafalnya.

Karena itu, hilangnya satu naskah tidak berarti hilangnya Al-Qur’an.

4. Kodifikasi Para Sahabat

Pada masa Abu Bakar, Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf resmi.

Pada masa Utsman bin Affan, mushaf tersebut diseragamkan dan disebarkan ke berbagai wilayah Islam.

Standar bacaan dan tulisan pun terjaga hingga sekarang.

Janji Allah yang Terbukti Sepanjang Sejarah

Selama lebih dari empat belas abad, umat Islam terus menghafal, membaca, mengajarkan, dan menyalin Al-Qur’an.

Generasi berganti, kerajaan runtuh, bahasa berubah, tetapi teks Al-Qur’an tetap sama.

Miliaran mushaf yang beredar di berbagai belahan dunia merujuk pada sumber yang sama.

Jutaan penghafal Al-Qur’an di berbagai negara mampu mengoreksi kesalahan cetak hanya dengan hafalan mereka.

Fenomena seperti ini tidak memiliki padanan yang sama dalam sejarah kitab-kitab sebelumnya.

BACA JUGA: Kehancuran Yahudi Menurut Taurat dan Rabi Yahudi

Pelajaran Besar dari Dua Kisah

Perbandingan antara Taurat dan Al-Qur’an mengajarkan sebuah pelajaran penting.

Taurat menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika manusia gagal menjaga amanah wahyu.

Al-Qur’an menunjukkan bagaimana Allah menjaga kitab-Nya melalui jaringan hafalan, tulisan, pendidikan, dan generasi yang terus bersambung.

Karena itu, sejarah Taurat bukan sekadar kisah tentang Bani Israil, melainkan peringatan bagi setiap generasi beriman.

Sedangkan sejarah Al-Qur’an merupakan bukti nyata dari janji Allah:

«”Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”»

Jika Taurat mengajarkan pentingnya amanah dalam menjaga wahyu, maka Al-Qur’an memperlihatkan bagaimana Allah sendiri menyempurnakan penjagaan itu hingga akhir zaman. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *