MENGAPA ada anak yang mampu bangkit setelah diejek, sementara ada pula yang kehilangan kepercayaan diri hingga bertahun-tahun?
Sering kali penyebabnya bukan terletak pada berat atau ringannya ejekan yang diterima, melainkan pada siapa yang pertama kali menyambut luka itu ketika ia pulang ke rumah.
Seorang anak yang diejek temannya tidak hanya membawa pulang cerita. Ia membawa pulang rasa malu, marah, bingung, bahkan pertanyaan tentang harga dirinya. Pada saat itulah orang tua menentukan arah: apakah luka itu akan sembuh, atau justru semakin dalam.
Menariknya, Al-Qur’an memberikan pola pendampingan yang sangat lembut. Ketika Rasulullah ﷺ menjadi sasaran ejekan para pembesar Quraisy, Allah tidak langsung memerintahkan beliau untuk membalas ataupun mengabaikan hinaan tersebut. Allah terlebih dahulu mengobati jiwanya.
BACA JUGA: Momen Orang Tua Mengarahkan Anak: Belajar dari Cara Al-Qur’an Berkisah
Pertama, Akui Bahwa Anak Memang Terluka
Banyak orang tua tanpa sadar memotong perasaan anak dengan kalimat seperti, “Sudahlah, jangan dipikirkan,” atau, “Masa begitu saja menangis?”
Padahal, Allah sendiri tidak mengabaikan kesedihan Rasulullah ﷺ.
«وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr: 97)»
Allah mengetahui kesedihan Nabi sebelum memberikan solusi.
Demikian pula orang tua. Dengarkan cerita anak sampai selesai. Biarkan ia menangis bila perlu. Peluklah ia dan katakan, “Ayah dan Ibu tahu itu pasti menyakitkan. Terima kasih sudah mau bercerita.”
Anak yang merasa dipahami akan lebih mudah menerima nasihat.
Kedua, Bangun Rasa Aman
Setelah hati anak mulai tenang, barulah tanamkan keyakinan bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh ejekan teman-temannya.
Allah lebih dahulu menenangkan Rasulullah ﷺ dengan firman-Nya:
«اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang akan memeliharamu dari orang-orang yang memperolok-olokkanmu.” (QS. Al-Hijr: 95)»
Pesan ini juga penting untuk anak.
Katakan kepadanya, “Temanmu boleh berkata apa saja, tetapi itu tidak mengubah siapa dirimu. Allah mengetahui dirimu yang sebenarnya dan Allah selalu menjagamu.”
Anak belajar bahwa penilaian manusia bukan ukuran kemuliaan dirinya.
Ketiga, Ajarkan Tempat Mengadu yang Benar
Setelah mendapatkan rasa aman dari orang tua, anak perlu diarahkan kepada tempat bergantung yang tidak pernah mengecewakan, yaitu Allah.
Karena itu Allah memerintahkan Nabi-Nya:
«فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السَّاجِدِيْنَ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 98)»
Ajarkan anak bahwa ketika hatinya terluka, ia boleh menangis di hadapan Allah.
Ajak ia berzikir, memperbaiki shalatnya, dan berdoa saat sujud. Dengan begitu, ia belajar bahwa setiap kesedihan memiliki jalan pulang kepada Rabbnya.
Keempat, Jangan Biarkan Ejekan Mengubah Karakternya
Salah satu tujuan perundungan adalah membuat korban kehilangan semangat, menjadi pemarah, atau membalas dengan keburukan yang sama.
Karena itu Allah menutup rangkaian ayat tersebut dengan pesan:
«وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)»
Pesan ini mengajarkan istiqamah.
Orang tua dapat berkata kepada anak, “Jangan biarkan ejekan membuatmu berhenti menjadi anak yang jujur, rajin, dan baik. Tetaplah menjadi dirimu yang terbaik.”
Kemenangan bukanlah ketika berhasil membalas ejekan, tetapi ketika tetap menjaga akhlak di tengah perlakuan yang menyakitkan.
BACA JUGA: Kenapa Banyak Banget Anak Remaja Laki-laki Keluar Rumah Pakai Celana Pendek Sekarang Ini?
Pelajaran bagi Orang Tua
Rangkaian ayat dalam Surah Al-Hijr mengajarkan urutan pendampingan yang sangat indah.
Pertama, mengakui luka anak.
Kedua, memberikan rasa aman.
Ketiga, menghubungkan anak kepada Allah.
Keempat, membimbingnya agar tetap istiqamah dalam kebaikan.
Rumah seharusnya menjadi tempat pertama yang menyembuhkan luka-luka yang diperoleh anak di luar. Ketika dunia membuatnya merasa tidak berharga, orang tua hadir untuk mengingatkannya bahwa kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh ejekan manusia, melainkan oleh kedekatannya kepada Allah.
Itulah bekal yang akan membentuk anak bukan hanya menjadi pribadi yang kuat menghadapi hinaan, tetapi juga menjadi pribadi yang tidak mudah menghina orang lain. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


