Madinah sedang tenang ketika seorang perempuan melangkah perlahan menuju rumah Rasulullah ﷺ.
Langkahnya tidak tergesa.
Namun setiap pijakannya terasa berat.
Namanya Dhurrah.
Putri Abu Lahab.
Nama yang selalu mengundang bisik-bisik.
Nama yang mengingatkan orang kepada seorang lelaki yang diabadikan Al-Qur’an sebagai penentang dakwah.
“Tabbat yadā Abī Lahab…”
Ayahnya telah memilih jalannya.
Tetapi ia tidak ingin hidup dalam bayang-bayang pilihan itu.
Dhurrah telah memeluk Islam.
Ia meninggalkan Makkah.
Hijrah menuju Madinah demi menyelamatkan imannya.
BACA JUGA: 2 Menantu Rasulullah Ini Ternyata Anak dari Abu Lahab
Namun ternyata hijrah tidak menghapus seluruh luka.
Sebagian manusia masih memandangnya dengan mata masa lalu.
Ada yang berkata lirih ketika ia lewat,
“Itu putri Abu Lahab.”
Ada pula yang menambahkan,
“Apa gunanya hijrah, sedangkan ayahnya penghuni neraka?”
Kalimat itu menusuk.
Bukan karena ia membela ayahnya.
Tidak.
Ia telah mengetahui kebenaran.
Ia tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tetapi seorang anak tetaplah manusia.
Mendengar nama ayahnya dijadikan ejekan berulang kali membuat dadanya sesak.
Malam-malamnya dipenuhi tangis yang tidak diketahui orang lain.
Ia tidak dapat memilih siapa ayahnya.
Namun ia telah memilih kepada siapa ia beriman.
Pada suatu hari, ia memberanikan diri datang menemui Rasulullah ﷺ.
Air matanya jatuh sebelum kata-kata sempat tersusun.
“Wahai Rasulullah,” katanya dengan suara bergetar.
“Orang-orang mencelaku karena ayahku.”
Tidak ada pembelaan untuk Abu Lahab.
Tidak ada alasan.
Yang ada hanyalah hati seorang anak yang terluka karena terus-menerus diingatkan tentang dosa orang lain.
Rasulullah ﷺ mendengarkan.
Beliau tidak memotong ucapannya.
Beliau memahami bahwa luka tidak selalu tampak di kulit.
Ada luka yang hidup di dalam hati.
Lalu beliau berdiri.
Beliau mengumpulkan para sahabat.
Dengan suara yang jelas beliau bersabda,
“Mengapa ada orang yang menyakitiku mengenai keluargaku? Ketahuilah, sesungguhnya menyakiti orang yang masih hidup karena orang yang telah meninggal adalah sesuatu yang tidak pantas.”
Ucapan itu memenuhi ruangan.
Sunyi seketika.
Para sahabat memahami maksud beliau.
Islam tidak membebankan dosa seseorang kepada keturunannya.
Setiap jiwa memikul amalnya sendiri.
Tidak seorang pun dihukum karena kesalahan ayahnya.
Tidak pula dimuliakan hanya karena nasabnya.
Yang meninggikan manusia hanyalah iman dan ketakwaan.

Hari itu Dhurrah tidak hanya mendapatkan pembelaan.
Ia mendapatkan kembali harga dirinya.
Rasulullah ﷺ tidak pernah memanggilnya sebagai “putri Abu Lahab.”
Beliau melihatnya sebagai seorang mukminah.
Sebagai saudara seiman.
Sebagai wanita yang telah memilih Allah di atas keluarganya sendiri.
Betapa indahnya Islam.
Agama ini tidak menutup pintu bagi anak seorang pendosa.
Sebagaimana ia juga tidak menjamin keselamatan anak seorang nabi.
Anak Nabi Nuh tenggelam karena kekufurannya.
Sementara Asiyah, istri Fir’aun, justru menjadi wanita penghuni surga.
Hubungan darah tidak pernah mampu menggantikan hubungan iman.
BACA JUGA: Siapa Istri Abu Lahab yang Disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Lahab?
Fragmen kehidupan Dhurrah mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia.
Jangan wariskan kebencian kepada anak-anak.
Jangan hukum seseorang dengan dosa keluarganya.
Jangan rendahkan orang yang telah bertaubat hanya karena masa lalu yang bukan miliknya.
Boleh jadi seseorang lahir dari rumah yang gelap.
Namun Allah menakdirkannya berjalan menuju cahaya.
Dan boleh jadi seseorang lahir di rumah yang penuh kemuliaan.
Namun ia sendiri memilih jalan menuju kebinasaan.
Maka jangan bertanya dari keluarga mana seseorang berasal.
Tetapi lihatlah ke mana langkahnya menuju.
Sebab di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah mereka yang memiliki nama besar.
Melainkan mereka yang, seperti Dhurrah binti Abu Lahab, berani meninggalkan bayang-bayang masa lalu demi berjalan menuju cahaya keimanan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

