BANYAK orang mengira bahwa rumah tangga para sahabat Nabi selalu berjalan tanpa badai.
Seolah-olah cinta mereka tak pernah retak.
Seolah-olah iman yang tinggi membuat semua persoalan rumah tangga lenyap begitu saja.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Para sahabat adalah manusia.
Mereka menangis.
Mereka berselisih.
Mereka juga pernah berpisah.
Namun justru di sanalah letak kemuliaan mereka. Ketika perceraian memang menjadi jalan terakhir, mereka menjalaninya dengan adab, tanpa saling menzalimi.
BACA JUGA: Sepuluh Sahabat Nabi Penjaga Kalam Ilahi
Islam tidak pernah menganggap perceraian sebagai tujuan.
Tetapi juga tidak menjadikannya sesuatu yang haram ketika kehidupan rumah tangga benar-benar tidak lagi dapat dipertahankan.
Allah sendiri menegaskan,
“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa: 130)
Ayat ini turun bukan untuk mendorong perceraian.
Melainkan untuk menghilangkan ketakutan bahwa hidup akan berakhir setelah sebuah perpisahan.
Kisah Tsabit bin Qais
Salah satu kisah paling terkenal adalah rumah tangga Tsabit bin Qais bin Syammas, sahabat yang dijuluki sebagai juru bicara Rasulullah ﷺ.
Ia dikenal sebagai sahabat yang saleh.
Akhlaknya baik.
Keimanannya tidak diragukan.
Namun ternyata istrinya datang menghadap Rasulullah ﷺ sambil berkata,
“Wahai Rasulullah, aku tidak mencela agama maupun akhlak Tsabit. Akan tetapi aku khawatir tidak dapat menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri.”
Perhatikan.
Ia tidak menuduh suaminya kasar.
Tidak mengatakan suaminya zalim.
Ia hanya mengakui bahwa hatinya sudah tidak mampu lagi mencintainya.
Rasulullah ﷺ tidak memaksa mereka untuk terus bersama.
Beliau bertanya apakah sang istri bersedia mengembalikan kebun yang dahulu dijadikan mahar.
Ia menjawab, “Ya.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
“Terimalah kembali kebun itu dan ceraikanlah dia dengan satu talak.” (HR. Bukhari)
Dari sinilah para ulama menjadikan hadis tersebut sebagai dasar hukum khulu’, yaitu perceraian atas permintaan istri dengan mengembalikan mahar.
Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy
Kisah lain adalah rumah tangga Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy.
Pernikahan mereka pada awalnya justru dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ.
Namun setelah dijalani, keduanya sering mengalami ketidakcocokan.
Zaid berkali-kali datang kepada Nabi ﷺ ingin menceraikan istrinya.
Setiap kali itu pula Rasulullah ﷺ berkata,
“Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah.”
Namun akhirnya perceraian itu tetap terjadi.
Allah kemudian mengabadikan kisah tersebut dalam Surah Al-Ahzab ayat 37 sebagai bagian dari penetapan hukum bahwa mantan istri anak angkat bukanlah mahram sebagaimana mantan istri anak kandung.
Di balik kisah itu, kita belajar bahwa bahkan rumah tangga yang dibangun oleh orang-orang terbaik pun tidak selalu berakhir bersama.
Kadang, perpisahan justru menjadi bagian dari hikmah Allah.
Perceraian Bukan Aib
Di masa Rasulullah ﷺ, para sahabat yang menghadapi persoalan rumah tangga tidak menyembunyikannya karena malu.
Mereka datang kepada Nabi.
Mereka meminta nasihat.
Mereka mencari solusi.
Jika masih mungkin diperbaiki, Nabi ﷺ mendorong perdamaian.
Jika memang sudah tidak mungkin dipertahankan, beliau memutuskan dengan penuh keadilan.
Tidak ada saling membuka aib.
Tidak ada saling menghina.

Tidak ada perang di media.
Yang ada adalah menjaga kehormatan masing-masing.
Inilah adab yang mulai hilang pada zaman kita.
Pelajaran yang Sangat Berharga
Kisah-kisah para sahabat mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan rumah tangga bukan sekadar bertahan selama puluhan tahun.
Yang lebih penting adalah apakah selama menjalani kehidupan itu kita tetap bertakwa kepada Allah.
Perceraian memang halal.
Tetapi ia bukan perkara yang boleh dipermainkan.
Ia adalah pintu darurat ketika semua jalan damai telah ditempuh.
BACA JUGA: Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Tidak Pernah Jadi Orang Miskin,
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mudah mengucapkan talak hanya karena emosi sesaat.
Sebaliknya, seseorang juga tidak boleh dipaksa bertahan dalam rumah tangga yang hanya menyisakan penderitaan dan kezaliman.
Akhirnya kita belajar bahwa para sahabat bukanlah manusia tanpa masalah.
Mereka adalah manusia yang menghadapi ujian dengan iman.
Ada yang rumah tangganya langgeng hingga akhir hayat.
Ada pula yang harus berpisah.
Namun apa pun akhirnya, mereka tetap menjaga adab, menjaga lisan, dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.
Sebab tujuan terbesar seorang mukmin bukan sekadar mempertahankan sebuah pernikahan, melainkan mempertahankan ketakwaan hingga akhir kehidupan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


