ZINA sering dipahami hanya sebagai hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang bukan pasangan sah. Padahal, dalam ajaran Islam, ada pembahasan mengenai berbagai bentuk zina anggota tubuh, termasuk zina mata. Karena itu, muncul pertanyaan menarik: jika dibandingkan, mana yang lebih berbahaya, zina fisik atau zina mata?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami bahwa keduanya tidak berada pada tingkat yang sama. Zina fisik merupakan perbuatan zina dalam bentuk hubungan seksual yang diharamkan dan termasuk dosa besar. Sementara zina mata berkaitan dengan pandangan yang haram, terutama ketika seseorang sengaja memandang sesuatu yang tidak halal dengan dorongan syahwat atau menikmati pandangan tersebut.
BACA JUGA: Pacaran Adalah Jalan Menuju Zina, Setuju?
Zina fisik jelas memiliki konsekuensi yang sangat berat. Perbuatan tersebut bukan hanya melanggar batas yang telah ditetapkan Allah, tetapi juga dapat menghancurkan kehormatan seseorang, merusak rumah tangga, menghancurkan kepercayaan pasangan, menimbulkan fitnah, dan membawa persoalan sosial yang panjang. Karena itu, seorang muslim diperintahkan untuk menjaga kehormatan dan menjauhi segala jalan yang mengantarkan kepada zina.
Sementara itu, zina mata sering dianggap sebagai persoalan kecil karena hanya berupa pandangan. Padahal, pandangan yang tidak dijaga dapat menjadi pintu menuju perbuatan yang lebih besar. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa setiap anak Adam memiliki bagian dari zina, dan zina mata adalah pandangan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim perlu memperhatikan apa yang dilihat dan bagaimana ia menggunakan pandangannya.
Namun, perlu dibedakan antara pandangan yang tidak disengaja dengan pandangan yang sengaja dipelihara. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja secara tidak sengaja melihat orang lain atau sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Pandangan pertama yang terjadi tanpa kesengajaan tidak sama dengan ketika seseorang sengaja menatap, mengulang pandangan, mencari-cari gambar, atau menikmati sesuatu yang haram.
Di sinilah seseorang perlu mengendalikan dirinya. Ketika mata melihat sesuatu yang menarik perhatian, hati mungkin ikut terpengaruh. Jika pandangan tersebut segera dialihkan, seseorang dapat menjaga dirinya. Tetapi jika ia sengaja mempertahankan pandangan, kemudian mencari kembali objek tersebut, dorongan syahwat dapat semakin kuat.
Banyak perbuatan besar memang bermula dari sesuatu yang terlihat kecil. Seseorang mungkin awalnya hanya melihat foto di media sosial. Kemudian ia melihat kembali, mencari akun yang bersangkutan, menonton video yang semakin berani, lalu mulai berkomunikasi secara pribadi. Jika batas-batas tersebut terus dilewati, seseorang dapat semakin dekat dengan perbuatan yang lebih besar.
Karena itu, jangan sampai seseorang berkata, “Saya tidak pernah melakukan zina, jadi saya bebas melihat apa saja.” Menjaga diri dari zina bukan hanya berarti menghindari hubungan seksual yang haram. Seorang muslim juga diperintahkan untuk menjaga pandangan, hati, pikiran, dan pergaulannya.
Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Perintah ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kehormatan diri. Mata yang tidak dijaga dapat memengaruhi hati, dan hati yang terus diberi rangsangan dapat memengaruhi perilaku.
Bagi orang yang sudah menikah, menjaga pandangan juga merupakan bentuk penghormatan kepada pasangan. Jangan sampai seseorang terbiasa menikmati penampilan orang lain di media sosial, film, atau lingkungan sekitar, kemudian membandingkannya dengan pasangan sendiri. Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang tidak bersyukur dan melihat kekurangan pasangan secara berlebihan.
Namun, bukan berarti setiap orang yang pernah melihat sesuatu yang haram langsung dianggap sebagai pezina dalam pengertian zina fisik. Kita harus berhati-hati menggunakan istilah dan tidak mudah menuduh orang lain. Pembahasan mengenai zina mata adalah pengingat agar seseorang menjaga anggota tubuhnya dari maksiat, bukan alasan untuk sembarangan memberikan label kepada orang lain.
Jika seseorang pernah terjatuh dalam dosa pandangan, maka jalan keluarnya bukan putus asa. Ia dapat segera bertaubat, mengurangi sumber godaan, membersihkan media sosialnya, menghindari konten yang memancing syahwat, dan melatih diri untuk menundukkan pandangan. Perubahan tersebut mungkin membutuhkan proses, tetapi setiap usaha untuk meninggalkan maksiat merupakan langkah yang baik.
BACA JUGA: Pernah Zina Sebelum Menikah, Apakah Harus Jujur kepada Pasangan?
Jadi, zina fisik lebih berat dari sisi perbuatan dan konsekuensinya, tetapi zina mata tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi pintu menuju zina fisik dan berbagai kemaksiatan lainnya. Orang yang ingin menjaga kehormatan dirinya harus belajar mengendalikan pandangan sebelum pandangan tersebut mengendalikan dirinya.
Pada akhirnya, menjaga mata bukan hanya soal apa yang boleh atau tidak boleh dilihat. Ini juga soal menjaga hati agar tidak terbiasa menikmati sesuatu yang dilarang. Karena itu, pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri adalah: ketika menggunakan media sosial dan berada di tengah banyak godaan, apakah kita benar-benar mampu menjaga pandangan? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

