MEMILIKI gaji besar sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Rumah lebih bagus, kendaraan lebih mahal, kebutuhan keluarga terpenuhi, bahkan bisa menabung dan berlibur tanpa terlalu memikirkan biaya. Tetapi bagaimana jika penghasilan besar tersebut ternyata berasal dari transaksi yang mengandung riba? Apakah banyaknya uang otomatis berarti hidup seseorang lebih berkah?
Dalam Islam, ukuran keberkahan harta bukan hanya dilihat dari jumlahnya. Harta yang banyak belum tentu membawa ketenangan, sementara harta yang sedikit bisa saja memberikan manfaat besar bagi pemiliknya. Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya bertanya, “Berapa besar penghasilan saya?” tetapi juga perlu bertanya, “Dari mana penghasilan ini diperoleh dan bagaimana cara mendapatkannya?”
BACA JUGA: Cukupkah Gaji Rp2 Juta Sebulan Buat Biaya Hidup?
Riba merupakan perkara yang mendapat peringatan keras dalam Islam. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 275, Allah juga menggambarkan keadaan orang yang memakan riba dengan peringatan yang sangat serius.
Karena itu, jika seseorang mendapatkan penghasilan dari pekerjaan atau transaksi yang secara jelas mengandung riba, persoalannya bukan sekadar besar atau kecilnya gaji. Ada persoalan mengenai kehalalan sumber harta. Seorang muslim seharusnya tidak menjadikan besarnya penghasilan sebagai alasan untuk mengabaikan aturan agama.
Lalu bagaimana jika seseorang mendapatkan gaji besar dari perusahaan yang bergerak di bidang keuangan berbasis riba? Jawabannya perlu dilihat secara rinci. Tidak semua pekerjaan dalam sebuah perusahaan otomatis memiliki hukum yang sama. Ada perbedaan antara orang yang secara langsung menjalankan transaksi riba, orang yang mendukung prosesnya, dan pekerja yang tugasnya tidak berkaitan langsung dengan transaksi tersebut.
Karena masalah ini termasuk persoalan fikih yang cukup rinci, seseorang yang berada dalam kondisi nyata sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau ahli fikih yang memahami pekerjaannya secara detail. Jangan hanya mengambil kesimpulan berdasarkan potongan informasi dari media sosial. Jenis perusahaan, posisi pekerjaan, tugas sehari-hari, serta keterlibatan seseorang dalam transaksi harus diperhatikan.
Namun, prinsip umumnya jelas: seorang muslim harus berusaha mendapatkan harta melalui jalan yang halal. Gaji Rp5 juta dari sumber yang halal lebih layak dikejar daripada Rp50 juta yang diperoleh melalui jalan yang diharamkan. Sebab, keberkahan bukan sekadar angka yang masuk ke rekening, tetapi bagaimana harta tersebut memberikan kebaikan bagi kehidupan dan tidak menjadi sebab seseorang mendapatkan dosa.
Ada orang yang berpikir, “Yang penting saya bisa membiayai keluarga.” Alasan ini memang terdengar baik, tetapi kebutuhan keluarga tidak membuat sesuatu yang haram menjadi halal. Seorang ayah tentu memiliki kewajiban menafkahi keluarganya, tetapi nafkah tersebut juga harus diusahakan melalui jalan yang dibenarkan.
Begitu pula ketika seseorang berkata, “Saya mendapatkan banyak uang dan selalu bersedekah.” Sedekah merupakan amal yang mulia, tetapi sedekah tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan sumber harta yang haram. Dalam kaidah umum syariat, kebaikan tidak ditempuh dengan cara yang diharamkan.
Bayangkan seseorang memperoleh keuntungan besar dari transaksi riba, kemudian sebagian uang tersebut digunakan untuk bersedekah. Ia mungkin mendapatkan pujian dari manusia karena terlihat dermawan. Namun, seorang muslim tetap harus memperhatikan bagaimana harta itu diperoleh sebelum membicarakan penggunaannya.
Inilah pentingnya membedakan antara kaya dan berkah. Kaya berarti memiliki banyak harta. Berkah berarti harta tersebut mendatangkan kebaikan dan manfaat yang diridai Allah. Dua hal ini tidak selalu berjalan bersama.
Ada orang yang penghasilannya tidak terlalu besar, tetapi keluarganya hidup tenang, kebutuhan tercukupi, hubungan keluarga baik, dan hartanya memberikan manfaat. Sebaliknya, ada orang yang memiliki penghasilan sangat besar tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan, konflik, utang, keserakahan, atau berbagai masalah yang tidak pernah selesai.
Tentu kita tidak boleh memastikan bahwa setiap orang kaya pasti tidak berkah atau setiap orang miskin pasti lebih berkah. Kondisi seseorang hanya Allah yang mengetahui secara sempurna. Tetapi prinsipnya, seorang muslim harus mencari rezeki yang halal karena itulah jalan yang diperintahkan.
Al-Qur’an juga memberikan peringatan yang sangat keras mengenai riba. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 278–279, orang-orang beriman diperintahkan meninggalkan sisa riba. Bahkan ayat tersebut menyebutkan ancaman yang sangat berat bagi mereka yang tetap melanjutkan praktik riba setelah datang peringatan.
Karena itu, jika seseorang menyadari bahwa sumber penghasilannya memang berkaitan langsung dengan riba dan ia mampu meninggalkannya, hendaknya ia berusaha mencari alternatif pekerjaan yang halal. Perubahan tersebut mungkin tidak mudah. Bisa jadi gajinya turun drastis, harus memulai dari bawah, atau membutuhkan waktu untuk mendapatkan pekerjaan baru.
Tetapi jangan lupa, rezeki bukan hanya berasal dari satu pekerjaan. Allah memiliki banyak jalan untuk memberikan rezeki kepada manusia. Tugas seorang muslim adalah berusaha mencari jalan yang halal, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Bagi seseorang yang sudah terlanjur terlibat dalam riba, jangan pula merasa bahwa dirinya sudah tidak memiliki harapan. Pintu taubat tetap terbuka. Yang diperlukan adalah mengakui kesalahan, menyesal, berhenti dari praktik yang haram, dan berusaha memperbaiki keadaan sesuai tuntunan syariat.
Jika terdapat harta yang diperoleh melalui cara yang haram, persoalan bagaimana memperlakukannya juga membutuhkan penjelasan dari ulama yang kompeten karena rinciannya dapat berbeda sesuai kasus. Jangan sembarangan menganggap seluruh harta otomatis boleh digunakan atau sebaliknya langsung mengambil keputusan tanpa memahami kewajiban yang terkait dengan harta tersebut.
Pada akhirnya, gaji besar bukan jaminan kehidupan yang berkah. Rumah mewah, kendaraan mahal, rekening penuh, dan gaya hidup tinggi tidak otomatis menunjukkan bahwa Allah meridai sumber kekayaan seseorang. Seorang muslim justru harus lebih berhati-hati ketika mendapatkan banyak harta karena semakin besar harta, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Maka, ketika memilih pekerjaan, jangan hanya melihat angka gaji. Perhatikan juga bidang usaha perusahaan, tugas yang akan dikerjakan, akad yang terlibat, serta apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan prinsip syariat. Jika harus memilih antara penghasilan besar dari sumber yang meragukan dan penghasilan lebih kecil tetapi jelas halal, jangan terburu-buru menganggap pilihan pertama lebih baik.
Sebab, rezeki yang halal mungkin terlihat sedikit di mata manusia, tetapi dapat menjadi sumber ketenangan dan kebaikan yang jauh lebih besar. Sedangkan harta yang banyak tetapi diperoleh dengan cara yang dilarang justru bisa menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan.
BACA JUGA: 10 Hal yang Harus Kamu Ingat setelah Gajian
Jadi, apakah gaji besar yang berasal dari riba itu berkah? Jika memang sumber penghasilan tersebut berasal dari praktik riba yang diharamkan, seorang muslim tidak seharusnya menganggap besarnya gaji sebagai tanda keberkahan. Yang perlu dikejar bukan sekadar banyaknya uang, tetapi rezeki yang halal, baik, dan diridai Allah.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan “Seberapa kaya saya?” melainkan “Apakah harta yang saya bawa pulang diperoleh dengan cara yang Allah sukai?” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

