PERJALANAN umat Islam ternyata pernah dikabarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dalam sebuah hadis.
Hadis tersebut menjelaskan adanya beberapa fase kepemimpinan dan kekuasaan yang akan dilalui umat ini.
Di dalam hadis itu disebutkan fase kenabian, khilafah mengikuti manhaj kenabian, mulkan ‘āḍḍan, mulkan jabrīyyan, lalu kembali lagi kepada khilafah mengikuti manhaj kenabian.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 18406. Sejumlah ulama hadis menilai sanadnya hasan.
1. Masa Kenabian
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ
“Kenabian akan ada di tengah kalian selama Allah menghendakinya…” (HR. Ahmad)
Ini adalah fase ketika Rasulullah Muhammad ﷺ diutus oleh Allah SWT.
Pada masa ini, wahyu turun kepada Rasulullah ﷺ. Al-Qur’an diturunkan, syariat Islam disampaikan, dan fondasi umat Islam dibangun.
Kemudian Rasulullah ﷺ wafat.
Dengan wafatnya beliau, masa kenabian pun berakhir, karena Rasulullah Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir.
BACA JUGA: 8 Kesulitan di Akhir Zaman yang Harus Diwaspadai
2. Khilafah di Atas Manhaj Kenabian
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
“Kemudian akan ada khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian…” (HR. Ahmad)
Fase ini secara umum dipahami sebagai masa Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Mereka memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Kepemimpinan pada masa ini berusaha berjalan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti jalan Rasulullah ﷺ.
Fase ini kemudian berakhir sebagaimana semua fase sebelumnya terjadi sesuai kehendak Allah.
3. Mulk ‘Adhan atau Mulkan ‘Aḍḍan
Berikutnya Nabi ﷺ bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا
“Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit…” (HR. Ahmad)
Inilah istilah yang mungkin Anda maksud: Mulkan ‘Aḍḍan (مُلْكًا عَاضًّا), bukan Mulkan Adhon.
Secara bahasa, ‘āḍḍ berkaitan dengan “menggigit” atau “menggenggam erat”. Para ulama menjelaskan istilah ini sebagai bentuk kekuasaan kerajaan yang kuat dan cenderung diwariskan atau dipegang secara turun-temurun.
Namun, kita perlu berhati-hati.
Jangan sembarangan menunjuk satu negara, satu kerajaan, atau satu tokoh tertentu lalu memastikan, “Inilah yang dimaksud hadis!”
Hadis ini berbicara tentang fase secara umum, sedangkan penerapan secara sangat spesifik terhadap setiap periode sejarah memerlukan pembahasan ilmiah yang hati-hati.
4. Mulkan Jabrīyyan: Kekuasaan yang Memaksa
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً
“Kemudian akan ada kekuasaan yang memaksa…” (HR. Ahmad)
Istilah mulk jabrīyyah berasal dari kata yang berkaitan dengan paksaan atau kekuasaan yang menundukkan.
Secara umum, istilah ini dipahami sebagai suatu bentuk kekuasaan yang memiliki unsur pemaksaan dan dominasi yang kuat.
Tetapi lagi-lagi, kita tidak boleh gegabah menentukan:
“Sekarang pasti fase ini!”
Atau:
“Negara tertentu pasti yang dimaksud Nabi!”
Sebab hadis tidak menyebut nama negara, tanggal, atau tahun.
Yang disampaikan kepada kita adalah gambaran tentang adanya fase-fase kekuasaan dalam perjalanan umat.
5. Kembali kepada Khilafah di Atas Manhaj Kenabian
Ini bagian yang membuat banyak orang tertarik.
Rasulullah ﷺ melanjutkan:
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ
“Kemudian akan ada kembali khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)
Setelah menyampaikan hal tersebut, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ kemudian diam.
Hadis ini memberikan kabar tentang kembalinya suatu kepemimpinan yang berjalan di atas manhaj kenabian. Namun, hadis ini tidak menyebut kapan tepatnya hal itu terjadi dan siapa pemimpinnya.
Karena itu, kita tidak boleh menetapkan tanggal kemunculannya atau mengklaim seseorang secara pasti sebagai tokoh yang dimaksud tanpa dalil yang jelas.
BACA JUGA: 7 Prediksi Akhir Zaman yang Menjadi Kenyataan: Bukti Kenabian Rasulullah Muhammad ﷺ
Jangan Hanya Sibuk Menebak Kita Ada di Fase Mana
Inilah pelajaran yang sangat penting.
Banyak orang membaca hadis ini lalu langsung sibuk bertanya:
“Sekarang kita sedang berada di fase nomor berapa?”
Pertanyaan itu memang menarik.
Tetapi jangan sampai kita lupa pada pertanyaan yang lebih penting:
“Apa yang sudah kita lakukan untuk agama ini?”
Hadis tersebut bukan alasan untuk duduk diam sambil menunggu perubahan zaman.
Kita tetap diperintahkan memperbaiki diri, menjaga shalat, memperkuat tauhid, menuntut ilmu, mendidik keluarga, berlaku adil, dan beramal saleh.
Kesimpulan
Berdasarkan hadis tersebut, terdapat 5 fase:
1. Kenabian.
2. Khilafah di atas manhaj kenabian.
3. Mulkan ‘Aḍḍan atau kekuasaan yang menggigit.
4. Mulkan Jabrīyyan atau kekuasaan yang memaksa.
5. Kembalinya khilafah di atas manhaj kenabian.
Semua fase itu berada dalam ketetapan Allah SWT.
Yang paling penting bagi kita bukan sekadar menjadi ahli dalam menebak zaman.
Tetapi menjadi hamba Allah yang tetap beriman dan beramal saleh di zaman apa pun Allah menempatkan kita. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


