Apakah Benar AI Menghabiskan Air di Bumi Hingga Jadi Panas?

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

BELAKANGAN sering muncul klaim bahwa AI menghabiskan begitu banyak air sampai-sampai air di Bumi bisa habis dan membuat suhu Bumi semakin panas.

Benarkah seseram itu?

Jawabannya: ada bagian yang benar, tetapi klaimnya perlu diluruskan.

1. AI Memang Membutuhkan Air

AI berjalan menggunakan komputer-komputer berukuran sangat besar yang berada di data center.

Komputer tersebut bekerja keras dan menghasilkan panas. Karena itu, data center membutuhkan sistem pendingin.

Sebagian sistem pendingin menggunakan air, terutama teknologi evaporative cooling, sehingga memang ada konsumsi air.

Tetapi bukan berarti setiap kali kita bertanya kepada AI, ada sejumlah air yang langsung “dihabiskan” dari Bumi.

Banyak faktor yang menentukan penggunaan air, termasuk lokasi data center dan teknologi pendinginnya.

Bahkan, sebagian data center modern menggunakan sistem closed-loop cooling, yang mengedarkan kembali air dalam sistem sehingga kebutuhan air baru dapat ditekan.

BACA JUGA: Hal-hal yang Benar-benar Terjadi dan Digambarkan di Film Terminator 1, 2, dan 3

2. Lalu Kenapa AI Disebut Bisa Membuat Bumi Panas?

Masalah yang lebih besar sebenarnya bukan AI “memanaskan Bumi” secara langsung.

Masalahnya adalah energi yang dibutuhkan data center.

Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Jika listrik tersebut berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil seperti batu bara dan gas, proses produksinya dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Menurut International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik data center global mencapai sekitar 415 TWh pada 2024, atau sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia.

Dan kebutuhan tersebut terus meningkat.

3. AI Memang Sedang Membuat Kebutuhan Energi Naik

AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kebutuhan listrik data center.

IEA memperkirakan konsumsi listrik data center secara global dapat meningkat menjadi sekitar 950 TWh pada 2030, kira-kira lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.

Artinya, AI memang punya jejak lingkungan yang nyata.

https://s.shopee.co.id/AKYBBuwKVd

Namun, jangan dibalik menjadi:

“AI sebentar lagi menghabiskan seluruh listrik dan air di Bumi.”

Itu berlebihan.

Data center diperkirakan masih menyumbang sekitar 3% konsumsi listrik dunia pada 2030 dalam skenario dasar IEA.

4. Airnya Benar-Benar Hilang?

Nah, ini juga perlu diluruskan.

Air yang digunakan untuk pendinginan tidak berarti air di planet Bumi lenyap.

Sebagian air dikembalikan ke lingkungan atau digunakan kembali dalam sistem pendinginan. Pada sistem evaporatif, sebagian air memang dikonsumsi atau menguap dan tidak langsung kembali ke sumber air setempat.

Jadi persoalannya lebih tepat disebut tekanan terhadap sumber daya air, terutama jika data center dibangun di daerah yang memang sudah mengalami kekurangan air.

Dengan kata lain:

Bukan Bumi kehabisan air karena AI, tetapi penggunaan air oleh data center dapat menjadi masalah serius secara lokal.

5. AI Bukan Satu-Satunya Penyebab Bumi Makin Panas

Ini juga penting.

Pemanasan global bukan disebabkan oleh AI saja.

Ada banyak sumber emisi: pembangkit listrik, industri, transportasi, bangunan, pertanian, dan berbagai aktivitas manusia lainnya.

Bahkan IEA memperkirakan pertumbuhan kebutuhan listrik dunia sampai 2030 juga didorong oleh industri, penggunaan AC, kendaraan listrik, elektrifikasi, dan berbagai aktivitas lainnya, bukan hanya data center.

Jadi, menyalahkan AI sebagai satu-satunya penyebab Bumi semakin panas jelas tidak tepat.

BACA JUGA:  Duh, ChatGPT Lebih Didengar daripada Kiai Kampung?

Jadi, Haruskah Kita Berhenti Menggunakan AI?

Tidak sesederhana itu.

Yang perlu didorong adalah bagaimana AI dikembangkan dengan teknologi yang semakin hemat energi dan air.

Menariknya, efisiensi AI justru berkembang sangat cepat. IEA mencatat konsumsi energi untuk satu tugas AI terus menurun drastis karena perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak. Namun, penggunaan AI yang semakin banyak dan munculnya aplikasi yang jauh lebih berat tetap dapat membuat total konsumsi energi meningkat.

Kesimpulan

Benar, AI membutuhkan listrik dan dalam sebagian sistem pendinginan juga membutuhkan air.

Benar pula, pertumbuhan data center bisa menambah tekanan terhadap energi dan lingkungan.

Tetapi tidak benar jika dikatakan AI sedang menghabiskan air di Bumi sampai Bumi menjadi panas.

Masalah sebenarnya jauh lebih kompleks:

AI → membutuhkan data center → data center membutuhkan listrik dan pendinginan → listrik dan pendinginan punya dampak lingkungan.

Jadi, bukan berarti setiap kali kita bertanya kepada AI, Bumi langsung kehilangan segelas air dan menjadi lebih panas. Yang perlu diperhatikan adalah skala penggunaan AI secara global dan bagaimana pusat data tersebut memperoleh listrik serta mengelola airnya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *