Kamu Termasuk Kaya Jika Hari Ini Punya Makanan dan Tempat Tinggal

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang menganggap kaya berarti memiliki rumah besar, kendaraan mahal, tabungan yang banyak, atau penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan. Padahal, jika kita melihat kehidupan dari sisi yang lebih sederhana, memiliki makanan untuk hari ini dan tempat tinggal yang aman sebenarnya sudah merupakan nikmat yang sangat besar. Tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan lebih tinggi, tetapi tetap merasa kurang karena selalu membandingkan kehidupannya dengan orang yang berada di atasnya.

Bayangkan ketika pagi datang, kita masih memiliki makanan yang bisa disantap tanpa harus memikirkan apakah hari ini bisa makan atau tidak. Setelah beraktivitas, kita memiliki tempat untuk pulang, tidur dengan aman, dan berlindung dari panas maupun hujan. Hal-hal yang sering dianggap biasa tersebut sebenarnya merupakan nikmat yang sangat besar apabila dibandingkan dengan keadaan orang yang setiap hari masih berjuang mendapatkan kebutuhan paling dasar.

BACA JUGA: Kenapa Hanya Segelintir Orang yang Menjadi Super Kaya di Negeri Ini?

Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa siapa saja yang pada pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya. Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kecukupan tidak selalu harus dikaitkan dengan banyaknya harta yang dimiliki. Ada bentuk kekayaan yang sering tidak disadari karena hadir setiap hari dalam kehidupan kita.

Makanan merupakan salah satu contohnya. Ketika seseorang bisa membuka lemari atau kulkas dan menemukan sesuatu yang dapat dimakan, hal tersebut mungkin terasa sangat biasa karena sudah menjadi rutinitas. Namun bagi orang yang sedang tidak memiliki uang, kehilangan pekerjaan, atau hidup dalam kondisi sulit, mendapatkan makanan untuk satu hari saja bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Begitu pula dengan tempat tinggal. Memiliki rumah sederhana yang dapat digunakan untuk berlindung, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga merupakan nikmat yang tidak dimiliki semua orang. Rumah tidak harus mewah untuk disebut sebagai tempat yang berharga, karena fungsi utamanya adalah memberikan rasa aman dan menjadi tempat seseorang menjalani kehidupan bersama orang-orang yang dicintainya.

Sayangnya, manusia sering kehilangan kemampuan untuk menghargai nikmat karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Media sosial membuat kita mudah melihat rumah mewah, mobil baru, liburan ke luar negeri, pakaian mahal, dan gaya hidup yang terlihat sempurna. Jika tidak berhati-hati, kita bisa mulai menganggap kehidupan sendiri sebagai kekurangan hanya karena melihat pencapaian orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak selalu mengetahui utang, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, atau persoalan pribadi yang mungkin sedang mereka hadapi. Karena itu, membandingkan kehidupan kita secara langsung dengan apa yang ditampilkan orang lain sering kali membuat kita lupa menghitung nikmat yang sudah dimiliki.

https://s.shopee.co.id/W1zgA9JOC

Islam mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah. Bersyukur bukan berarti seseorang dilarang memiliki cita-cita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi berarti ia tidak meremehkan apa yang sudah diberikan kepadanya. Seseorang boleh bekerja keras untuk memiliki rumah yang lebih baik, meningkatkan penghasilan, atau mencapai tujuan finansial, sambil tetap menyadari bahwa makanan dan tempat tinggal yang dimilikinya hari ini merupakan nikmat.

Rasa syukur juga dapat mengubah cara seseorang memandang kekayaan. Orang yang selalu merasa kurang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap hidup dalam kegelisahan, sedangkan orang yang mampu mensyukuri kecukupannya dapat merasakan ketenangan meskipun hidup secara sederhana. Karena itu, kekayaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah yang tersimpan di rekening, tetapi juga dengan kemampuan menikmati dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Namun, kalimat bahwa memiliki makanan dan tempat tinggal berarti sudah kaya bukan berarti kita boleh mengabaikan orang yang masih mengalami kesulitan. Justru ketika menyadari bahwa kebutuhan dasar kita telah terpenuhi, kita seharusnya semakin mudah melihat orang lain yang belum mendapatkan nikmat yang sama. Makanan yang berlebih dapat dibagikan, sebagian rezeki dapat disedekahkan, dan kemampuan yang kita miliki dapat digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan.

Ada pula orang yang merasa hidupnya gagal karena belum memiliki rumah sendiri, padahal ia masih mampu tinggal dengan aman bersama keluarganya. Ada yang merasa miskin karena tidak memiliki mobil, padahal ia masih mempunyai kendaraan yang dapat digunakan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Cara pandang seperti ini menunjukkan bahwa rasa cukup sering kali tidak ditentukan oleh jumlah harta, tetapi oleh standar yang kita gunakan untuk menilai kehidupan sendiri.

Bukan berarti kita harus berhenti berusaha setelah memiliki makanan dan tempat tinggal. Islam tetap mendorong manusia untuk bekerja, mencari rezeki yang halal, meningkatkan kemampuan, dan memperbaiki kehidupan. Bedanya, usaha tersebut dilakukan karena ingin berkembang dan menjalankan tanggung jawab, bukan karena menganggap semua nikmat yang ada sekarang tidak berarti.

BACA JUGA: Negara Kaya Sumber Daya Alam, Mengapa Rakyatnya Masih Banyak yang Miskin?

Cobalah sesekali menghitung apa saja yang masih kita miliki sebelum mengeluhkan apa yang belum kita dapatkan. Kita masih bisa makan, memiliki tempat untuk tidur, mungkin masih memiliki keluarga yang menyayangi, tubuh yang dapat digunakan untuk bekerja, dan kesempatan untuk beribadah kepada Allah. Jika semua itu direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita mungkin akan menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum ada sampai lupa mensyukuri sesuatu yang sudah berada di depan mata.

Pada akhirnya, kaya bukan hanya tentang memiliki banyak uang. Ketika hari ini kita memiliki makanan yang cukup, tempat tinggal yang aman, kesehatan untuk menjalani aktivitas, dan hati yang masih mampu bersyukur, itu sudah merupakan bentuk kekayaan yang sangat besar. Semoga kita tidak menjadi orang yang baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah nikmat tersebut hilang, tetapi mampu mensyukurinya ketika masih memilikinya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *