Dalam Rumah Tangga, Suami Harus Mengutamakan Ibu atau Istri Sih?

Salma Fathuraini
5 Min Read
Foto: Freepik

INI salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam rumah tangga.

“Kalau sudah menikah, suami harus lebih mementingkan ibu atau istri?”

Pertanyaannya terdengar seperti harus memilih salah satu.

Padahal, dalam Islam, persoalannya tidak sesederhana itu.

Ibu punya hak. Istri juga punya hak.

Keduanya memiliki kedudukan yang berbeda.

BACA JUGA: Apa Faktor Orang dengan Mudah Membuka Aib Rumah Tangga di Medsos?

Ibu Punya Kedudukan yang Sangat Tinggi

Islam memberikan perhatian besar kepada orang tua.

Bahkan ketika menjelaskan tentang berbakti kepada orang tua, Al-Qur’an menyebut ibu secara khusus.

Allah berfirman:

«“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”»(QS. Al-Ankabut: 8)

Dalam hadis, ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darinya, Nabi ﷺ menjawab:

“Ibumu.”

Sahabat itu bertanya lagi.

Nabi ﷺ menjawab:

“Ibumu.”

Ditanya lagi.

Beliau menjawab:

“Ibumu.”

Kemudian baru:

“Ayahmu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh dan Muslim.

Jadi, kedudukan seorang ibu memang sangat besar.

https://s.shopee.co.id/50ZGP5z2kN

Tapi Istri Juga Punya Hak

Menikah bukan berarti seorang laki-laki boleh mengabaikan istrinya.

Setelah akad, muncul kewajiban baru.

Suami berkewajiban memberikan nafkah sesuai kemampuannya.

Memberikan tempat tinggal yang layak.

Memperlakukan istri dengan baik.

Dan menjaga hak-haknya.

Allah berfirman:

«“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”»(QS. An-Nisa: 19)

Nabi ﷺ juga bersabda:

«“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”»

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Jadi, berbakti kepada ibu tidak boleh menjadi alasan untuk menzalimi istri.

Apakah Istri Harus Selalu Mengalah kepada Ibu Mertua?

Tidak otomatis.

Ibu mertua tetap harus dihormati.

Tetapi istri bukan bawahan ibu mertua.

Ibu mertua juga bukan pihak yang memiliki semua kewenangan atas kehidupan rumah tangga anaknya.

Suami perlu menjadi pihak yang mampu menjaga hubungan keduanya.

Kalau terjadi konflik, jangan langsung membela salah satu pihak hanya karena hubungan darah.

Lihat persoalannya.

Dengarkan keduanya.

Dan cari penyelesaian yang adil.

Kalau Ibu Membutuhkan Bantuan?

Ini juga penting.

Misalnya ibu sudah tua.

Tidak punya penghasilan.

Sedang sakit.

Atau membutuhkan pertolongan yang tidak bisa dilakukan orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, kewajiban anak kepada ibunya tetap ada.

Istri seharusnya tidak menjadi alasan seorang anak meninggalkan ibunya.

Istri, Tanda Suami yang Bahagia, zina, poligami, suami takut istri, Panggilan, haid
Foto: Freepik

Tetapi di sisi lain, kebutuhan ibu juga perlu disesuaikan dengan kemampuan anak.

Jangan sampai seorang suami memenuhi semua permintaan ibunya dengan mengorbankan hak wajib istrinya.

Islam tidak mengajarkan kita untuk memenuhi satu kewajiban dengan meninggalkan kewajiban lainnya.

Kalau Ibu Meminta Sesuatu yang Tidak Adil kepada Istri?

Ini juga sering terjadi.

Misalnya seorang ibu meminta anaknya menceraikan istrinya tanpa alasan yang dibenarkan.

Apakah suami wajib menurut?

Tidak otomatis.

Berbakti kepada orang tua bukan berarti menaati semua perintah mereka.

Ketaatan memiliki batas.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.”»

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim, dengan beberapa jalur riwayat dalam pembahasannya.

Jadi, kalau sebuah permintaan mengandung kezaliman, suami tidak boleh menjadikannya alasan untuk menzalimi istrinya.

BACA JUGA: Istri-istri Utsman bin Affan dan Jejak Kehidupan Rumah Tangganya

Kesimpulan

Jadi, Harus Pilih Ibu atau Istri?

Sebenarnya pertanyaannya perlu diubah.

Bukan:

“Pilih ibu atau istri?”

Tetapi:

“Bagaimana memenuhi hak ibu dan hak istri dengan adil?”

Ibu punya hak untuk dihormati dan dibahagiakan.

Istri punya hak untuk diperlakukan dengan baik dan mendapatkan kewajibannya sebagai pasangan.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Seorang suami justru dituntut untuk menjadi penengah yang bijaksana.

Jangan karena membela ibu, lalu istri disakiti.

Jangan juga karena membela istri, lalu ibu ditelantarkan.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang membuat salah satu pihak kalah.

Tetapi rumah tangga yang berusaha memberikan setiap orang haknya secara adil.

Dan di sinilah kedewasaan seorang suami diuji.

Bukan dengan memilih siapa yang paling penting.

Tetapi dengan mengetahui apa hak masing-masing dan bagaimana menunaikannya dengan cara yang baik. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *