Mewujudkan Makna Rabb dalam Mendidik Anak

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Foto: Freepik

KETIKA membaca firman Allah:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

kita sering memahami Rabb hanya sebagai “Tuhan”. Padahal, kata Rabb mengandung makna yang jauh lebih luas: pemilik, pengelola, pemelihara, dan pendidik.

Di dalam makna Rabb terkandung proses mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu menuju keadaan yang lebih sempurna secara bertahap.

Dari sini orang tua dapat belajar sesuatu yang sangat penting:

Mendidik anak bukan pekerjaan membuat anak menjadi seperti yang kita inginkan dalam waktu singkat. Mendidik adalah proses menumbuhkan, menjaga, memelihara, mengarahkan, dan mendampingi anak secara bertahap hingga potensi yang Allah berikan kepadanya berkembang dengan baik.

Allah adalah Rabb, Pendidik Seluruh Alam

Allah menyebut diri-Nya:

رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Rabb semesta alam.

Tidak ada satu pun makhluk Allah yang terlepas dari pemeliharaan-Nya.

Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Allah memelihara binatang.

Allah mengatur perjalanan benda-benda langit.

Allah menjaga manusia sejak masih berada di dalam rahim, kemudian lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak-anak, hingga menjadi manusia dewasa.

Semuanya berlangsung melalui proses.

BACA JUGA: Memupuk Keberanian Anak

Tidak ada tumbuhan yang langsung menjadi pohon besar.

Tidak ada bayi yang langsung menjadi orang dewasa.

Semuanya tumbuh sedikit demi sedikit.

Inilah salah satu pelajaran penting dari makna Rabb bagi orang tua.

Anak juga harus dididik secara bertahap.

Orang tua tidak boleh menuntut hasil pendidikan seolah-olah anak adalah mesin yang dapat langsung berubah setelah diberi nasihat.

Anak membutuhkan waktu.

Anak membutuhkan pengulangan.

Anak membutuhkan keteladanan.

Anak membutuhkan kesabaran.

Dan anak membutuhkan pendampingan.

Rabb Mengajarkan kepada Kita Seni Menumbuhkan

Allah tidak menciptakan manusia dalam keadaan langsung sempurna.

Seorang bayi lahir dalam keadaan lemah.

Ia belum mampu berjalan.

Belum mampu berbicara.

Belum mampu makan sendiri.

Belum mampu membedakan banyak hal.

Namun Allah memberinya kemampuan untuk tumbuh.

Hari demi hari ia belajar.

Berdiri.

Berjalan.

Berbicara.

Berpikir.

Memahami.

Kemudian berkembang menjadi manusia dewasa.

https://s.shopee.co.id/9AMNV2PCRN

Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan.

Anak yang hari ini belum mampu mengendalikan emosinya bukan berarti selamanya akan seperti itu.

Anak yang hari ini belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik bukan berarti tidak akan mampu.

Anak yang hari ini masih sering lupa berdoa bukan berarti tidak akan menjadi anak yang dekat dengan Allah.

Tugas orang tua adalah membantu proses pertumbuhan itu.

Bukan mematahkan prosesnya dengan kemarahan dan tuntutan yang berlebihan.

Mendidik Bukan Sekadar Mengajar

Ada perbedaan antara mengajar dan mendidik.

Mengajar mungkin berarti memberikan pengetahuan.

Tetapi mendidik jauh lebih luas.

Mendidik berarti:

menumbuhkan, menjaga, memelihara, mengarahkan, melatih, dan membentuk kebiasaan.

Anak bukan hanya perlu tahu bahwa salat itu wajib.

Ia perlu dibimbing untuk mencintai salat.

Anak bukan hanya perlu tahu bahwa berkata jujur itu benar.

Ia perlu dilatih untuk berkata jujur ketika berhadapan dengan situasi yang sulit.

Anak bukan hanya perlu tahu bahwa Allah Maha Melihat.

Ia perlu dibimbing agar memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukannya.

Inilah pendidikan yang bertahap.

Jangan Menuntut Buah Sebelum Menanam

Orang tua kadang melihat perilaku anak hari ini lalu menginginkan hasil yang sempurna.

Anak baru belajar satu hal, tetapi langsung dituntut menguasainya.

Anak baru belajar mengendalikan emosi, tetapi langsung diminta tidak pernah marah.

Anak baru belajar disiplin, tetapi langsung dituntut selalu tertib.

Padahal Allah sendiri mengajarkan kepada kita melalui ciptaan-Nya bahwa pertumbuhan membutuhkan proses.

Petani tidak memarahi benih karena belum menjadi pohon.

Ia menyiramnya.

Ia menjaganya.

Ia memberikan nutrisi.

Ia membersihkan lingkungan di sekitarnya.

Ia menunggu.

Demikian pula anak.

Orang tua perlu lebih banyak menumbuhkan daripada menuntut.

Rabb Berarti Memelihara

Makna Rabb juga mengandung pemeliharaan.

Anak membutuhkan perlindungan.

Bukan hanya perlindungan fisik, tetapi juga perlindungan hati, pikiran, akhlak, dan lingkungan pergaulannya.

Orang tua perlu memperhatikan:

Apa yang dilihat anak?

Apa yang didengar anak?

Dengan siapa anak bergaul?

Apa yang menjadi kebiasaannya?

Apa yang sedang memenuhi pikirannya?

Apa yang sedang membentuk karakternya?

Karena pendidikan tidak hanya berlangsung ketika orang tua sedang memberikan nasihat.

Lingkungan juga mendidik.

Teman mendidik.

Media mendidik.

Kebiasaan mendidik.

Apa yang berulang kali dilihat dan dilakukan anak dapat perlahan membentuk dirinya.

Karena itu, orang tua bukan hanya perlu mengajarkan nilai yang benar, tetapi juga membangun lingkungan yang membantu anak mencintai dan menjalankan nilai tersebut.

Rabb Berarti Menjaga

Seorang anak tidak selalu mampu menjaga dirinya sendiri.

Karena itu, orang tua perlu menjadi penjaga.

Ketika anak masih kecil, penjagaan itu mungkin berupa:

“Jangan bermain di tempat berbahaya.”

“Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu.”

“Jangan berkata kasar.”

“Jangan menonton sesuatu yang belum pantas untukmu.”

Namun seiring pertumbuhan anak, bentuk penjagaan harus berubah.

Orang tua perlahan mengajarkan anak kemampuan menjaga dirinya sendiri.

Inilah salah satu tujuan pendidikan.

Ketika masih kecil, anak dijaga oleh orang tua.

Ketika semakin besar, anak belajar menjaga dirinya karena kesadaran kepada Allah.

Maka pendidikan yang berhasil bukanlah anak yang hanya baik ketika diawasi.

Pendidikan yang lebih dalam adalah ketika anak tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada orang tua di dekatnya.

Rabb Berarti Mengembangkan Potensi

Allah memberikan kepada setiap makhluk kemampuan yang sesuai dengan kehidupannya.

Burung diberi kemampuan terbang.

Ikan diberi kemampuan hidup di air.

Tumbuhan diberi kemampuan tumbuh dan berkembang.

Manusia diberikan akal, hati, kemampuan belajar, kemampuan memilih, dan berbagai potensi lainnya.

Maka orang tua perlu berhati-hati agar tidak menjadikan anak sekadar proyek ambisi pribadi.

Anak bukan tempat untuk mewujudkan semua cita-cita orang tua.

Tugas orang tua adalah membantu anak menemukan, mengembangkan, dan mengarahkan potensi yang Allah berikan kepadanya kepada kebaikan.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Anak saya harus menjadi apa?”

Tetapi tanyakan juga:

“Bagaimana saya membantu anak ini tumbuh menjadi hamba Allah yang baik?”

Setiap Anak Membutuhkan Cara yang Berbeda

Karena setiap manusia memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda, cara mendidiknya pun tidak selalu sama.

Ada anak yang mudah memahami nasihat.

Ada yang lebih mudah belajar melalui contoh.

Ada yang membutuhkan pengulangan.

Ada yang membutuhkan pendekatan lembut.

Ada yang perlu diberi kesempatan mencoba.

Ada yang harus dibantu mengendalikan emosinya.

anak laki-laki
Foto: Islampos AI

Karena itu, orang tua perlu mengenal anaknya.

Jangan mendidik hanya berdasarkan perbandingan dengan anak lain.

Kalimat:

«“Lihat kakakmu!”»

atau

«“Lihat anak orang lain!”»

sering kali tidak menyelesaikan masalah.

Orang tua perlu melihat:

Siapa anak ini? Apa kebutuhannya? Apa kelemahannya? Apa potensinya? Bagaimana cara terbaik membimbingnya?

Mendidik adalah seni membaca proses pertumbuhan anak.

Jangan Lupa: Orang Tua Bukan Rabb bagi Anak

Di sinilah makna Rabb memberikan pelajaran tauhid yang sangat penting.

Orang tua memang memiliki amanah untuk mendidik anak.

Tetapi orang tua bukan pemilik mutlak anak.

Anak adalah makhluk Allah.

Allah-lah Rabb seluruh alam.

Karena itu, orang tua hanya menjalankan amanah dari Allah.

Kita mendidik, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

Kita mengajarkan, tetapi Allah yang membuka hati.

Kita memberi teladan, tetapi Allah yang memberi hidayah.

Kita berusaha, tetapi hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.

Kesadaran ini membuat orang tua tidak mudah sombong ketika anak berhasil dan tidak mudah putus asa ketika anak menghadapi kesulitan.

Mendidik Anak dengan Sabar

Jika Allah mendidik makhluk-Nya melalui proses yang bertahap, maka orang tua juga perlu belajar bersabar terhadap proses pertumbuhan anak.

Hari ini anak melakukan kesalahan.

Besok dia diingatkan.

Lusa dia mungkin mengulangi kesalahan.

Orang tua kembali membimbing.

Kemudian perlahan anak mulai memahami.

Inilah pendidikan.

Bukan sekali nasihat langsung berubah.

Bukan sekali hukuman langsung menjadi baik.

Bukan sekali pelajaran langsung menjadi sempurna.

Pendidikan adalah proses yang panjang.

Karena itu, orang tua perlu memiliki kesabaran yang panjang pula.

Dari “Menuntut” Menjadi “Menumbuhkan”

Makna Rabb mengubah cara kita melihat anak.

Daripada terus bertanya:

“Mengapa anak saya belum seperti yang saya inginkan?”

lebih baik bertanya:

“Apa yang dapat saya lakukan agar anak saya bertumbuh satu langkah lebih baik hari ini?”

Daripada mengatakan:

“Kamu harus bisa!”

kita dapat mengatakan:

“Mari kita belajar bersama.”

Daripada hanya menghukum kesalahan, kita membantu anak memahami kesalahannya.

Daripada hanya memerintah, kita memberi contoh.

Daripada hanya menuntut hasil, kita menghargai proses.

Karena mendidik berarti menumbuhkan.

BACA JUGA: Kecerdasan Anak, Cerminan Kepedulian Seorang Ibu

“Rabb” dan Amanah Orang Tua

Ketika membaca:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

kita tidak hanya sedang belajar tentang siapa Allah.

Kita juga sedang belajar bagaimana seharusnya manusia menjalankan amanahnya.

Allah adalah Rabb, Pendidik seluruh alam.

Sedangkan orang tua adalah hamba yang diberi amanah untuk mendidik anak.

Maka tugas orang tua bukan menjadikan anak sempurna dalam sekejap.

Tugasnya adalah:

menumbuhkan ketika ia belum mampu,

mengajarkan ketika ia belum tahu,

membimbing ketika ia tersesat,

menjaga ketika ia lemah,

melatih ketika ia belum terbiasa,

menegur ketika ia salah,

dan mendoakan ketika hasilnya belum terlihat.

Semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa anak adalah amanah Allah.

Sebab mendidik anak pada hakikatnya adalah menemani sebuah proses pertumbuhan.

Dan sebagaimana Allah Rabbul ‘Ālamīn memelihara seluruh alam dengan penuh hikmah, orang tua pun dipanggil untuk belajar menumbuhkan anak dengan ilmu, kesabaran, kasih sayang, keteladanan, dan doa. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *