Diselamatkan Gajah karena Komitmennya

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

IBRAHIM Al-Khawash Ash-Shufi berkisah bahwa ia pernah naik kapal laut bersama sejumlah kaum sufi. Di tengah lautan, kapal kami pecah. Dengan menggunakan papan kayu, beberapa orang di antara kami selamat.

Kami terdampar di suatu pantai yang tak kami kenali. Selama beberapa hari, kami bertahan di sana tanpa bekal makanan. Kami merasa, ajal sudah di pelupuk mata. Kami akan mati kepalaran.

Kami berkata satu sama lain, “Marilah kita berdoa kepada Allah. Kita mohon padanya agar selamat dari musibah ini.”

Sebagian orang berkata, “Aku akan puasa selamanya.”

Yang lain berkata, “Setiap hari aku akan shalat sekian rakaat.”

“Mintalah pada Allah, agar diberi kenikmatan dunia. Mintalah apa yang kalian mau. Aku akan diam saja.”

BACA JUGA: Tahun Gajah yang Diabadikan Al-Qur’an

Mereka menoleh ke arahku. Mereka berkata kepadaku, “Kamu orang terakhir yang harus berdoa. Katakan sesuatu!”

Aku berkata, “Aku tak akan pernah makan daging gajah selamanya.”

Mereka berkata kepadaku, “Dalam keadaan seperti ini, ucapanmu itu tak memiliki arti apa-apa.”

Aku berkata, “Demi Allah, aku tak bermaksud bercanda. Setiap kalian telah berjanji pada Allah. Saat kalian bicara, aku memikirkan banyak kenikmatan. Hatiku mengatakan, aku tidak bisa meninggalkan kenikmatan-kenikmatan yang ada dalam benakku. Tiada satu kenikmatan pun yang sanggup aku tinggalkan demi menghamba pada Allah. Tiada yang bisa kutinggalkan kecuali apa yang baru saja kuucapkan. Aku berkata demikian tentu ada maksudnya.”

Beberapa saat kemudian, seorang di antara kami berkata, “Mengapa kita tidak berkeliling di sekitar tempat ini? Siapa tahu kita akan mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan. Siapa saja yang mendapatkan makanan, ia harus berbagi dengan yang lainnya. Kita berpencar, dan bertemu lagi di bawah pohon ini.”

Kami berjalan berpencar. Beberapa saat kemudian, kami bertemu lagi di tempat yang dijanjikan. Salah seorang di antara kami membawa anak gajah. Untuk sejenak kami berdebat, hingga sebagian besar dari kami memutuskan untuk memakan anak gajah itu. Mereka menyembelih anak gajah itu dan membakarnya. Mereka duduk di sana sambil menyantap daging anak gajah.

Aku berkata kepada mereka, “Kalian tahu, baru saja aku bersumpah takkan pernah menyantap daging gajah. Janji itu kuucapkan karena Allah. Aku tidak akan mencabut sumpahku. Barangkali hal ini akan menjadi penyebab kematianku, karena beberapa hari ini aku sudah tak menyantap sesuap makanan pun. Aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Kalau aku mati, paling tidak aku tidak pernah melanggar sumpah yang kuucapkan atas nama Allah.”

https://s.shopee.co.id/9fJETsTwwy

Kemudian, aku menjauh dari mereka. Kulihat mereka makan dengan lahap.

Malam pun datang. Aku bergeser posisi ke arah cabang pohon yang besar. Beberapa malam sebelumnya, aku tidur di situ. Sementara para temanku mencari lokasi masing-masing untuk tidur.

Belum lama kami merebahkan badan, tiba-tiba kami dengar suara keras sekali. Seekor gajah besar datang dengan langkah-langkah berat menggoncang bumi. Rupanya mereka sedang mencari kami.

Seorang kawan berkata, “Ajal kita telah datang. Bacalah syahadat!”

Kami semua mulai membaca istighfar dan tasbih. Wajah kami semua tegang.

Gajah besar itu mendatangi satu per satu kawan-kawan kami. la mengendus semua badan kawan kami, satu demi satu. la injak mereka satu per satu, hingga badan mereka hancur. Gajah itu meninggalkan jasad kawan kami begitu ia tahu mangsanya sudah mati. Selesai membunuh mangsanya, ia mencari mangsa lain. Begitu seterusnya.

Kini yang tersisa hanyalah aku. Aku duduk bersandar pada pohon, menyaksikan kejadian mengerikan itu. Aku memohon ampunan Allah, dan membaca tasbih sebanyak-banyaknya.

Gajah besar itu mendatangiku. Saat gajah sudah dekat, aku baringkan badanku dengan posisi telentang. la mengendusi badanku seperti yang ia lakukan pada kawan-kawanku. Ia mengendusku dua atau tiga kali. Hal itu tidak dilakukannya pada mereka. Saat itu rohku seakan melayang meninggalkan badanku, karena begitu takutnya perasaanku.

Gajah membelitkan belalainya ke tubuhku, lalu mengangkatku tinggi-tinggi. Aku duga ia akan membunuhku. Kubaca istighfar dengan suara keras. la melipat belalainya, lalu menempatkanku di atas punggungnya. Kini posisiku duduk tegak di atas punggung gajah. Aku berusaha agar posisi tubuhku seimbang.

Gajah berjalan. Kadang berlari-lari kecil, kadang berlari kencang. Aku memuji Allah karena Dia telah mengakhirkan kematianku. Iya, aku memang ingin hidup lebih lama lagi. Kadang, aku bayangkan gajah marah dan membunuhku. Aku biasakan diri membaca istighfar. Saat itu aku merasa takut, juga merasakan sakit karena kencangnya lari gajah. Badanku sakit karena tergoncang keras oleh gerakannya yang cepat. Gerakan gajah memang luara biasa keras.

Aku masih berada di atas punggung gajah, hingga terbit fajar dan cahanya menyinari tempat di sekitarku. Saat itu, ia melipatkan belalainya ke tubuhku. Aku berkata dalam hati, “Kematian sudah dekat.”

BACA JUGA: Seekor Anjing yang Menyebabkan Ribuan Mongolia Masuk Islam

Aku semakin memperbanyak istighfar. Tetapi bayanganku itu hanyalah sekedar bayangan. Gajah justru menurunkanku dari punggungnya dengan gerakan lembut. Ia letakkan badanku di atas tanah. la kembali ke tempat asalnya, meninggalkanku sendirian. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kualami.

Setelah bayangan gajah menghilang, dan tidak mendengar suara lagi, aku sujud tersungkur kepada Allah. Aku baru bangun dari sujudku, saat aku merasa hangatnya sinar matahari menerpa badanku.

Aku baru sadar, sekarang aku berada di sebuah jalan besar. Aku berjalan sejauh dua farsakh. Aku telah tiba di sebuah desa besar.

Penduduk desa itu heran melihat keberadaanku. Mereka mena-nyakan kisahku. Kuberitahu mereka apa yang telah menimpa kami.

Menurut perkiraan mereka, gajah itu telah membawaku pergi jauh dengan jarak perjalanan seharian penuh jika dilakukan oleh manusia. Dalam anggapan mereka, keselamatanku adalah suatu keajaiban.

Aku tinggal di desa mereka sampai keadaanku benar-benar pulih. Kutinggalkan desa itu dengan menumpang pada rombongan kafilah dagang. Allah menganugerahkan keselamatan, hingga aku sampai di negeri asalku. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *