RADANG tenggorokan mungkin terlihat seperti keluhan sederhana, tetapi bagaimana kalau hampir setiap bulan seseorang mengalaminya? Tenggorokan terasa sakit saat menelan, terasa kering atau gatal, kemudian beberapa hari berikutnya muncul batuk, pilek, demam, atau suara menjadi serak. Kalau kondisi seperti ini terus berulang, jangan hanya menganggapnya sebagai masuk angin biasa karena ada berbagai kemungkinan penyebab yang perlu diperhatikan.
Pada dasarnya, sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi virus, termasuk virus yang menyebabkan flu dan pilek. Kebanyakan kasus membaik sendiri dalam waktu sekitar satu minggu dan tidak membutuhkan antibiotik. Namun, jika keluhan terus berulang hampir setiap bulan, penyebabnya belum tentu selalu infeksi yang sama.
BACA JUGA: Saat Radang Tenggorokan, Boleh Ga Sih Minum Kopi Sachet?
Salah satu kemungkinan adalah seseorang memang sering terpapar virus. Orang yang banyak beraktivitas di tempat ramai, sering berinteraksi dengan orang yang sedang sakit, atau tinggal bersama anggota keluarga yang mudah terkena infeksi saluran pernapasan dapat lebih sering mengalami sakit tenggorokan. Kebiasaan menyentuh wajah tanpa mencuci tangan juga dapat meningkatkan peluang masuknya kuman ke tubuh.
Penyebab lainnya adalah alergi. Debu, serbuk sari, jamur, bulu hewan, atau pemicu alergi lainnya dapat menimbulkan keluhan pada hidung dan tenggorokan. Lendir dari hidung yang mengalir ke belakang tenggorokan atau postnasal drip juga dapat membuat tenggorokan terus mengalami iritasi.
Karena itu, seseorang yang merasa “sering radang tenggorokan” perlu memperhatikan apakah keluhannya selalu disertai pilek, bersin, hidung tersumbat, atau rasa gatal pada hidung. Kalau gejala tersebut muncul berulang terutama ketika terpapar debu atau lingkungan tertentu, alergi bisa menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa. Mengobati tenggorokannya saja tanpa menangani pemicunya dapat membuat keluhan mudah muncul kembali.
Asap rokok juga bisa menjadi penyebab yang sering tidak disadari. Tidak hanya perokok aktif, orang yang sering terpapar asap rokok dari lingkungan sekitar juga dapat mengalami iritasi tenggorokan. Selain itu, polusi udara, debu, bahan kimia tertentu, dan udara yang terlalu kering juga dapat membuat tenggorokan terasa sakit atau mengganjal.
Ada pula kemungkinan masalah asam lambung atau GERD. Asam dari lambung yang naik ke kerongkongan dapat menyebabkan tenggorokan teriritasi, bahkan pada sebagian orang keluhannya lebih terasa sebagai suara serak, rasa mengganjal, atau tenggorokan tidak nyaman. Jika sakit tenggorokan sering muncul bersamaan dengan rasa panas di dada, asam atau makanan terasa naik ke tenggorokan, atau suara serak, masalah refluks layak dipertimbangkan.
Kebiasaan menggunakan suara secara berlebihan juga dapat berperan. Orang yang sering berbicara keras, berteriak, bernyanyi, atau berbicara dalam waktu lama dapat mengalami ketegangan pada area tenggorokan. Kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa tenggorokannya sakit meskipun penyebabnya bukan infeksi.
Penyebab lain yang juga perlu dipikirkan adalah infeksi bakteri tertentu, misalnya infeksi Streptococcus grup A atau strep throat. Namun, infeksi ini sebenarnya hanya menyebabkan sebagian kecil kasus sakit tenggorokan; CDC memperkirakan sekitar 1 dari 10 orang dewasa dengan sakit tenggorokan mengalami strep throat. Gejalanya dapat berupa sakit tenggorokan yang muncul cepat, nyeri saat menelan, demam, amandel merah dan membengkak, serta pembengkakan kelenjar di leher.
Jadi, jangan langsung menganggap setiap sakit tenggorokan membutuhkan antibiotik. Antibiotik tidak bermanfaat untuk sakit tenggorokan akibat virus, sedangkan infeksi bakteri tertentu memang dapat membutuhkan antibiotik setelah dilakukan penilaian dan pemeriksaan yang sesuai. Penggunaan antibiotik tanpa indikasi justru bukan kebiasaan yang baik dan sebaiknya dihindari.
Kalau hampir setiap bulan mengalami keluhan tersebut, sebaiknya mulai mencatat kapan radang muncul dan apa saja gejala yang menyertainya. Perhatikan apakah sebelumnya kurang tidur, sedang banyak beraktivitas, terpapar debu atau asap rokok, mengalami pilek dan bersin, mengonsumsi makanan tertentu, atau mengalami gejala asam lambung. Catatan sederhana seperti ini dapat membantu dokter mencari pola dan kemungkinan penyebabnya.
Untuk mengurangi risiko, beberapa kebiasaan sederhana juga dapat dilakukan. Rajin mencuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, tidak berbagi alat makan atau minum, menghindari asap rokok, menjaga tubuh tetap terhidrasi, dan cukup beristirahat dapat membantu menjaga kesehatan saluran pernapasan. Jika udara sangat kering, menjaga kelembapan udara juga dapat membantu mengurangi iritasi tenggorokan.
Saat tenggorokan mulai terasa sakit, minum cukup cairan dan beristirahat dapat membantu meredakan keluhan. Berkumur dengan air garam hangat juga dapat membantu menenangkan tenggorokan pada orang dewasa dan anak di atas usia 6 tahun yang mampu berkumur lalu membuang airnya. Namun, langkah tersebut hanya membantu meredakan gejala dan tidak menggantikan pemeriksaan jika keluhan terus berulang.
Yang paling penting, radang tenggorokan yang berulang jangan terus-menerus dianggap sepele. Mayo Clinic mencantumkan sakit tenggorokan yang sering kambuh sebagai salah satu alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama jika keluhan menetap atau disertai gejala lain. Pemeriksaan dapat membantu membedakan apakah penyebabnya infeksi berulang, alergi, iritasi, refluks, atau kondisi lainnya.
Segera mencari pertolongan medis jika sakit tenggorokan disertai kesulitan bernapas atau sulit menelan. Pemeriksaan juga diperlukan bila terdapat darah dalam air liur atau dahak, dehidrasi, demam tinggi, benjolan di leher, suara serak yang berlangsung lama, atau sakit tenggorokan yang berat dan tidak membaik.
BACA JUGA: Kenapa Kamu Kena Radang Tenggorokan?
Jadi, kalau hampir setiap bulan terkena “radang tenggorokan”, jangan hanya bertanya obat apa yang bisa diminum. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang membuat kondisi tersebut terus berulang? Bisa jadi penyebabnya bukan karena tubuh selalu terkena infeksi baru, melainkan alergi, paparan asap atau polusi, kebiasaan tertentu, refluks asam lambung, atau faktor lain yang belum diketahui.
Pada akhirnya, sakit tenggorokan yang sesekali terjadi adalah hal yang umum. Tetapi jika frekuensinya sangat sering sampai hampir setiap bulan, kondisi tersebut layak diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat. Jangan terus-menerus mengobati gejalanya tanpa mencari akar masalahnya, karena tenggorokan yang berulang kali bermasalah bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

