Qutaibah dan Laksamana Cheng Ho: Pembebas dan Pendakwah Daratan Cina

Nasrulloh Baksolahar
12 Min Read
Foto: Islampos AI

SEJARAH penyebaran Islam di Asia tidak dibentuk oleh satu tokoh, satu ekspedisi, atau satu cara. Ada masa ketika kekuatan militer membuka jalan bagi perluasan kekuasaan Islam. Ada pula masa ketika perdagangan, diplomasi, pelayaran, dan interaksi sosial menjadi penghubung antara dunia Islam dan masyarakat yang berbeda kebudayaan.

Qutaibah bin Muslim dan Laksamana Cheng Ho merupakan dua tokoh yang hidup dalam zaman berbeda, tetapi keduanya dapat ditempatkan dalam gambaran besar hubungan Islam dengan kawasan Asia. Qutaibah bergerak dari Asia Barat menuju Asia Tengah melalui ekspansi militer pada awal abad kedelapan. Sementara itu, Cheng Ho memimpin ekspedisi maritim dari Cina menuju berbagai pelabuhan Asia dan Afrika pada awal abad kelima belas.

Keduanya memiliki latar belakang, tujuan, dan cara kerja yang berbeda. Namun, melalui kisah mereka, kita dapat merenungkan bagaimana kekuasaan, keyakinan, diplomasi, dan perjumpaan antarmasyarakat ikut membentuk perjalanan sejarah Islam.

Qutaibah bin Muslim: Ekspansi hingga Perbatasan Cina

Qutaibah bin Muslim merupakan salah satu panglima utama Dinasti Umayyah dalam perluasan kekuasaan Islam ke Asia Tengah. Ia diangkat menjadi gubernur Khurasan pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, dengan dukungan penting dari Al-Hajjaj bin Yusuf.

Dalam berbagai ekspedisinya, Qutaibah menghadapi tantangan geografis, perlawanan penguasa setempat, dan perubahan persekutuan politik. Ia memimpin pasukan melintasi kawasan Sungai Jihun atau Amu Darya, menaklukkan sejumlah wilayah penting, termasuk Bukhara dan Samarkand, lalu bergerak menuju kawasan Sungai Sihun atau Syr Darya dan Fergana.

BACA JUGA:  Mengapa Gua Hira Menjadi Titik Awal Perubahan Sejarah?

Keberhasilannya tidak hanya bergantung pada kekuatan pasukan. Dukungan pemerintahan pusat, kemampuan membaca situasi politik, dan kecakapan bernegosiasi turut memengaruhi jalannya ekspedisi.

Surat Al-Walid dan Keteguhan Qutaibah

Ketika Al-Hajjaj meninggal dunia, Qutaibah kembali ke Merv. Ia meninggalkan pasukannya di Bukhara, Kush, dan Nasaf sambil menunggu keputusan berikutnya.

Khalifah Al-Walid memahami eratnya hubungan antara Al-Hajjaj dan Qutaibah. Ia mengetahui bahwa Al-Hajjaj memiliki peran besar dalam mendukung operasi militer sang panglima. Karena itu, Al-Walid berusaha meneguhkan Qutaibah melalui sebuah pesan yang berisi pengakuan, motivasi, dan dorongan untuk melanjutkan perjuangan.

Al-Walid mengatakan:

«”Amirul Mukminin memahami kondisimu dan kesungguhanmu dalam berjihad melawan musuh-musuh kaum Muslimin. Amirul Mukminin mengangkatmu dan melakukan apa yang pantas buatmu. Maka sempurnakanlah perjuanganmu. Tunggulah pahala dari Tuhanmu. Jangan sampai surat-suratmu tidak ada untuk Amirul Mukminin. Seolah-olah aku melihat negerimu dan tapal batas tempat kamu berada.”»

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Pesan tersebut memberikan penguatan kepada Qutaibah. Ia kembali melanjutkan ekspedisinya dengan sasaran Kashgar, sebuah kota di kawasan Xinjiang sekarang yang oleh Ath-Thabari disebut sebagai kota terdekat dengan wilayah Cina.

Namun, ketika Qutaibah berada di Fergana, berita wafatnya Al-Walid pada 96 H sampai kepadanya. Pergantian khalifah merupakan perubahan politik yang dapat memengaruhi keberlangsungan ekspedisi. Meskipun demikian, Qutaibah meneruskan perjalanannya hingga mencapai Kashgar.

Diplomasi di Perbatasan Cina

Menurut riwayat yang dinukil Ath-Thabari, penguasa Cina meminta agar Qutaibah mengirimkan sejumlah orang terbaik dari kalangan kaum Muslimin. Mereka hendak ditanyai mengenai keadaan kaum Muslimin dan agama yang mereka anut.

Qutaibah kemudian memilih sejumlah utusan. Sebagian riwayat menyebutkan sepuluh orang, sedangkan riwayat lain menyebutkan dua belas orang. Mereka dipimpin oleh Hubairah bin Al-Masymaraj Al-Kilabi.

Dalam pertemuan tersebut, penguasa Cina mengancam akan mengirimkan pasukan untuk menghancurkan kaum Muslimin. Hubairah menjawab ancaman itu dengan penuh keberanian. Ia mempertanyakan anggapan bahwa pasukan Qutaibah kecil, padahal jangkauan ekspedisinya telah mencapai wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan Islam.

Ketika penguasa Cina bertanya tentang hal yang dapat memuaskan Qutaibah, Hubairah menjelaskan bahwa panglimanya telah bersumpah tidak akan kembali sebelum menginjakkan kaki di tanah mereka, memberikan tanda kekuasaan, dan menerima jizyah.

Menurut riwayat tersebut, penguasa Cina kemudian menawarkan penyelesaian simbolis. Ia mengirimkan tanah dari negerinya, hadiah berupa sutera dan emas, serta beberapa orang dari kalangan putra keluarga kerajaan. Qutaibah menerima jizyah, memberikan cap kepada mereka, dan menginjakkan kakinya pada tanah yang dikirimkan.

Kisah ini menggambarkan bagaimana keberanian militer dan diplomasi dapat berinteraksi dalam hubungan antarkekuasaan. Akan tetapi, riwayat tersebut tidak berarti bahwa seluruh wilayah Cina telah ditaklukkan. Ekspedisi Qutaibah mencapai kawasan perbatasan, bukan ibu kota atau keseluruhan wilayah kekaisaran.

Ketika Keberhasilan Militer Tidak Menjamin Keberhasilan Politik

Kisah Qutaibah juga menyimpan pelajaran lain. Setelah Al-Walid wafat, hubungan sang panglima dengan khalifah baru, Sulaiman bin Abdul Malik, memburuk. Sebelumnya, Qutaibah pernah mendukung perubahan susunan putra mahkota dengan mengusulkan agar Sulaiman digantikan oleh Abdul Aziz bin Al-Walid.

Ketika Sulaiman naik takhta, Qutaibah mencurigai bahwa dirinya akan dicopot dari jabatan. Kecurigaan itu mendorongnya mengambil langkah pemberontakan. Pada akhirnya, ia terbunuh setelah sebagian pasukannya berbalik melawannya pada 96 H.

Tragedi tersebut memperlihatkan bahwa kecakapan di medan perang tidak selalu menjamin keberhasilan dalam menghadapi perubahan politik. Seorang panglima dapat memenangkan banyak pertempuran, tetapi tetap menghadapi kehancuran ketika kepercayaan, perhitungan, dan hubungan dengan pusat kekuasaan tidak terjaga.

Foto: chengho.org

Warisan Qutaibah terutama terletak pada perannya dalam memperluas kekuasaan Islam di Asia Tengah. Adapun perkembangan kawasan tersebut menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam berlangsung melalui proses panjang yang melibatkan banyak generasi, ulama, pedagang, penguasa, dan lembaga pendidikan.

Laksamana Cheng Ho: Diplomasi Melalui Jalur Laut

Berabad-abad setelah ekspedisi Qutaibah, muncul seorang tokoh Muslim dari Cina yang dikenal luas di kawasan Asia, yaitu Zheng He atau Laksamana Cheng Ho.

Cheng Ho lahir pada 1371 di Yunnan dengan nama Ma He. Ia berasal dari keluarga Muslim. Ketika Dinasti Ming memperluas kekuasaannya ke Yunnan, ia menjadi tawanan dan kemudian dibawa ke lingkungan istana. Di sana, ia menjalin hubungan dengan Zhu Di, pangeran yang kelak menjadi Kaisar Yongle.

Setelah Zhu Di naik takhta, Cheng Ho memperoleh kepercayaan untuk memimpin ekspedisi maritim. Pada 1405, ia memulai pelayaran besar yang kemudian berlangsung dalam tujuh ekspedisi hingga 1433.

Armada Cheng Ho menjangkau berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara, India, Sri Lanka, Jazirah Arab, dan pesisir Afrika Timur. Ekspedisi tersebut melibatkan banyak kapal, pelaut, pejabat, penerjemah, dan diplomat.

Berbeda dari ekspedisi Qutaibah yang bertumpu pada pergerakan pasukan darat, pelayaran Cheng Ho mengandalkan kekuatan armada laut. Misi-misinya berkaitan dengan kepentingan politik Dinasti Ming, hubungan diplomatik, perdagangan, serta penguatan kedudukan Cina dalam jaringan maritim internasional.

Perjumpaan dengan Dunia Islam

Sebagai seorang Muslim, Cheng Ho membawa latar belakang keagamaan yang menghubungkannya dengan sejumlah komunitas Muslim di sepanjang jalur pelayaran. Dalam ekspedisinya, ia juga didampingi tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan tentang bahasa dan kebudayaan masyarakat yang mereka kunjungi.

Salah satunya adalah Ma Huan, seorang Muslim yang menguasai bahasa Arab dan menuliskan pengamatan tentang berbagai masyarakat yang ditemuinya. Catatannya, Ying-yai Sheng-lan, menjadi salah satu sumber penting untuk mempelajari kawasan Samudra Hindia pada masa itu.

Kehadiran Cheng Ho di berbagai pelabuhan memperlihatkan bahwa hubungan antara Cina dan dunia Islam tidak berlangsung hanya melalui konflik atau perebutan wilayah. Hubungan tersebut juga dibangun melalui perdagangan, diplomasi, pertukaran pengetahuan, dan perjumpaan budaya.

Di Asia Tenggara, komunitas Muslim telah tumbuh melalui beragam jalur jauh sebelum ekspedisi Cheng Ho. Karena itu, perannya tidak tepat dipahami sebagai satu-satunya pembawa Islam ke kawasan ini. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah hubungan maritim Cina dengan masyarakat Muslim di Asia Tenggara.

Pengaruh ekspedisi Cheng Ho terhadap perkembangan Islam di kawasan ini perlu dipahami secara proporsional. Pelayarannya berlangsung dalam konteks hubungan politik dan perdagangan yang luas, sedangkan perkembangan komunitas Muslim melibatkan proses yang lebih panjang dan beragam.

Kekuatan Laut dan Warisan Sejarah

Cheng Ho memimpin ekspedisi dalam skala besar pada masa Dinasti Ming. Armada tersebut menunjukkan kemampuan organisasi, navigasi, logistik, dan diplomasi yang maju pada zamannya.

Namun, seperti halnya Qutaibah, sejarah Cheng Ho tidak dapat dilepaskan dari perubahan politik. Setelah Kaisar Yongle wafat, kebijakan Dinasti Ming terhadap ekspedisi maritim berubah. Pelayaran besar yang pernah menjadi kebanggaan istana tidak lagi mendapat dukungan yang sama.

Cheng Ho wafat sekitar akhir ekspedisi ketujuhnya, pada 1433 atau tidak lama sesudahnya, menurut perbedaan pendapat mengenai akhir hayatnya.

Namanya tetap dikenang di berbagai wilayah Asia Tenggara. Kisahnya menjadi bagian dari sejarah hubungan Cina dengan masyarakat setempat, termasuk komunitas Muslim. Namun, pengaruhnya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari jaringan sejarah yang lebih luas, bukan sebagai penjelasan tunggal atas penyebaran Islam di kawasan tersebut.

BACA JUGA:

Dua Tokoh, Dua Jalur, Satu Pelajaran Sejarah

Qutaibah bin Muslim dan Laksamana Cheng Ho hidup dalam rentang waktu yang terpaut sekitar tujuh abad. Mereka tidak menjalankan misi yang sama, tidak bergerak melalui jalur yang sama, dan tidak berada dalam struktur kekuasaan yang sama.

Qutaibah memimpin ekspansi darat Dinasti Umayyah menuju Asia Tengah dan perbatasan Cina. Cheng Ho memimpin armada maritim Dinasti Ming yang menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan dan masyarakat di Asia serta Afrika.

Perbedaan itu memperlihatkan bahwa sejarah hubungan Islam dengan Asia tidak dapat diringkas menjadi satu pola. Ada wilayah yang mengalami perubahan kekuasaan melalui penaklukan. Ada pula wilayah yang mengenal Islam melalui perdagangan, migrasi, perkawinan, pendidikan, dan dakwah.

Dari Qutaibah, kita dapat merenungkan pentingnya keteguhan, kemampuan militer, dan hubungan antara kepemimpinan dengan kekuasaan politik. Dari Cheng Ho, kita dapat melihat arti diplomasi, kemampuan maritim, dan perjumpaan antarkebudayaan dalam membangun hubungan lintas wilayah.

Keduanya juga mengingatkan bahwa pengaruh seorang tokoh tidak selalu dapat diukur hanya dari luas wilayah yang dicapai atau besarnya armada yang dipimpin. Sejarah peradaban dibentuk oleh proses yang jauh lebih panjang daripada usia seorang panglima atau seorang laksamana.

Penyebaran Islam di Asia merupakan kisah tentang beragam manusia, perjalanan, dan perjumpaan. Kekuatan politik dapat membuka ruang bagi perubahan, tetapi keberlangsungan suatu peradaban membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan. Ia memerlukan ilmu, kelembagaan, hubungan sosial, dan kemampuan meneruskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya.

Di situlah pelajaran reflektif dari Qutaibah dan Cheng Ho: sejarah bukan hanya tentang sejauh mana manusia mampu melangkah, melainkan juga tentang bagaimana langkah itu membentuk kehidupan setelah mereka tiada. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *