SETIAP Muslim yang beriman tentu berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalat yang khusyuk, sedekah yang tulus, puasa yang sabar, hingga doa-doa yang penuh harap; semua itu dilakukan dengan satu tujuan: meraih ridha dan cinta-Nya. Namun, bagaimana kita tahu apakah amal ibadah kita diterima atau tidak?
Dalam Islam, tidak ada satu pun manusia yang bisa memastikan secara mutlak bahwa amalnya diterima. Namun, para ulama salaf memberikan tanda-tanda dan petunjuk yang dapat menjadi cermin untuk kita introspeksi. Di antara tanda tersebut adalah rasa takut dan harap yang seimbang. Sebab, orang-orang shaleh terdahulu selalu khawatir amalan mereka tidak diterima, meskipun mereka telah beramal dengan sungguh-sungguh.
Seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
“Hendaklah kalian lebih mengkhawatirkan tertolaknya amal daripada sedikitnya amal. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Ma’idah: 27)?”
BACA JUGA: 7 Keutamaan Dzikir Laa Ilaaha Illaallah
Ucapan ini memberi kita pelajaran penting bahwa diterimanya amal ibadah sangat bergantung pada ketakwaan dan keikhlasan hati. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar sekalipun bisa menjadi sia-sia. Allah Ta’ala hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Selain itu, tanda lain bahwa amal diterima adalah ketika setelah beramal, hati kita semakin tunduk dan taat kepada Allah. Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan berikutnya. Jika Allah menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal shalih lainnya.”
Artinya, jika setelah shalat kita merasa semakin semangat untuk berdzikir, setelah sedekah kita semakin dermawan, atau setelah membaca Al-Qur’an kita semakin mencintai petunjuk-Nya, itu adalah pertanda baik. Sebaliknya, jika setelah beramal hati kita menjadi sombong, riya’, atau merasa cukup, itu bisa jadi pertanda amal kita belum diterima.
Selain keikhlasan dan kesesuaian dengan sunnah, para ulama juga mengingatkan pentingnya menjaga amalan dari penyakit hati seperti ujub (merasa bangga dengan amal sendiri) dan sum’ah (ingin didengar atau dipuji orang lain).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)
Di antara nasihat emas ulama salaf, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata: “Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada niatku. Karena niat itu terus berbolak-balik.”
BACA JUGA: Shalat Dhuha, Sebaiknya Dilakukan di Jam Ini
Niat yang lurus adalah kunci utama agar amal diterima. Oleh sebab itu, penting bagi kita selalu memperbarui niat, memohon pertolongan Allah agar dijauhkan dari riya’ dan ujub, serta selalu berdoa agar amal kita diterima.
Terakhir, mari kita tanamkan dalam hati doa yang sering dipanjatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah membangun Ka’bah:
“Rabbana taqabbal minna, innaka Antas-Sami’ul-‘Alim”
(“Ya Rabb kami, terimalah dari kami [amal ini], sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”) (QS. Al-Baqarah: 127)
Dengan terus memperbaiki hati, menjaga niat, mengikuti sunnah, serta selalu berharap dan takut kepada Allah, insya Allah amal ibadah kita lebih dekat untuk diterima. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima semua amal ibadah kita. Aamiin.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
