Babe Benyamin S, Betawi, dan Nilai-nilai Islam yang Dia Bawa

8 Min Read
Foto: Deviant Art @ariecool

DI sepanjang sejarah kesenian Indonesia, nama Benyamin Sueb—atau akrab disapa Benyamin S—selalu memiliki tempat istimewa. Bukan hanya sebagai seniman besar yang mewarnai perfilman dan musik tanah air, tetapi juga sebagai sosok yang merepresentasikan kebanggaan identitas Betawi yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Sosoknya menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara budaya lokal dan akhlak Islami yang membumi dalam kesehariannya.

Benyamin S lahir di Kemayoran, Jakarta, pada 5 Maret 1939. Dari kecil, ia tumbuh di lingkungan yang kental dengan suasana kampung Betawi yang religius. Seperti banyak keluarga Betawi lain pada masanya, keluarganya pun memegang teguh ajaran Islam. Ayahnya, Husin, adalah seorang pengusaha rokok rumahan yang juga dikenal taat beribadah. Kehidupan keluarga yang sederhana, penuh keakraban, dan dekat dengan masjid menjadi bagian penting yang membentuk pribadi Benyamin.

Bagi masyarakat Betawi, Islam bukan sekadar agama, tetapi juga ruh kehidupan. Nilai-nilai Islam tercermin dalam tradisi, bahasa sehari-hari, hingga kesenian. Sejak kecil, Benyamin terbiasa mendengar lantunan ayat suci di surau, menghadiri pengajian kampung, serta menyaksikan peringatan Maulid Nabi dan tradisi selametan. Semua pengalaman ini terekam dalam benak Benyamin dan kelak menjadi sumber inspirasinya sebagai seniman.

Sebagai seniman multitalenta, Benyamin dikenal dengan gayanya yang lugas, humoris, dan merakyat. Namun, di balik kelucuannya, ia selalu membawa pesan moral dan nilai-nilai Islam. Lihatlah dalam lirik-lirik lagunya yang kerap berisi nasihat untuk hidup sederhana, bersyukur, menjauhi mabuk-mabukan, judi, dan sifat sombong. Salah satunya adalah lagu “Ampunan” yang sarat makna religius, mengingatkan manusia akan pentingnya memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang diperbuat.

Selalu Jadi Orang Baik

Dalam film-film yang dibintanginya, karakter Benyamin hampir selalu menjadi cerminan sosok Betawi yang dekat dengan agama: orang baik yang sering jadi korban keadaan, tetapi tetap sabar dan tawakal. Film seperti Benyamin Biang Kerok misalnya, menampilkan karakter yang walau sering terlibat masalah, hatinya masih terikat pada nilai-nilai kejujuran dan kepedulian kepada sesama. Inilah cerminan akhlak Islami yang begitu melekat pada karakter masyarakat Betawi—dan Benyamin menjadikannya hidup di layar lebar.

Benyamin juga terkenal sebagai pribadi yang tetap bersahaja meskipun sudah menjadi bintang besar. Ia tidak pernah memamerkan kekayaannya. Rumahnya pun masih di kawasan Kemayoran, dekat dengan kampung masa kecilnya. Dari sini, kita melihat bagaimana nilai qana’ah—menerima apa adanya dan merasa cukup—menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Nilai ini sangat ditekankan dalam Islam, dan Benyamin mencontohkannya melalui keseharian, bukan sekadar ucapan.

Tak hanya di karya dan keseharian, Benyamin pun turut berkontribusi dalam mempopulerkan budaya Betawi yang penuh unsur Islami. Salah satunya adalah lenong Betawi, yang dalam sejarahnya selalu dibuka dengan doa dan selawat, serta diakhiri dengan nasihat moral. Ia kerap tampil membawakan lenong bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah yang halus. Sebab bagi masyarakat Betawi, kesenian memang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan.

Nilai-nilai Islam juga tampak jelas dari humor Benyamin yang santun. Ia jarang sekali melucu dengan cara melecehkan orang lain atau berkata kasar. Humornya menghibur tanpa harus menghina, mencela, atau mengundang dosa. Dalam budaya Betawi, ini disebut “ngakak beradab”—tertawa yang tetap menjaga akhlak. Nilai ini selaras dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ yang selalu mencontohkan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain, bahkan dalam bercanda.

Dermawan Diam-diam

Benyamin juga punya kepedulian sosial yang tinggi. Ia sering mengadakan kegiatan amal untuk membantu warga kurang mampu. Tak banyak yang tahu, ia kerap memberikan donasi diam-diam, tanpa publikasi. Dalam Islam, infaq dan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memang lebih utama, karena murni lillahi ta’ala, bukan demi pujian manusia.

Kesuksesan Benyamin tidak membuatnya melupakan asal usul dan agamanya. Justru semakin sukses, ia semakin merasa punya tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan budaya Betawi beserta nilai-nilai Islam di dalamnya kepada generasi muda. Ini tercermin dari pernyataannya dalam beberapa wawancara, bahwa ia ingin budaya Betawi terus hidup, “asal jangan lepas dari akarnya,” katanya. Dan akar itu tak lain adalah Islam.

Betawi sebagai entitas budaya memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh Islam. Sejak abad ke-17, dakwah para ulama seperti Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus (Habib Luar Batang) sudah menanamkan nilai-nilai Islam dalam keseharian masyarakat Betawi. Tradisi seperti peringatan Maulid, tahlilan, marawis, hingga rebana adalah wujud harmonisasi antara seni dan dakwah. Benyamin lahir dan besar dalam suasana seperti ini, sehingga tak heran ia pun mewarisi semangat tersebut.

Uniknya, Benyamin tak pernah merasa perlu memisahkan antara seniman dan seorang muslim. Baginya, menjadi seniman adalah jalan untuk menghibur sekaligus mengingatkan. Ini sejalan dengan pesan beberapa ulama salaf bahwa hiburan yang mubah, jika disertai niat baik, bisa menjadi sarana dakwah dan amal kebaikan.

Sebagai seniman, Benyamin juga menjaga lisan. Ia sangat jarang berkata kotor, meskipun terkenal sebagai komedian. Ini menjadi teladan penting di era sekarang, di mana humor sering kali disajikan dengan cara menghina, memaki, atau melecehkan. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tanpa banyak bicara soal dalil, Benyamin sudah mencontohkannya dalam karya dan sikapnya.

Selain itu, lagu-lagunya sering mengandung pesan kesadaran akan kefanaan hidup. Misalnya dalam lagu “Biang Kerok,” ada nada satir tentang kesombongan manusia yang tak sadar akan kematian. Sementara di lagu “Pungli,” Benyamin menyinggung perilaku korupsi, yang jelas dilarang dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa uang haram tidak akan membawa berkah. Semua pesan ini disampaikan dengan cara yang ringan dan jenaka, tetapi tetap mengena.

BACA JUGA: Terlena, Puisi Renungan dari Buya Hamka

Akhir Hidup

Benyamin S wafat pada 5 September 1995 karena serangan jantung setelah bermain sepak bola. Wafatnya menjadi duka mendalam, terutama oleh masyarakat Betawi yang merasa kehilangan bukan sekadar seorang seniman, tetapi juga ikon yang menjaga martabat budaya mereka. Bahkan hingga kini, dua dekade lebih setelah kepergiannya, karya-karyanya tetap hidup dan terus dinikmati lintas generasi.

Warisan Benyamin adalah warisan yang unik: ia mengajarkan bahwa budaya, agama, dan seni tidak perlu dipertentangkan. Islam memberi ruang yang luas bagi seni, selama tidak melanggar syariat dan tetap membawa nilai kebaikan. Ia menunjukkan bahwa menjadi muslim yang taat bukan berarti harus kaku; kita tetap bisa berkarya, menghibur, dan bermanfaat bagi orang lain.

Melalui sosok Benyamin S, kita belajar bahwa Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga soal akhlak, kesederhanaan, humor yang santun, dan kepedulian sosial. Kita juga belajar bahwa budaya lokal seperti Betawi bisa menjadi kendaraan untuk menebarkan nilai-nilai Islami dengan cara yang menyenangkan.

Akhirnya, Benyamin S tak hanya milik Betawi, tetapi juga milik semua orang yang merindukan seni yang menghibur sekaligus menuntun. Ia adalah contoh bagaimana menjadi seniman sejati: menghibur, mendidik, dan tetap rendah hati di hadapan Sang Pencipta. Dan di balik semua tawa yang ia hadirkan, sesungguhnya ia sedang mengingatkan kita pada hal paling penting dalam hidup: iman, amal, dan akhlak. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *