BAYANGKAN seorang teknisi Muslim berdiri di tengah padang gurun Maroko, di antara ribuan panel surya yang menyerap cahaya matahari. Di sela teriknya udara dan deru angin panas, ia bertanya dalam hati: “Jika Rasulullah ﷺ hidup di masa ini, apakah beliau akan mendukung energi terbarukan?”
Pertanyaan itu terdengar modern, bahkan mungkin aneh. Tapi justru di situlah letak kekuatannya: ia menggugah kesadaran bahwa ajaran Nabi tidak terbatas pada waktu dan tempat, melainkan memberi kita prinsip hidup lintas zaman. Termasuk di antaranya: bagaimana kita memperlakukan bumi, alam, dan energi.
Benar, Nabi tidak pernah menyebut istilah seperti “listrik bersih”, “panel surya”, atau “emisi karbon”. Tapi apakah itu berarti beliau tidak berbicara soal energi dan keberlanjutan? Atau justru, ajaran beliau menyimpan fondasi ekologis yang jauh lebih kokoh daripada jargon teknologi kita hari ini?
Mari kita telusuri jejak Rasul dalam memperlakukan alam—dan bagaimana Islam memberi petunjuk dalam krisis energi global yang sedang kita hadapi hari ini.
1. Sebuah Alarm Ekologis Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
Ayat ini terasa seperti pernyataan konferensi iklim, bukan wahyu dari 14 abad silam. Ia bukan ayat simbolik. Ia menunjukkan relasi langsung antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.
Kerusakan ekosistem hari ini—banjir, kekeringan, panas ekstrem, polusi—adalah akibat dari kerakusan dalam mengambil energi dari bumi tanpa tanggung jawab. Maka, transisi menuju energi terbarukan bukan hanya agenda ilmiah, tapi juga perintah tauhid: kembali tunduk pada aturan Allah tentang menjaga ciptaan-Nya.
2. Hadis Rasul: Etika Energi dalam Satu Tegukan
Salah satu sabda Nabi yang paling sering dikutip dalam isu lingkungan adalah: “Janganlah kalian boros menggunakan air, meskipun kalian berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
Air adalah bentuk energi. Ia menggerakkan tubuh, tanaman, dan bahkan peradaban. Hadis ini menyampaikan pesan yang luar biasa: bahkan di tengah kelimpahan, Islam mengajarkan kendali.
Dan kendali inilah yang hilang dari pola konsumsi energi manusia modern. Kita menyalakan AC sepanjang hari, membiarkan lampu menyala di masjid kosong, berkendara sendiri dengan mobil besar untuk jarak 1 kilometer. Kita hidup boros… dan menyebutnya “gaya hidup urban.”
Nabi Muhammad ﷺ bukan ahli lingkungan hidup dalam pengertian teknis, tapi dalam hal etika terhadap makhluk.
Salah satu hadis paling terkenal menyebut: “Jangan berlebihan menggunakan air, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
Air adalah bentuk energi. Air adalah kekuatan. Bahkan saat melimpah, kita dilarang boros. Ini pelajaran pertama tentang efisiensi energi dari Rasulullah.
Dalam hadis lain, beliau bersabda: “Seandainya kiamat tiba, dan di tangan kalian ada biji kurma, maka tanamlah ia.”
Apa maknanya?
Nabi mengajarkan bahwa ekologi bukan sekadar soal hasil langsung. Tapi soal tanggung jawab. Bahkan jika dunia akan hancur, tetap tanam. Tetap rawat. Tetap berbuat. Itulah bentuk kesetiaan pada amanah lingkungan.
Padahal Nabi ﷺ hidup dalam kesederhanaan energi—tidak karena keterbatasan zaman, tapi karena kesadaran ruhani bahwa bumi bukan milik kita.
3. Jika Kiamat Datang, Tanamlah Biji Kurma Itu
Satu hadist agung lainnya berbunyi: “Jika kiamat datang dan di tangan kalian ada biji kurma, tanamlah itu meskipun kalian tahu dunia akan berakhir.”
Ini bukan soal pertanian. Ini adalah falsafah ekologis.
Dalam logika manusia modern, menanam saat kiamat adalah tindakan sia-sia. Tapi dalam logika langit, itu adalah bentuk penghambaan tertinggi: berbuat kebaikan bukan karena hasil, tapi karena kesetiaan pada amanah menjaga bumi.
Itulah mengapa dalam Islam, perbuatan kecil terhadap lingkungan bukan hanya soal pahala dunia—tapi juga pembuktian iman terhadap amanah khilafah.
4. Warisan Peradaban Islam: Teknologi Ramah Lingkungan
Di masa Abbasiyah, teknologi lingkungan bukan ide asing.
Di Kordoba, rumah-rumah Muslim menggunakan ventilasi silang dan atap lengkung untuk memaksimalkan cahaya tanpa listrik.
Sistem irigasi “qanat” dari Persia menyuplai air secara efisien, tanpa perlu energi listrik.
Di Madinah, Rasul ﷺ menetapkan zona hima (kawasan konservasi) yang tidak boleh dieksploitasi untuk penggembalaan.
Para ilmuwan seperti Al-Jazari dan Al-Razi menciptakan alat pemompa air dan kincir angin untuk irigasi tanpa merusak tanah.
Mereka mungkin belum mengenal istilah “energi bersih”, tapi nilai dan sistem yang mereka bangun jauh lebih hijau dari banyak kota hari ini.
5. Kenapa Kita Boros Padahal Sudah Tahu?
Sains modern sudah menjelaskan:
Bahan bakar fosil menghasilkan 89% emisi karbon global.
Energi surya dan angin kini menjadi sumber listrik termurah di dunia.
Dunia akan melampaui ambang krisis iklim jika tak segera beralih ke energi bersih.
Tapi ironisnya, negara-negara Muslim—dari Arab Saudi, UEA, sampai Indonesia—masih bergantung besar pada minyak dan batu bara. Bahkan di tengah azan dan ayat-ayat yang dikumandangkan, asap pabrik tetap membubung ke langit.
Kita menyebut diri “khalifah fil ardh”—tapi bersikap seperti pemilik tunggal bumi yang bebas merusak sesuka hati.
6. Masjid, AC, dan Konsumsi Listrik Tak Bertauhid
Lihat masjid-masjid kita hari ini. Megah, dingin, dan boros. AC menyala tanpa jamaah. Lampu hidup 24 jam. Tak jarang, dibangun di atas kawasan hijau yang ditebang demi estetika.
Pertanyaannya: apakah itu bentuk syiar? Atau bentuk kelalaian?
Padahal Rasulullah membangun masjid Quba dengan material lokal, ventilasi alami, dan pencahayaan dari cahaya matahari. Tidak ada mimbar emas. Tidak ada kubah listrik.
Beliau mengajarkan bahwa keindahan rumah Allah adalah pada kesederhanaan dan fungsinya menjaga kehidupan, bukan kemewahannya.
Dalam Islam, alam bukan benda mati. Ia bertasbih, seperti disebut dalam Surah Al-Isra:44: “Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka.”
Jika gunung dan laut bertasbih, maka menyakiti mereka adalah bentuk perusakan terhadap makhluk yang tunduk pada Tuhan.
Energi terbarukan adalah cara manusia mengambil secukupnya dari alam tanpa memaksanya keluar dari jalur tasbih.
Ketika kita mengebor bumi, meledakkan tambang, dan membakar minyak, kita memaksa bumi berteriak. Maka hadirnya energi bersih adalah cara manusia menyesuaikan diri dengan ritme semesta.
7. Tafsir Tematik: Energi dalam Pandangan Ulama
Tafsir Al-Misbah oleh Prof. Quraish Shihab menyebut bahwa ayat-ayat tentang “tumbuh-tumbuhan”, “air hujan”, dan “angin” tidak hanya metaforis, tapi petunjuk tentang pentingnya keberlanjutan.
Ibnu Ashur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir bahkan menafsirkan bahwa frasa “fîhâ ma’âsyukum” (di bumi ada penghidupan bagi kalian) adalah dorongan untuk menjaga dan mengelola bumi secara bijak.
Sayangnya, tafsir seperti ini jarang diajarkan di pengajian. Lebih sering kita sibuk membahas khilafiyah hukum salat tarawih, tapi lupa bahwa menggunakan motor boros bensin tanpa perlu juga akan dimintai pertanggungjawaban.
8. Dialog Fiktif: Ulama Hijrah vs Aktivis Hijau
👤 Aktivis Hijrah: “Yang penting niat, bro. Allah kan lihat hati.”
🌱 Aktivis Hijau Muslim: “Tapi bumi juga lihat jejak karbonmu.”
👤 Ustaz Digital: “Energi terbarukan itu proyek globalis. Hati-hati.”
🌱 Ilmuwan Muslim: “Lalu apakah Rasulullah juga globalis saat menyuruh tanam pohon saat kiamat?”
9. Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?
Gunakan kendaraan publik atau berbagi tumpangan
Matikan alat elektronik saat tidak digunakan
Dorong masjid-masjid menggunakan panel surya (wakaf hijau)
Ajak komunitas Muslim membahas “kebijakan energi” dalam kajian
BACA JUGA: Rahasia Menjaga Energi Tubuh Setelah Begadang
Dorong pemuka agama untuk menyuarakan krisis iklim dari mimbar Jumat
Kurangi konsumsi produk berbasis minyak (plastik, fast fashion, dll)
Karena jihad hari ini tidak cukup dengan ceramah dan slogan. Ia harus turun ke bumi. Ke jalan. Ke panel surya. Ke perubahan gaya hidup.
Jadi, apakah Nabi pernah bicara soal energi terbarukan?
Tidak secara teknis, tapi sangat jelas secara prinsip.
Ajaran beliau adalah sistem etika terhadap bumi. Sistem spiritual terhadap energi. Dan sistem cinta terhadap ciptaan Allah yang tak bersuara—seperti angin, air, dan cahaya.
Hari ini, kita tidak kekurangan dalil. Kita hanya kekurangan keberanian untuk menghidupkannya dalam kehidupan modern.
Maka mari mulai dari yang kecil. Dari rumah. Dari masjid. Dari tombol off di stop kontak. Karena yang kecil dari banyak orang, lebih baik daripada yang besar dari segelintir orang.
Jika kiamat tiba dan kita masih memegang biji kurma, tanamlah.
Jika langit mendung karena karbon, tetap bukalah jendela kesadaran.
Dan jika umat lupa bahwa bumi adalah titipan, maka jadilah pengingat—bukan pelupa. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
