SEBUAH masjid suci, tempat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, terbakar hebat. Dan yang terbakar bukan hanya kayu dan bangunan, tapi sejarah, harga diri kaum muslimin, dan juga perasaan jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Tepat pada tahun 1969, Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam, dibakar seorang pria bernama Denis Michael Rohan. Pertanyaannya, apa latar belakang dan motif pelaku? Apakah ada dalang besar di baliknya?
Sejarah Singkat Masjid Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa, yang terletak di Kota Tua Yerusalem, adalah masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ia memiliki nilai spiritual, sejarah, dan teologis yang sangat tinggi dalam Islam.
Masjid Al-Aqsa disebut secara langsung dalam Surah Al-Isra’ ayat 1, ketika Allah menyebutkan perjalanan Isra’ Mi’raj:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…” (QS. Al-Isra: 1)
Peristiwa ini menandai bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat persinggahan Nabi Muhammad SAW sebelum naik ke langit atau Mi’raj. Di tempat inilah beliau menjadi imam bagi para nabi terdahulu, menegaskan peran Al-Aqsa sebagai simbol kesatuan risalah kenabian.
Sebelum Allah memerintahkan untuk menghadap Ka’bah di Mekkah, umat Islam sholat menghadap ke arah Masjid Al-Aqsa. Ini berlangsung sekitar 17 bulan setelah hijrah Nabi SAW ke Madinah.
Menurut banyak riwayat, Masjid Al-Aqsa adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram. Dalam hadits riwayat Bukhari, Abu Dzar bertanya kepada Nabi SAW:
“Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di bumi?”
Nabi SAW menjawab, “Masjidil Haram.”
“Lalu yang kedua?”
Nabi SAW menjawab, “Masjid Al-Aqsa.”
“Berapa lama jarak waktu antara keduanya?”
“Empat puluh tahun.” (HR. Bukhari)
Sepanjang sejarah Islam, Al-Aqsa menjadi simbol perlawanan dan perjuangan. Umar bin Khattab membuka Yerusalem pada tahun 637 M dan menjaga tempat suci itu dengan penuh hormat. Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Aqsa dari Tentara Salib pada tahun 1187 M. Hingga hari ini, Al-Aqsa tetap menjadi simbol solidaritas umat Islam terhadap Palestina dan penjagaan atas warisan nabi-nabi.
Namun bagi umat Yahudi, lokasi Masjid Al-Aqsa saat ini adalah area yang mereka sebut sebagai Temple Mount — yang diyakini sebagai tempat berdirinya dua Bait Suci dalam sejarah Yahudi.
Bagi kalangan Yahudi Ortodoks dan Zionis religius, Temple Mount adalah lokasi paling suci.
Beberapa kelompok ekstremis bahkan bercita-cita membangun kembali Kuil Ketiga di atas tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa saat ini — inilah yang menjadi sumber ketegangan besar.
Namun, otoritas agama Yahudi seperti Rabbinate Israel sebenarnya melarang umat Yahudi memasuki Temple Mount, karena kesucian tanah itu dan ketidaktahuan lokasi tepatnya “ruang maha kudus” (Holy of Holies) di masa lalu.
BACA JUGA: Golda Meir di Hari Pembakaran Al-Aqsa
Situasi Politik Sebelum Tragedi
Sejak pertengahan abad ke-20, wilayah Palestina telah menjadi medan konflik akibat penjajahan oleh imigran Yahudi yang didukung oleh gerakan Zionisme internasional. Pada tahun 1948, Israel kemudian mendeklarasikan kemerdekaan, yang memicu perang Arab-Israel pertama.
Ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka — peristiwa ini dikenal sebagai Nakbah (“malapetaka”). Yerusalem pun dibagi dua wilayah: Yerusalem Barat dikuasai Israel. Yerusalem Timur (termasuk Masjid Al-Aqsa) dikuasai Yordania.
Ketegangan antara negara-negara Arab dan Israel pun semakin meningkat, terutama menyangkut status Yerusalem yang dianggap suci oleh tiga agama besar.
Pada Juni 1967, Israel melancarkan serangan militer mendadak terhadap Mesir, Suriah, dan Yordania. Hasilnya sangat menentukan. Israel berhasil menguasai Tepi Barat, dan Yerusalem Timur dari Yordania. Gaza dan Sinai dari Mesir. Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Sejak saat itu, Masjid Al-Aqsa berada di bawah kendali militer Israel, meskipun secara administratif tetap dikelola oleh Waqf Islam Yordania. Inilah momen krusial yang mengubah segalanya.
Setelah Perang Enam Hari, umat Islam di seluruh dunia cemas dengan masa depan Al-Aqsa. Kelompok Zionis religius ekstrem menyerukan pembangunan kembali Bait Suci Yahudi (Third Temple) di atas Temple Mount — lokasi Al-Aqsa sekarang.
Slogan-slogan seperti “The Temple will rise again” mulai muncul di koran dan kampanye diam-diam. Banyak tokoh Yahudi ultra-Ortodoks melihat Perang 1967 sebagai tanda “turunnya Mesias” — dan membangun kembali kuil adalah bagian dari nubuatan. Sementara itu, umat Muslim melihat ini sebagai upaya Yahudi untuk merampas dan menghancurkan Al-Aqsa secara perlahan.
Siapa Denis Michael Rohan?

Dalam situasi yang panas dan tak menentu ini, muncullah orang seperti Denis Michael Rohan, seorang Kristen fanatik asal Australia. Ia percaya bahwa membakar Al-Aqsa akan mempercepat kedatangan Yesus (The Second Coming). Ia menyusup ke dalam kompleks masjid dengan membawa bensin, dan membakar bagian penting dari Al-Aqsa, termasuk Mimbar Salahuddin Al-Ayyubi. Peristiwa memilukan ini terjadi dalam pusaran ketegangan ideologis, politik, dan keagamaan yang sedang memuncak.
Denis Michael Rohan adalah seorang petani yang berasal dari keluarga Kristen Protestan di pedesaan Australia. Ia adalah seorang pria yang memiliki keyakinan yang sangat ekstrem dan obsesi keagamaan yang membara. Rohan menganut ajaran Kristen Evangelis yang sangat fundamentalis dan apokaliptik. Ia percaya bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali (Second Coming) sudah dekat. Namun menurut tafsir ekstrem yang ia anut, Yesus tidak akan kembali sampai Bait Suci Yahudi (Third Temple) dibangun kembali di Yerusalem. Masjid Al-Aqsa, yang berdiri di atas Temple Mount (lokasi Kuil Sulaiman menurut tradisi Yahudi), dianggapnya sebagai penghalang nubuatan. Dengan kata lain, membakar Masjid Al-Aqsa adalah, menurutnya, cara untuk mempercepat datangnya “kerajaan Tuhan di bumi”
Kebakaran dan Kekacauan

Di dalam ruang utama Masjid Qibli, bagian selatan dari kompleks Al-Aqsa, Denis Michael Rohan dengan hati-hati menyiramkan bensin ke atas karpet dan tiang-tiang kayu. Ia kemudian menyalakan api — dan dalam hitungan detik, kobaran api membesar, menjilat pilar-pilar berusia ratusan tahun, menyebar cepat ke arah mimbar utama. Sasaran utamanya: Mimbar Salahuddin Al-Ayyubi— mimbar bersejarah yang diletakkan di Al-Aqsa setelah kemenangan kaum Muslimin atas Tentara Salib pada tahun 1187.
Begitu api mulai membesar, asap tebal hitam mengepul ke udara. Kepanikan pecah. Para penjaga dan petugas Waqf yang melihat asap dari luar langsung berteriak minta tolong. Warga Palestina dari sekitar Kota Tua berlarian menuju kompleks masjid. Tidak ada petugas pemadam kebakaran Israel yang datang cepat — klaim warga saat itu mengatakan bahwa mereka ditunda dengan sengaja.
Beberapa warga membentuk rantai manusia, mengoper air dari ember ke ember, mencoba memadamkan api dengan tangan kosong. Yang lain menyiram permadani dan pilar dengan air wudhu dari tempat pemandian, karena air utama juga terputus. Jeritan takbir dan tangis terdengar bersahutan. Di tengah api, Mimbar Salahuddin, simbol kemenangan Islam atas penjajahan Eropa, hangus terbakar.
Mimbar ini adalah hasil seni Islam dari Aleppo, Suriah. Dibuat tanpa paku, dari 6.000 potongan kayu ukiran rumit. Hadiah kemenangan Salahuddin untuk Yerusalem yang dibebaskan. Kini yang tersisa dari mimbar itu hanya arang dan abu.
Reaksi Dunia Islam
Ketika kabar pembakaran Masjid Al-Aqsa menyebar, umat Islam di seluruh dunia terhenyak. Dalam hitungan jam setelah insiden, media-media di Timur Tengah mulai memberitakan peristiwa itu dengan tajuk besar: ❝ Masjid Al-Aqsa Terbakar! — Mimpi Buruk Umat Islam Terjadi ❞.
Umat Islam shock, dan kebingungan. Bagaimana mungkin situs suci ketiga dalam Islam bisa dibakar di bawah pengawasan Israel? Apakah ini kecelakaan, sabotase, atau bagian dari agenda besar?
Dalam waktu 24 jam, berbagai negara Islam mengeluarkan pernyataan resmi keras:
Presiden Gamal Abdel Nasser mengecam keras dan menyatakan bahwa pembakaran itu adalah konsekuensi langsung dari pendudukan Israel atas Yerusalem Timur. Raja Faisal dari Arab Saudi menyatakan kesedihan mendalam dan menyerukan persatuan dunia Islam untuk membela tempat suci. Presiden Indonesia saat itu, Soeharto, melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman resmi, menyebut insiden itu sebagai “tindakan biadab yang melukai perasaan umat Islam sedunia.”
Dalam hari-hari setelah pembakaran, ribuan umat Islam turun ke jalan di berbagai negara seperti Mesir, Yordania, Indonesia, dan Pakistan.
BACA JUGA: Henry Kissinger, Raja Faisal, dan Keinginan Shalat 2 Rakaat di Al Aqsa
Pengadilan Rohan & Kontroversi
Setelah api berhasil dipadamkan oleh warga dan sebagian bantuan yang terlambat datang, aparat Israel akhirnya menangkap Denis Rohan. Namun yang mengejutkan publik, ia tidak diproses sebagai penjahat atau teroris. Dalam waktu singkat, Israel mengumumkan bahwa Rohan mengidap gangguan jiwa, dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Dunia Islam pun marah besar. Banyak yang menganggap ini adalah upaya menutupi fakta sebenarnya, dan meyakini bahwa pembakaran ini bukan tindakan individu gila semata, tapi bagian dari konspirasi lebih besar untuk menghancurkan situs suci Islam.
Warisan Luka Al-Aqsa
Setelah peristiwa pembakaran, Masjid Al-Aqsa akhirnya direnovasi. Tapi luka itu tidak pernah sembuh. Hingga hari ini, Al-Aqsa tetap jadi titik api konflik. Dan umat Islam terus berdoa agar tempat suci itu selalu dilindungi. Dan semoga Al Aqsa, Baitul Maqdis, dan Palestina segera dibebaskan dari cengkraman musuh-musuh Islam.
Meskipun pembakaran Masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969 adalah tragedi besar yang menyayat hati umat Islam, namun dari musibah itu, lahir pula berbagai pelajaran berharga dan hikmah yang mendalam bagi umat Islam hingga hari ini. Peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa adalah luka sejarah, tapi juga pintu kesadaran. Dari tragedi itu, umat Islam belajar untuk mengenal sejarahnya, untuk membela kesuciannya, dan untuk bersatu melawan kezaliman. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
