SETIAP malam Jumat, handphone penuh dengan notifikasi: “Kajian Ustadz X live di YouTube jam 20.00.” Dengan semangat membara, seseorang membuka YouTube, mendengarkan kalimat demi kalimat, ikut mengangguk-angguk, bahkan kadang sampai menangis. “Ya Allah, bener banget yang beliau bilang. Aku harus berubah.” Tapi begitu kajian selesai? Balik lagi scroll TikTok 2 jam, lalu ketiduran tanpa shalat Isya.
Fenomena ini bukan satu dua orang yang alami. Banyak dari kita yang semangat saat mendengarkan nasihat agama—entah lewat podcast, kajian, ceramah pendek, atau konten dakwah di TikTok. Tapi sayangnya, semangat itu sering hanya bertahan semalam. Besoknya, kita kembali ke pola hidup lama: shalat masih bolong, marah-marah di jalan, lisan masih suka nyeletuk yang nyakitin hati orang, dan Qur’an pun tetap jadi aplikasi yang jarang dibuka.
Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?
1. Semangat Tanpa Sistem = Cepat Hilang
Semangat itu seperti api. Kalau tidak dijaga, lama-lama padam. Begitu pula semangat spiritual. Mendengar ceramah bisa menyulut api keimanan sesaat, tapi kalau tidak diikuti dengan action plan, semangat itu akan hilang begitu saja. Dalam Islam, ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang ilmunya, sejauh mana ia mengamalkannya.” (HR. At-Tirmidzi)
BACA JUGA: 10 Cara Menjaga Iman agar Selalu Istiqamah
Jadi, ilmu itu tidak berhenti di catatan atau di highlight story. Tapi sejauh mana dia berdampak ke dalam kehidupan.
2. Karena Kita Terbiasa Mencari Sensasi, Bukan Perubahan
Ada yang bilang, manusia zaman sekarang sering ke pengajian karena butuh “healing,” bukan “training.” Mereka ingin merasa tenang, bukan berubah. Padahal, Islam bukan hanya tentang rasa nyaman, tapi juga tentang perjuangan memperbaiki diri. Kalau setiap kali habis kajian kita bilang, “Aduh, adem banget,” tapi gak pernah nanya, “Aku udah mengamalkan yang mana dari ini?”—maka kita mungkin hanya jadi penikmat, bukan pelaku.
Ibarat orang ke gym cuma buat selfie, bukan buat olahraga.
3. Kita Gak Pernah Catat dan Evaluasi
Salah satu trik agar ilmu nempel di kepala adalah dengan mencatat dan mengevaluasi. Tapi kebanyakan dari kita nonton kajian sambil rebahan, atau sambil main handphone. Padahal mencatat ilmu adalah tradisi mulia para salaf. Imam Ahmad bin Hanbal bahkan berkata: “Aku tidak menulis hadits kecuali aku sudah mengamalkannya, bahkan dalam satu hadits yang menyebutkan bahwa Nabi memakai siwak sebelum shalat, aku pun mempraktekannya dulu sebelum menulisnya.”
Coba bayangkan, kalau kita menulis poin-poin kajian lalu membuat to-do list kecil, mungkin perubahan akan lebih nyata terasa.
4. Lingkungan Tidak Mendukung
Setelah kajian selesai, kita kembali ke lingkungan yang penuh keluhan, ghibah, maksiat yang dinormalisasi, dan candaan yang menjauhkan dari Allah. Tanpa lingkungan yang menguatkan, semangat pun jadi kalah. Itulah mengapa ulama sering berpesan untuk menjaga teman, karena teman adalah cermin.
Seperti kata pepatah Arab: “Sahabat itu seperti penjual parfum atau pandai besi. Kalau engkau tidak mendapatkan wanginya, minimal engkau tidak bau.”
5. Godaan Dunia Memang Tidak Pernah Rehat
Setan tidak pernah cuti. Dunia selalu menawarkan “hiburan” yang lebih instan dan menyenangkan. Maka, jika tidak disiplin, ilmu yang masuk akan kalah cepat dengan hiburan yang lebih dulu menghibur.
Itulah mengapa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat oleh air.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dapat menjernihkannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Baihaqi)
BACA JUGA: Bagaimana Cara Mengetahui Amalan Kita Diterima?
Dari Kajian ke Aksi, Bukan Hanya Emosi
Mendengar ceramah dan merasa tersentuh bukanlah hal sia-sia. Itu adalah awal yang baik. Tapi awal yang baik akan sia-sia kalau tidak dilanjutkan dengan langkah berikutnya. Agar semangat itu tidak cuma hangat-hangat tahi ayam, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Catat dan Simpan: Gunakan buku khusus untuk menulis hikmah dari kajian. Baca ulang setiap pekan.
2. Buat Target Sederhana: Contoh, “Setelah kajian ini, aku akan jaga wudhu selama 3 hari berturut-turut.”
3. Gabung Grup Positif: Teman yang satu perjuangan akan saling menguatkan. Jangan sendirian.
4. Minta Didoakan: Minta pada orangtua atau sahabat agar didoakan agar istiqamah. Doa itu senjata terkuat.
5. Review Mingguan: Tanyakan pada diri sendiri, “Aku udah berubah di bagian mana sejak mendengar kajian itu?”
Kajian itu bukan tontonan. Ia adalah panggilan. Kalau Allah masih mengizinkan kita mendengar nasihat, berarti Allah belum menyerah pada kita. Tapi jangan terus-terusan jadi pendengar yang baik. Karena ilmu itu amanah. Dan amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Kata Imam Ibnul Qayyim: “Ilmu itu seperti pohon. Amal adalah buahnya. Jika kau melihat ilmu tanpa amal, maka itu hanya ilusi dari pohon tanpa akar.”
Yuk, mulai dari satu kajian, satu perubahan. Niatkan ikhlas. Jangan nunggu siap, karena hidayah tidak pernah datang ke hati yang menunggu, tapi ke hati yang mencari. []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
