Sultan Abdul Hamid II Ingin Jadi Tukang Sapu di Makam Nabi

Yudi
By Yudi
4 Min Read
Foto: Daily Sabah

ANGIN musim gugur bertiup lembut di pelataran Istana Yıldız, Istanbul. Dari kejauhan, terdengar bunyi ketukan halus—irama yang datang dari palu kecil memukul kayu. Di dalam sebuah ruangan sunyi di sudut istana, Sultan Abdul Hamid II duduk membungkuk di atas meja kerjanya, matanya tertuju pada tumpukan lidi kurma kering.

Sultan itu memang dikenal aneh bagi sebagian bangsawan—bukan karena kekuasaannya, tetapi karena kegemarannya bertukang. Bukan emas atau permata yang ia bentuk, melainkan kayu, anyaman, dan alat sederhana.

Ketukan pintu terdengar.

“Masuk,” ucapnya tanpa mengangkat kepala.

Seorang pelayan setia, Mustafa, melangkah masuk dengan ragu. Ia sudah puluhan tahun mengabdi, tapi tetap saja merasa segan tiap kali melihat sang Sultan bekerja sendiri.

“Maaf, Daulat Paduka… sedang membuat apa?” tanyanya pelan.

Sultan Abdul Hamid II hanya menjawab singkat, sambil mengikatkan seutas tali pada kumpulan lidi itu. “Sapu.”

Mustafa tertegun. “Sapu? Mengapa Daulat Paduka membuat sapu sendiri?”

Tak ada jawaban. Hanya suara gesekan lidi yang disusun rapi.

“Paduka… mengapa tidak memerintahkan pelayan lain saja untuk membuatnya?” lanjut Mustafa, hatinya dipenuhi rasa ingin tahu.

Sultan Abdul Hamid II mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menatap tajam namun penuh kehangatan. “Mustafa, apakah kau menganggap pekerjaan membuat sapu itu rendah?”

Pelayan itu tersentak. “Tidak, Daulat Paduka. Mohon maaf atas kelancangan hamba.”

“Ketahuilah,” kata Sultan Abdul Hamid II, kembali menunduk, “benda ini akan pergi ke tempat yang paling mulia. Maka, tanganku sendiri yang harus mengerjakannya.”

Mustafa menelan ludah. “Ke manakah sapu itu akan dibawa?”

Sultan tersenyum tipis, suaranya merendah seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Ke Madinah al-Munawwarah. Ke makam Nabi Muhammad ﷺ.”

Mustafa mematung. Ucapannya tercekat.

Sultan melanjutkan, suaranya mengalun lembut namun penuh getar. “Mustafa… andai saja aku bisa memilih, aku lebih memilih menjadi tukang sapu di makam beliau daripada menjadi sultan di negeri ini. Setiap hari berada di dekat beliau, menyapu, membersihkan, berdoa di raudhah… itu adalah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan tahta.”

Ia meletakkan sapu yang sudah jadi di atas meja. Jari-jarinya mengelus batang-batang lidi itu seolah sedang mengusap permata.

“Aku tak bisa selalu berada di sana. Tapi setidaknya… sapu ini akan sampai. Ia akan membersihkan tempat beliau, masjid beliau. Dan setiap seratnya adalah doa dan cintaku yang kuselipkan.”

BACA JUGA:  Si Pemabuk dan Pezina, ‘Jangan Takut, Sultan Murad IV dan Orang-orang Shaleh akan Menshalatkan Jenazahku’

Mustafa menunduk dalam. Ia tahu, di hadapannya duduk seorang raja yang hatinya telah menyerahkan diri pada Rasulullah ﷺ.

Sultan menutup pembicaraan itu dengan lirih, “Aku ingin suatu saat, ketika aku berdiri di hadapan beliau di akhirat, aku datang bukan sebagai sultan yang diagungkan manusia… tapi sebagai hamba yang rendah, yang pernah mengirimkan sapu sederhana untuk membersihkan tempat beliau.”

Di luar jendela, senja mulai turun di atas Istanbul. Di dalam bengkel kecil itu, sebuah sapu terbaring diam, tapi sarat dengan cinta yang akan mengarungi ribuan kilometer menuju kota suci Madinah. []

SUMBER

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *