Hidupmu Hanya untuk Ibadah. (Titik)

Dini Koswarini
3 Min Read
Foto: Freepik

Oleh: Ummu Zayta / Riza Febrita

COBA kita renungkan dan jujur terhadap diri sendiri. Apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Mau kemana sebenarnya setelah ini? Hanya untuk mengisi perut, bekerja cari uang, belanja, atau sekedar memenuhi kebutuhan fisik lainnya. Ataukah hanya untuk sholat, puasa, bersedekah, menuntut ilmu, serta kebutuhan ruhiyah lainnya?

Ternyata hanya satu tujuan penciptaan kita dari Sang Khalik yakni untuk beribadah kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-dzariyat: 56)

BACA JUGA: Jima dalam Pandangan Islam: Antara Nikmat, Ibadah, dan Kesehatan

Allah hadirkan kita ke dunia tak lain adalah untuk beribadah. Oleh karenanya manusia yang paling mulia di muka bumi adalah orang yang mampu mengkondisikan dirinya selalu dalam keadaan beribadah. Jangan dikira dan menganggap kita beribadah hanya ketika sholat, puasa, baca Al-Qur’an atau saat melakukan amalan yang bersifat ritual semata, lebih dari itu ternyata semua aktivitas yang bermanfaat, baik mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali yang kita niatkan untuk beribadah kepada Allah, atau untuk mendapatkan keridhoanNya dan mengharapkan wajahNya InsyaAllaah semua akan bernilai ibadah.

Mengasuh anak, memandikannya, memberi makannya, mendidik, membersihkan rumah, atau apa pun hal yang kita anggap ecek-ecek ternyata bernilai ibadah. Bahkan mengalahkan orang yang beramal besar tapi hatinya dipenuhi dengan merasa baik (ujub), hanya mencari pengakuan manusia (riya’) dan merendahkan orang lain (sombong) karena menganggap sudah beramal tinggi. Padahal Allah sama sekali tidak memandangnya, tak membutuhkannya, dan tidak ridho padanya.

Sehingga kita akan saksikan bahwa ada orang yang merasa sudah beribadah tapi ternyata tidak menjadi ibadah baginya, tidak mendapatkan pahala bahkan malah menjadi dosa karenanya.

Sebaliknya ada orang yang semua perbuatannya (yang kecil sekali pun) ternyata bisa bernilai ibadah baginya. (Dan Allah saja yang maha mengetahui.)

Ternyata kuncinya ada pada niat dan caranya (ittiba’/sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam).

BACA JUGA: Hidup Bahagia Versi Al-Qur’an

Niatnya untuk Allahkah? Atau untuk selainNya? Atau tak punya niat sama sekali yang mengalir tanpa arah.

Demikian juga cara melakukannya, sesuai dengan syari’at atau tidak. Karena sejatinya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sudah mempunyai seperangkat aturan yang sudah lengkap dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang wajib dipelajari manusia agar tak tersesat selamanya.

Itulah mengapa mindset awal dan pola pikir yang dibangun atas dasar iman itu berpengaruh terhadap output seseorang di dunia. Yang akan menjadi bekal pulang menghadap Rabbnya. Karena hidup ini hakikatnya hanya untuk mengumpulkan bekal ibadah yang akan dibawa pulang ke kampung akhirat yang kekal selamanya. Wallahu a’lam bishowab. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *